Akeh sing bingung pas ndelok raine wong dicat werno-werni nang TV cidek-cidek riyoyo taun iki. Akeh sing mikir, ”Ancen gendeng. Rai ganteng-ganteng lan ayu-ayu kok diwernoi.”

Dasare wong kurang gawean, paling iku sing diucapno wong-wong sing cuma ero gosip!

Nah, 2018 ini bukan sekadar tahun politik, tapi juga tahun sepak bola. Genderang Piala Dunia telah ditabuhkan. Ajang empat tahunan tersebut kali ini diselenggarakan di Rusia dan menjadi kompetisi yang ditunggu-tunggu para pemain yang sudah berjuang keras merebut hati pelatih negaranya masing-masing.

Selain para pemain, para supporter negara yang berpartisipasi di Piala Dunia tentu sudah menanti-nanti. Piala Dunia memang hanya diikuti 32 tim. Namun, lihat respons masyarakat di seluruh dunia! Heboh..

Tentu saja kehebohan itu juga melanda Indonesia. Bayangkan, Indonesia isinya lebih dari 300 juta orang. Dengan catatan, sepakbola adalah olahraga terfavorit di negara ini. Walaupun sesungguhnya sepakbola di negara kita, terutama federasinya, selalu mendapat hujatan setiap hari bahkan saat me-launching Liga 1 yang di-jokes sebagai liga terbaik di Asia Tenggara.

Melihat animo rakyat Indonesia yang luar biasa dalam menyambut Piala Dunia, mungkin sesungguhnya pesta rakyat Indonesia adalah Piala Dunia.

Tapi, itu tidak berlaku ketika Piala Dunia datang. Euforia yang ada di masyarakat begitu tinggi. Mulai mengecat kampung dengan berbagai lambang negara kesebelasan yang akan bertanding di Rusia 2018 hingga berjualan kalender khusus Piala Dunia di beberapa sudut lampu merah!

Bahkan, rumah-rumah judi bergeliat memenuhi halaman film Korea kalian!  

Lihat, betapa luar biasa dampak Piala Dunia. Bukan hanya secara hiburan semata, tetapi juga menghadirkan kreativitas bagi orang-orang yang bahkan bukan pencinta sepak bola.

Dari segi ekonomi, banyak yang mengeluarkan produk untuk menyemarakkan dunia dengan cara kreatif masing-masing. Mungkin kita semua berandai-andai timnas kita bisa lagi merasakan atmosfer Piala Dunia bahkan menjadi tuan rumah.

Yo minimal tuan rumah bareng karo tetonggo sebelah.

Memang, sudah lama kita tidak berlaga di Piala Dunia karena terakhir kali bermain di event empat tahunan tersebut saat negara ini masih dijajah. Bahkan bukan dengan nama Indonesia, melainkan Hindia-Belanda.

Walaupun bukan dengan nama Indonesia, FIFA selaku Tuhan dan kiblat tertinggi sepakbola dunia memutuskan bahwa nama Hindia-Belanda mewarisi Indonesia saat ini. Paling tidak ini memberi penghargaan minimal mbuat anak cucu kita. Mereka bisa tahu kalau Indonesia dulu merupakan negara Asia pertama yang berlaga di Piala Dunia.

Melihat animo rakyat Indonesia yang luar biasa dalam menyambut Piala Dunia, mungkin sesungguhnya pesta rakyat Indonesia adalah Piala Dunia. Bukan pesta demokrasi yang digadang-gadang akan melahirkan pemimpin dan kebahagiaan baru. Prettt!

Bisa dibayangkan jika piala dunia digelar setiap tahun, mungkin jalanan di setiap kota/kabupaten di negeri ini sudah menjadi jalan warna-warni dengan cat bahkan karya-karya mural.

Inilah pesta rakyat sesungguhnya. Semua orang di negeri ini bisa berpartisipasi dan merasakan kebahagiaan bersama. 

 

Dan bayangkan, berapa banyak ibu-ibu rempong, mbak-mbak syantik, yang dulunya hanya tau akun-akun turah jadi tau pemain-pemain ganteng macam Lukaku! Bisa-bisa, di pasar tradisional, mereka tidak memperdebatkan harga daging ayam yang meroket layaknya aplikasi tik-tok yang meroket akhir-akhir ini, tapi malah berdebat soal pemain ganteng yang akan menang atau kalah hari ini.

Tidak berhenti sampai di situ. Liat, banyak sekali pengangguran semacam saya yang menjadi pandit abal-abal dan memprediksi pertandingan sepak bola selayaknya pandit profesional di ESPN FC Indonesia.

Atau bahkan kemunculan dukun-dukun warna keberuntungan sampek lahire kewan-kewan sing isok nebak kemenangan suatu negoro.. NGERI!

Luar biasa kan dampaknya?

Inilah pesta rakyat sesungguhnya. Semua orang di negeri ini bisa berpartisipasi dan merasakan kebahagiaan bersama. Walaupun harus diakui, kebahagiaan itu akan lengkap jika timnas kita bisa ikut berlaga di ajang paling bergengsi tersebut.

Yah doakan saja 2022 di Qatar kita tidak sekedar melihat Mbappe, Pogba, dan Neymar berselebrasi. Tetapi bisa melihat pemain kita seperti Egy Maulana Vikri berlari dan berselebrasi sambil menunjuk di dada lambang garuda ini dan menciumnya.