Status Arthur Irawan di Persebaya itu ibarat bendera di tiang sudut lapangan. Ada tapi tidak berfungsi banyak. Kalau tidak ada pun sebenarnya juga tidak berpengaruh banyak.

Jadi, Arthur itu ngapain di Persebaya?

Bahkan, keluarnya Arthur yang sebenarnya sudah sejak Selasa (24/7) itu masih saja ditutup-tutupi. Website resmi, Persebaya.id, seolah emoh memberitakan. Baru diberitakan pada Senin (31/8) lalu secara resmi. 

Masak pemain yang pernah merumput di Liga Spanyol dan bergabung Espanyol itu dibilang tidak siap?

Sang pelatih, Angel Alfredo Vera, setiap kali ditanya selalu bilang kalau Arthur belum siap untuk diturunkan.

What? Alfredo itu bisa baca CV Arthur gak sih? Masak pemain yang pernah merumput di Liga Spanyol dan bergabung Espanyol itu dibilang tidak siap?

Kalau emang gak pantes main buat Bajul Ijo ngomong aja, Do, Alfredo!

Masak sih Alfredo gak bisa ngomong secara langsung ke Arthur kalau dia itu emang gak bisa main sepak bola? Lah wong bahasa mereka itu bisa nyambung dengan mudah lho. Alfredo berasal dari Argentina yang berbahasa Spanyol, sementara Arthur juga lancar bahasa itu karena malah pernah tinggal di negeri penjajah Argentina. Ola, como estas?

Oke. Sebaiknya kita bahas pelan-pelan permasalahan ini. Nanti dibilang kemeruh kalau tiba-tiba banyak omong tapi gak ngerti duduk perkaranya.

Awak dewe bakal mulai teko narasi awal Arthur gabung Persebaya. Mugo-mugo aku gak dipaido.

Saat Arthur datang ke Persebaya pada Januari 2018, banyak Bonek yang meragukan kemampuannya. Maklum, musim lalu dia itu gak punya jam terbang tinggi meski gabung dua klub, Persija Jakarta dan Borneo FC. Bersama dua klub di masing-masing putaran musim lalu, dia cuma tampil tiga kali.

Jelas saja banyak Bonek yang nggak setuju. Percuma mendatangkan Arthur yang sudah pasti gak bermanfaat buat tim. Lagipula, momennya juga berbenturan dengan keinginan Bonek agar Andik Vermansah pulang kampung ke Persebaya tidak terealisasi.

Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda malah memakai analagi paling mbois saat ngeles soal kegagalan memulangkan Andik. Kereta tidak berhenti untuk satu penumpang. Begitu katanya. Yang jelas, keretanya berhenti untuk banyak penumpang karena setelah itu beberapa penumpang malah masuk kereta Persebaya.

Nah, nama Arthur diseret-seret ke masalah ini. Ya iku mau, Lur. Bonek aja ragu Arthur bisa ngerti bola itu bundar atau trapesium, apalagi nendang bola. Jadi, bukan cuma Alfredo ya yang meragukan kemampuan main bola Arthur. Mungkin nek dolen bekel de’e sik iso lah, nek gak iso yo kebacut.

Julukan “King Arthur” kemudian muncul. Banyak yang menuduh Arthur gabung Persebaya tidak digaji, dia justru menggaji teman-teman setimnya. Iki gara-gara de’e budal latihan numpak mobil sing regani larang banget. Gak usah tak sebutno timbang diarani iklan.

Kata “King Arthur” itu pun muncul diadopsi dari sebuah judul film yang mencerita soal anak raja yang hilang. Lah kalo King Arthur bisa mencabut pedang, Arthur Irawan bisanya mencabut apa? Mencabut sebelum keluar?

Dampak dari semua hal ini adalah Arthur tidak mendapat kesempatan. Dia belum pernah tampil selama 17 pertandingan Persebaya di Liga 1. Jangankan main, masuk bangku cadangan ae jarang, Cuk!

Pada pramusim, dia sempat main sih, saat itu melawan Madura United di Piala Gubernur Kaltim dan nyetak gol lewat penalti lagi. Wah, mbois sampean, Thur!

Dan itu menjadi penampilan pertama dan terakhir Arthur di Persebaya.

Yang jelas, Alfredo itu udah beberapa kali kayak ragu mau masang Arthur. Saking ragunya, dia aja nggak tahu posisi asli Arthur itu apa. Kita mungkin juga begitu. Tapi, Alfredo pernah bilang Arthur bisa main bek kanan dan jadi pelapis Abu Rizal Maulana.

Sayangnya, kalimat itu cuma untuk menutupi aib Arthur yang memang gak bisa main bola. Terbukti, Alfredo lebih memilih Syaifudin (stoper) atau Adam Maulana (gelandang) main bek kanan dari pada Arthur saat Abu Rizal harus absen.

Terbaru, Oktafianus Fernando jadi bek kanan saat ketemu PSIS Semarang. Hasilnya, Oktafianus kena kartu merah.

Itu semua sudah jadi bukti Arthur ini memang gak bisa main sepak bola. Coba lihat, saking gak bisanya Alfredo rela mengubah posisi pemain lain supaya Arthur gak main. Deloken, Thur, koen kudune sadar!

Dampak kedatangan Arthur ini cukup besar. Gara-gara Alfredo ragu masang de’e, Persebaya dadi kalah. Permainan jadi berubah buruh. Kabeh gara-gara de’e. Arthur memang pengubah permainan Persebaya menjadi buruk.

Lucune, kabar hengkange Arthur itu cuma wani ditulis media nasional sing gak berafiliasi karo Persebaya. Meh kabeh nulis Arthur wis dicoret Persebaya teko skuat tim pas Sabtu (28/7) iku. Sedangkan, website resmi persebaya.id tibakno gak nulis blas! Baru nulis setelah seminggu kepungkur.

Tibakno mereka wedi nulis pemain gak penting koyok Arthur seng gak sido digawe. Hadeh. Mbuh lah.