Kehebohan merapatnya Rapahel Maitimo dan OK John dari Madura United ke Persebaya sebenarnya sudah lewat. Tapi, saya kok masih punya satu ganjalan di hati ya meskipun semua berjalan normal. Ini sudah bagaikan cuilan daging setelah makan rawon yang nyangkut di gigi: Ganggu, Cuk!

Oke, daripada dipendam dan jadi jerawat, kita langsung bahas saja soal kedatangan dua pemain ini. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Persebaya yang terkenal sebagai klub pelit beli pemain apik itu mendatangkan dua dengan label bintang pantura eh lapangan hijau.

Ya, Maitimo dan OK John itu sama-sama udah lama berkarier di Indonesia dan gonta-ganti klub. Gajinya tentu gak cilik, iso digawe tuku krupuk sak Suroboyo. Belum lagi status mereka adalah pemain naturalisasi yang sering dapat perlakuan bak pemain asing di di Indonesia.

Padahal, Azrul Ananda sang Presiden Klub Persebaya punya sebuah sabda yang cukup mbois didengar oleh Bonek mengenai hal ini. Mas Azrul (saya panggil “mas” saja supaya akrab) sampai mengadakan diskusi dengan salah satu media sepak bola Tanah Air di Jakarta.

“Meski saat ini tidak menggunakan pemain naturalisasi, namun kami tidak anti-naturalisasi. Karena fokus kami memang pada pembinaan usia muda. Buktinya, mayoritas pemain Persebaya saat ini rata- rata di bawah usia 24 tahun. Kami juga memiliki klub di Liga 3 bernama PS Kota Pahlawan untuk menampung pemain-pemain U-23,” ungkap Mas Azrul dalam diskusi berjudul “Status Khusus Pemain Naturalisasi Di Liga Indonesia” yang digelar pada 20 Maret 2018 itu.

Dowone, Rek, omongane.

Wow, apakah Mas Azrul ini punya ilmu meramal atau memang sudah berencana bakal menempuh jalan kayak gini? Kayaknya yang terakhir lebih tepat deh.

Mas Azrul, Sampeyan itu magak banget membuat kebijakan. Maksud Sampeyan apa sih menyuruh anak buah Sampeyan di Persebaya.id nulis dengan judul “Tim-tim Lain Pikirkan Naturalisasi, Persebaya Fokus Pemain Muda” itu?

Oke saya paham, mungkin Sampeyan hanya pengen kelihatan mbois aja di depan Bonek. Ya, memunculkan pemain asli jebolan internal Persebaya apalagi putra daerah memang terlihat sangat keren.

Apalagi, saat itu Sampeyan pusing melihat kritik Bonek gara-gara program eksodus pemain Papua ke skuat Persebaya. Opo maneh, banyak klub seperti Bali United dan Madura United juga doyan pemain naturalisasi sebagai cara instan untuk bisa meraih sukses.

Hmm, saat itu bisa jadi adalah momen bagi Bonek bisa bangga punya Presiden yang mau open pada pemain lokal, pemain muda lagi. Tapi, lha lapo Sampeyan nekakno loro pemain naturalisasi sekaligus? Iki transfer pemain opo paket combo KFC sih?

Sakjane ujung diskusi sing bakal ndadekno koyok ini iki wis ketoro jelas. Gelagat itu sudah muncul bahkan saat Mas Azrul ngomong dengan paragraf yang macak mbois dan pamer program pembinaan itu.

Gini deh, intinya dua hal itu kan saling bertabrakan, pemain muda dan naturalisasi. Tapi, Mas Azrul berusaha menempatkan diri di tengah dua hal itu. Tapi kan magak banget, Gaes.

Kalau memang pengen pembinaan pemain muda mbok ya direalisasikan. Gak usah sok-sok bahas pemain naturalisasi yang terkesan numpang tenar dan nyindir klub lain terus bilang gak anti-naturalisasi.

Oke, saya tahu Mas Azrul ini memang orang baru di sepak bola dan selama ini berkutat pada basket yang selalu dipamerkannya saat ngomong sepak bola. Tapi mboya ya yang adil gitu.

Saya ini melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Mas Azrul memilih untuk mendekat dan memeluk Raphael Maitimo dan OK John daripada pemain lain. Mas Azrul seolah telah menganggap kedua pemain itu sangat istimewa. Itu saya lihat saat Persebaya ngeladeni PSMS, Rabu kapanane iko (18/7).

Aku iso ndelok soale nyamar dadi anak gawang, Rek. Gak usah kaget yaopo aku iso weruh iki. Nek didelok teko tribun VVIP sing tersedia kudapan lezat dan para pengusaha iku, koen gak bakal iso. 

Padahal, sing nyetak gol Irfan Jaya karo David da Silva nang pertandingan sing hasile 2-0 iku.

Jadi, kenapa Mas Azrul memeluk Maitimo dan OK John? Mungkin saat itu sudah tidak magak lagi. Mungkin Mas Azrul sudah menganggap pemain naturalisasi bukan lagi sesuatu yang nista. Jadi, ya, habis ini nggak usah kaget kalau ada eksodus pemain naturalisasi di tim. Pemain lokal minggir dulu.