Untuk sukses, nyaris semua peserta Piala Dunia mencoba juego de posicion, resep sepakbola yang mengandalkan penguasaan bola dan menekan ke garis pertahanan lawan. Bek-bek merangkap jadi gelandang dan penyerang tunggal punya banyak kerjaan sehingga lupa tugas pokoknya. Lihatlah, Meksiko atau Maroko ingin menjadi Spanyol atau Jerman.

Di ujung lain, tim-tim yang tidak punya bahan dan kemampuan meracik resep itu, seperti Iran dan Rusia, membuat anti-tesanya: bertahan total, memperlambat tempo, dan menunggu lawan membuat kesalahan. Atau berharap perang mental dalam adu pinalti.  

Di antara dua kutub itu, Uruguay memberi kita pemandangan sepakbola lain. Dengan memainkan taktik 4-4-2, Oscar Washington Tabarez membentangkan panorama permainan klasik yang mengkombinasikan pertahanan kuat dan serangan mematikan.

Uruguay memberi kenikmatan sepakbola yang langka karena mereka tidak mengejar dominasi.

Resep Tabarez enak dipandang justru karena kesederhanaannya. Uruguay tak terobsesi  dengan penguasaan bola atau membuat bek jadi setengah bek setengah pemain sayap. Tabarez tak meminta pemainnya menjadi inverted wingers, deep lying playmaker dan spesialis-spesialis sepakbola kontemporer lainnya.

Uruguay memberi kenikmatan sepakbola yang langka karena pertama-tama, mereka tidak mengejar dominasi. Mata sepakbola awam dimanjakan oleh permainan empat bek solid, empat gelandang pekerja keras, dan dua striker yang mirip suami-istri. Taktik ini membuka diri untuk diserang tanpa terlihat rentan. Taktik itu juga membuat mereka sangat berbahaya justru ketika tidak menguasai bola.

Kedua, Uruguay mengembalikan sepakbola yang memainkan dua penyerang. Konon, dua striker dalam satu tim tidak efisien dan efektif. Taktik itu dianggap melemahkan kontrol lini tengah karena membuat gelandang kalah jumlah dan mudah didikte lawan. Strategi itu juga dipandang menyempitkan ruang bagi pemain sayap yang hendak masuk ke daerah berbahaya.

Yang lebih penting, Uruguay dan Tabarez menyegarkan sepakbola bukan dengan cara meniru gaya orang lain. Mereka tak terpukau dengan tiki-taka dan mencoba menjadi tiruan Spanyol atau Barcelona.

 

Tabarez membuktikan anggapan itu salah besar. Dengan kualitas Luis Suarez dan Edinson Cavani, Uruguay bermain dengan rapi dan rapat tanpa kehilangan ketajaman. Mereka bukan hanya menunjukkan pasangan klasik masih punya masa depan, namun juga mengoreksi asumsi tentang efektifitas striker-striker palsu ciptaan Jorge Sampaioli atau Josep Guardiola.

Yang lebih penting, Uruguay dan Tabarez menyegarkan sepakbola bukan dengan cara meniru gaya orang lain. Mereka tak terpukau dengan tiki-taka dan mencoba menjadi tiruan Spanyol atau Barcelona. Sebaliknya, rute yang mereka tempuh adalah kembali ke tradisi sepakbola mereka sendiri.

Uruguay membuktikan identitas nasional sepakbola masih relevan bagi permainan global ini.   Di zaman ketika catenaccio Italia dianggap sudah kapiran atau kick-and-rush diminta masuk museum, Uruguay merevitalisasi kegigihan charrua (garra charrua) sebagai dasar dan semangat permainan.

Garra charrua diperoleh dari semangat pantang menyerah charrua, warga asli padang savana Amerika Selatan. Menyebar di antara Uruguay, Brasil dan Argentina, charrua adalah bangsa pejuang yang tak kenal tunduk. Meskipun akhirnya kalah oleh penjajah, charrua memilih punah dari pada takluk.     

Legenda kegigihan charrua itu menjadi simbol dan identitas bangsa Uruguay modern dan mewujud di lapangan sepakbola. Terjepit secara geografis, politik, dan ekonomi di antara dua raksasa Amerika Selatan, Uruguay adalah negara kecil dengan jumlah populasi kecil dan langka sumber daya.

Semangat charrua membuat Uruguay punya mentalitas underdog. Kalah bakat dan jumlah, satu-satunya hal yang mereka andalkan adalah spirit berjuang. Garra charrua ini menginspirasi Uruguay untuk menjadi juara dunia, termasuk dengan memberi Brasil nestapa Maracana (Maracanazao).

Kegigihan charrua itu begitu mendalam sehingga menjadi dominan dan membuat Uruguay identik dengan permaianan yang lugas, kasar, dan culas. Mereka juga menghasilkan tukang jagal yang siap mematahkan kaki atau menculek mata lawan. Hasilnya: mereka mendapat stigma negatif. Stereotip negatif itu melekat dan menjadi bagian identitas sepakbola Uruguay selama bertahun-tahun.

Uruguay melakukannya tanpa harus mendominasi lawan atau angka-angka statistik pertandingan.

Tabarez merevitalisasi garra charrua ini, menapis sebagian elemen kekerasan, dan membumbuinya sedikit dengan ilmu sepakbola modern. Ia mempertahankan, bahkan mengentalkan kegigihan charrua, justru dengan manambahkan kelembutan ke dalamnya.

Dari segi permainan, pengalaman Diego Godin dan tenaga muda Jose Maria Jimenez menjadi fondasi utama. Dengan lini belakang yang kokoh, Uruguay mengandakan senjata utamanya: serangan balik mematikan lewat kombinasi gerakan dua striker berpengalaman.

Dari segi emosi dan mental, semangat charrua terlihat setiap mereka berlaga. Gelandang mereka tak pernah berhenti berlari dan menjaga lawan. Bahkan, pemain sekelas Cavani terus berlari menjelajahi sudut lapangan, dan kalau diperlukan, ikut bertahan menjalankan tugas bek kiri. Begitu juga ketika mereka butuh memberi tekanan: Godin maju gagah berani, menggiring bola hingga ke kotak penalti lawan.  

Fundamen garra charrua itu dilengkapi dengan kreatifitas lini tengah. Lucas Torreira, Matias Vecino dan Rodrigo Betancour adalah generasi baru yang memberi sentuhan lembut, yang selaman ini absen di sektor gelandang. Tidak hanya mengandalkan tenaga dan kemampuan menekel lawan, mereka bisa mengolah bola dan membuat umpan terobosan. Bukan kebetulan ketiganya bermain di liga Italia. Kedisiplinan taktik pastilah mereka kuasai.

Kombinasi fondasi lama dan sentuhan baru ini memampukan Uruguay untuk mengkombinasikan kekokohan dan fleksibilitas, kedisiplinan dan kreatifitas. Mereka tetap kalem dan tenang ketika menghadapi gelombang serangan. Di tengah, mereka bisa bermain, namun tak mau berlama-lama dengan, bola. Umpan-umpan gelandangnya lebih vertikal dan langsung menusuk. Di depan, insting pembunuh strikernya dilepaskan untuk menciptakan peluang.  

Keindahan Uruguay terletak dari kemampuan Tabarez menyeimbangkan dua aspek dasar sepakbola: menyerang dan bertahan. Uruguay melakukannya tanpa harus mendominasi lawan atau angka-angka statistik pertandingan. Tabarez menawarkan sepakbola sederhana namun indah dengan meracik ramuan tradisional mereka sendiri: kegigihan charrua, mentalitas underdog dan kecerdikan pemain-pemainnya.