Jangkrik! Kok apes aku nek main nang Piala Dunia.”

Kira-kira itulah yang diucapkan Messi setelah pertandingan 16 besar melawan Prancis kemarin. Sah-sah saja Messi berkata demikian. Bayangkan saja, sejak memperkuat timnas Argentina di Piala Dunia 2006, dia belum pernah mencicipi gelar juara dunia.

Notok yo runner-up tahun 2014. Piala Dunia 2010 pun diselesaikan Messi dengan kegagalan setelah Argentina dijadikan tim ”Panama” karena menjadi lumbung gol Jerman di babak delapan besar.

Memasuki usia 31 pada 24 Juni kemarin, seharusnya ajang Piala Dunia di Rusia tahun ini menjadi spesial untuk Messi. Namun, apalah dikata. Setelah terseok-seok di fase grup dan menempati runner-up grup D, Messi cs kudu loro ati maneh nang Piala Dunia.

Sempat unggul 2-1, eh malah diwalik karo tim soto daging lengkap sing gak lain Prancis.

”Cuk apes cuk aku melok negoro iki. Opo aku kudu pindah negoro Indonesia ben isok juara minimal piala AFF,” gumam Messi dalam hati sambil matanya melototi rekan setim, khususnya lini pertahanan.

Dalam semua pertandingan di pildun Rusia kali ini, rasanya sah-sah saja Messi ngambek kepada rekannya di pertahanan. Empat pertandingan Argentina dilalui dengan gawang yang tidak perawan.

Padahal, notabene Argentina adalah unggulan di grup D dengan lawan yang sebenarnya bisa diatasi di atas kertas. Bahkan tanpa harus kebobolan.

Kalaupun ada yang dibanggakan, Messi hanyalah juara olimpiade pada 2008 di Beijing, Cina.

Tanda-tanda Argentina bakal tidak melangkah jauh sebenarnya terendus sejak Messi gagal mengeksekusi penalti lawan Islandia. Bahkan, kalau mau, seharusnya rekan setim Messi yang mengatakan bahwa Messi adalah kesialan Argentina.

Copa America 2016 pun menjadi saksi bisu dunia bahwa dia tidak berjodoh dengan Argentina. Tendangan penalti Messi membuat Argentina tidak bisa membuka skor saat fase adu penalti.

Kalaupun ada yang dibanggakan, Messi hanyalah juara olimpiade pada 2008 di Beijing, Cina. Itupun di level kelompok U-21. Ibarat negara soto daging lengkap seperti Prancis, Messi sebenarnya pemain soto daging lengkap bersama babang Krisno.

Namun, apa daya. Prancis memang mempunyai banyak potensi luar biasa untuk membuat logo ayamnya mengaung selayaknya macan di Piala Dunia kali ini. Argentina pun harus kembali berpikir bahwa mentuhankan Messi sepertinya bukan jalan terbaik.

Toh hingga empat kali Piala Dunia, Messi tetap tidak bisa menyamai catatan spesial Diego Maradona dkk pada 1986 yang membuat Argentina merengkuh gelar Piala Dunia yang ke-2.

 

Berangkat dengan harapan, pulang dengan kritikan. Selalu demikian dan terjadi berulang-ulang.

Ada kekalahan tentu saja ada protes dan tuntutan. Sampaoli out! Mungkin  itulah yang dipikirkan penggemar Argentina. Baik yang asli Argen ataupun abal-abal seperti saya ini. Ya wajar saja orang se-Argen marah dengan pelatih yang tidak suka berganti gaya rambut saat dipangkas alias botak itu.

Mempunyai materi sekaliber kelas 1 di dunia, justru dia membuat banyak blunder dalam menentukan susunan pemain. Bayangkan, pemain sekelas Dybala, Higuain, dan Aguero silih berganti duduk di bangku cadangan.

Si botak tersebut justru memainkan pemain yang bukan kelas 1 mereka seperti Meza, Pavon, dan Enzo Perez. Bukan hanya penggemar yang kecelek. Para pencinta judi pun harus beramal ke bandar karena Argentina sama sekali tidak memenangkan bursa dalam Piala Dunia kali ini.

Rasa-rasanya mulai hari ini para bandar mungkin berpikir bahwa Argen bukan lagi negara adidaya sepakbola, melainkan hanya pelengkap selayaknya negara kita yang berlaga di AFF. Berangkat dengan harapan, pulang dengan kritikan. Selalu demikian dan terjadi berulang-ulang.

Mungkin Argentina salah memberikan mandat kepada Jorge Sampaoli yang sepertinya menyembah Messi. Karena setiap press conference, dia selalu mengatakan bahwa Argentina ingin memaksimalkan potensi Messi.

Baik Messi maupun Sampaoli mungkin menjadi sasaran amarah negaranya. Toh Messi juga manusia, ada batasnya. Mungkin jika Sampaoli mengganti rambut botaknya, bisa saja Argentina jadi… ya minimal runner-up lagi seperti 2014 hehehe.

Tapi semua sudah terjadi. Argentina sudah memesan tiket di aplikasi online untuk pulang ke negaranya. Kita berpikir positif saja, siapa tau harga tiket penerbangan saat tersisih di 16 besar lebih murah ketimbang pulang sebagai juara.. xixixi