Anak era kelahiran tahun 80-an dan tahun 90-an pasti sudah tahu kasus ini. Kasus yang sempat heboh tahun 2010 silam. Kalau anak kelahiran 2000 dan 2010 diharapkan jangan tahu dulu ya dek! Karena belum cukup umur.

Hayo pada ngaku gak kalau kalian delapan tahun silam pernah nonton dua potongan video yang melibatkan Luna Maya dan Cut Tary serta satu pemeran pria Ariel Noah dalam adegan uhuk-uhuk. Atau minimal sekedar observasi karena kepo?

Kalau yang ndramus pasti bukan hanya sekedar nonton. Tapi juga pada mengawetkan filenya di flashdisk, komputer atau bahkan handphone untuk ditonton kembali diam-diam atau bahkan nonton bareng seperti nobar seru Piala Dunia. 

Kasus ini kembali menghangat lantaran pihak Lembaga Pengawasan dan Pengawalan Penegakan Hukum (LP3HI) mengajukan gugatan Pra Peradilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Agar pengadilan menggugurkan status tersangka yang disandang Luna Maya dan Cut Tary.

Tapi alamak hakim secara telak menolak mengabulkan permintaan LP3HI.

Kini kembali lah Luna Maya dan Cut Tary menyandang status tersangka. Eh, salah sudah tersangka sejak dulu sih. Saat itu barengan dengan Ariel Noah yang dijadikan tersangka dan bahkan sudah mendapatkan vonis hukuman selama 3,5 tahun penjara.

Aneh memang pemeran pria langsung dihukum. Tapi para pemeran perempuan masih bebas. Apakah hukum di Indonesia kasian melihat perempuan di hukum? Bagaimana nanti kalau perempuan di penjara? Bakal nangis terus, tidak bisa Me Time? Tidak bisa bersosialita? 

Ah, tentu tidak. Hukum di Indonesia tidak membedakan jenis kelamin. Jika ada perempuan salah ya salah saja. Sudah ada kok penjara khusus perempuan. Dan bahkan sudah eksis sejak zaman Belanda dahulu.

Kini bagaimana kah selanjutnya nasib Luna Maya dan Cut Tary ? Tentu tidak adil kalau mereka tidak dihukum lantaran status mereka yang artis. Mau minta menjalani rehabilitasi? Tapi ini kan bukan kasus narkoba.

Saat ini mata masyarakat tertuju pada kasus ini untuk menonton bareng kembali. Tapi bukan sebab sudut artisnya. Tapi dari sudut pandang hukum yang penuh keganjilan.

Bayangkan delapan tahun bro? Lha wong kalau kasus biasa saja dua sampai tiga bulan sudah bisa P21 atau berkas dianggap lengkap oleh kejaksaan sehingga bisa naik ke persidangan. Lha kasus ini sekarang nyantol di mana ya? Di kepolisian atau kejaksaan?

Jika di kepolisian kenapa penyidik tidak segera melakukan pelimpahan? Sedangkan jika di kejaksaan kenapa pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak segera menyidangkan? Saya sih sebagai orang biasa berharap agar dua institusi penegak hukum tersebut tidak sampai “masuk angin”.

Jangan sampai nanti ada yang meniru mereka dengan alasan tidak bakalan sampai dihukum. Kalau meniru biasa saja mungkin masalahnya tidak besar tapi jika sampai memproduksi video secara massal seperti rumah produksi JAV di Jepang apa gak bakal bubrah? 

Apalagi di dunia hukum juga mengenal istilah yurisprudensi. Atau mengikuti keputusan hukum yang sudah ada sebelumnya. Kalau kasus Luna Maya dan Cut Tary dijadikan alasan yurisprudensi piye terus jadinya jal untuk alasan tersangka tapi slow?

Oh iya, dengan panjangnya kasus ini juga sepertinya mungkin saja Luna Maya dan Cut Tari mendapatkan rekor MURI (Museum Republik Indonesia). Yaitu, penyandang status tersangka terlama di dunia hukum Indonesia yang tidak pernah ditegaskan statusnya.