Polemik mundurnya Angel Alfredo Vera dari jabatan pelatih kepala Persebaya kembali mencuat. Terbaru, harian Jawa Pos edisi 14 September 2018 memuat tulisan wawancara bahwa pelatih asal Argentina itu tidak pernah mundur dari Persebaya.

Pernyataan itu tentu kontradiktif dengan situs resmi klub yang langsung mengumumkannya lewat tulisan pada 2 Agustus 2018. Itu hanyalah beberapa jam setelah Alfredo membawa Persebaya kalah 1-2 dalam partai tandang dari Perseru Serui.

Dalam tulisan itu, Alfredo berbicara panjang lebar lewat kutipan yang diatasnamakannya. Setelah itu, Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda terlihat berseloroh panjang lebar pula untuk merespons keputusan mundur tersebut.

Jadi, belum ada kepastian apakah Alfredo menyatakan mundur. Apalagi, pernyataan terakhirnya sebagai pelatih Persebaya bisa dilihat dan didengar langsung saat jumpa pers pasca laga kontra Perseru yang tentu dilakukan di Serui.

Setelah itu, tidak pernah ada lagi wawancara atau kalimat pernyataan langsung Alfredo kepada awak media. Ya, tidak ada jumpa pers yang dilakukan manajemen mengenai “keputusan mundur” dari Alfredo.

Saya kira, untuk urusan tersebut, Persebaya kalah jauh dibanding rival abadi mereka, Arema. Mari kita lihat saja dua peristiwa pergantian pelatih yang dilakukan klub berjulukan Singo Edan itu.

Musim lalu, pelatih Aji Santoso menyatakan mundur dari jabatan pelatih kepala Arema pada 31 Juli 2017. Tidak seperti Persebaya yang cuma berani ngomong lewat situs, Arema malah mengadakan jumpa pers yang secara gamblang awak media bisa melontarkan pertanyaan.

Keputusan Aji untuk mundur tentu dipuji banyak pihak. Banyak yang menilai Aji adalah sosok yang sangat berani bertanggung jawab dan mengambil risiko pekerjaan.

Di sisi lain, saat itu desakan dari suporter begitu kuat karena tim kebanggaannya sedang terpuruk di bawah asuhan Aji. Entah Aji atau manajemen Arema yang harus diacungi jempol karena berani menghadapi awak media untuk mengumumkan peristiwa tersebut.

Terbaru, Arema memecat Joko “Getuk” Susilo dari jabatan pelatih kepala pada 14 Mei 2018. Lagi-lagi, manajemen Arema membuat jumpa pers untuk peristiwa yang tentu memalukan bagi sang pelatih tersebut.

Pada saat yang sama, Milan Petrovic dikenalkan sebagai pelatih kepala baru. Getuk yang sempat turun pangkat ke jabatan asisten pelatih kini harus puas menangani Arema U-19. Padahal, kini dia dalam proses kursus kepelatihan.

Mengadakan sesi jumpa pers dalam penghentian kerja sama dengan pelatih memang bukan hal yang mudah. Banyak klub yang tidak berani melakukannya karena sang pelatih bisa mengatakan apa saja.

Ya, ada kemungkinan sang pelatih jengkel hingga mengungkap kebusukan klub, misalnya.

Sayang, manajemen Persebaya termasuk klub yang tidak berani menghadapi media dalam polemik Alfredo. Bertentangan dengan slogan “Wani” yang mereka klaim.

Keputusan tidak menggelar jumpa pers memang didasarkan pada banyak penyebab. Namun, kemungkinan bahwa ada hal yang ditutupi rapat oleh manejemen juga cukup besar.

Padahal, tidak mengadakan jumpa pers saat menghentikan kerja sama dengan pelatih akan melahirkan segudang tanda tanya. Tak banyak yang bisa digali. Maka, mulai lahirlah isu liar yang beredar di kalangan pencinta Persebaya.

Tidak ada yang tahu pasti, apakah Alfredo mundur ataukah dipaksa mundur alias dipecat. Hal itu jelas tidak bisa dibendung dengan sekadar pengumuman di situs resmi klub.

Saat tulisan “No! Saya Tak Penah Bilang Mundur” terbit, Bonek (suporter Persebaya) mulai terpecah menjadi dua kubu. Ada yang justru mengejek Alfredo gagal move on, tapi banyak yang menantikan kejelasan status Alfredo.

Jawa Pos mungkin tahu sejak awal bahwa memang itu yang terjadi: Alfredo tidak pernah mundur. Hanya, sang narasumber enggan untuk diekspose karena situasi belum benar-benar kondusif.

Kini, sangat mungkin ada yang tidak beres antara manajemen Persebaya dengan Alfredo. Itulah yang menjadi targetnya.