Pengalaman saya di toto calcio alias totoan bal-balan sudah cukup panjang. Tahun ini saya memprediksi Real Madrid juara Liga Champions. Ternyata benar, Real juara dan Sergio Ramos menjadi makhluk paling terkutuk di dunia dan akhirat!

Pada Euro 2016, saya memprediksi Portugal jadi juara sejak fase grup. Saat itu saya merasa aneh. Kenapa setiap kali bertaruh untuk Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan, saya selalu kalah. Timnya sih tidak kalah, tapi karena pasaran pur-puran, saya selalu kalah setiap menjago Portugal.

Ya, gak sampe turu pasar bantalan gobis karo kalungan omplong sih. Bantalan kentang tok kok!

Feeling saya waktu itu mengatakan bahwa tim Portugal spesial. Mereka tak pernah menang tapi lolos fase grup. Saya punya perasaan mereka bakal sulit dikalahkan. Kalaupun terpaksa sampai kalah, paling-paling di fase akhir.

Akhirnya saya menjagokan Portugal. Saya tulis di bursa calcio mercato prediksi juara di warung. Hasilnya, saya menang. Yes!

Sebenarnya, di arena totoan bal-balan yang kita butuhkan adalah kemampuan prediksi yang akurat. Semua metode digunakan. Termasuk metode statistik yang lagi ngetren di kalangan pandit-pandit itu.

Tapi, mohon maaf. Saya tidak mau membahas prediksi cuma dengan dasar statistik dan angka-angka yang dengan mudah bisa didapatkan di internet. Memangnya saya Tommy Welly!

Angka-angka itu memang digunakan. Tapi saya lebih percaya pada yang lebih dari sekadar angka. Yang beyond. Saya percaya pada feeling. Tapi, wait, jangan diremehkan dulu. Feeling saya muncul berdasarkan tanda-tanda alam.

Jangan pernah meremehkan. Alam tak pernah bohong.

Saya ingat waktu laga Liga Champions antara Bayern Muenchen vs Juventus pada 2013. Waktu itu saya belum memutuskan mau menjagokan tim Bavaria atau Si Nyonya Besar. Yang jelas, waktu itu banyak orang yakin bahwa Juve bakal bisa menahan seri Bayern di Allianz Arena. Ya, Juve memang sedang away. Karena away, mereka mengenakan jersey hitam.

Nah, kebetulan selama seharian penuh itu saya memakai baju hitam dan sepeda motor hitam. Apa yang terjadi pada saya? Ban motor saya bocor dua kali. Saya juga beberapa kali kepleset. Fix, warna hitam di hari itu pasti sedang apes.

Maka, saya tidak menjagokan Juve. Saya menjagokan Bayern untuk menang atas tim yang saat itu masih ditangani Antonio Conte. Benar saja, Juve kalah 0-2. Bukan hanya di Allianz Arena, tapi juga di Juventus Stadium.

Ban motor yang berwarna hitam bocor dua kali, Juve kalah dua gol. Inilah tanda-tanda alam, Gaes!

Tanda-tanda alam bukan cuma itu. Bisa juga kita lihat pada tanggal berapa pertandingan digelar. Ada beberapa tanggal yang memang sudah dari sananya berpotensi nggarai apes. Misalnya, tanggal-tanggal ganjil dan 3. Atau juga tanggal serem.

Tanggal serem ini adalah tanggal kelipatan 9. Di tanggal itu, mohon waspada karena bisa jadi prediksi sebagian besar orang bakal meleset.

Namun, tanda-tanda alam itu tidak hanya faktor angka, tapi juga momen. Pada 14 Juni nanti, Piala Dunia akan ditandai dengan pertandingan antara tuan rumah Rusia melawan Arab Saudi.

Semua orang yakin Rusia bakal menang. Tapi, menurut saya, kalaupun menang, tidak besar. Sebab, Arab Saudi adalah tim dengan pertahanan yang sangat kuat. Rusia bisa saja menang tapi statusnya masih ”mungkin”.

Bahkan, Arab bisa menahan atau bahkan mengalahkan Rusia jika pada 14 Juni itu hilal sudah kelihatan. Inilah Eid Mubarak. Pasukan Arab akan mendapat tenaga ekstra karena mereka tak perlu kuatir mokel saat sedang bertanding.

Di Piala Dunia Rusia 2018 kali ini, ada empat tim yang bakal bertarung sampai akhir. Mereka adalah Brasil, Jerman, Prancis, dan Argentina. Semua pandit—termasuk di dalamnya mungkin Tommy Welly, Maruf El Rumi, atau bahkan Pangeran Siahaan sekalipun—pasti menjagokan empat negara tersebut.

Tapi, saya tidak. Saya bilang, cuma dua yang paling mungkin juara: Brasil dan Prancis.

Cuma, saya agak berat di Prancis. Sebab, generasi sepak bola di sana lagi jaya-jayanya. Bahkan pemain bagus sampai ditolak. Bayangkan, pemain top seperti Franck Ribery, Karim Benzema, dan Alexandre Lacazette tidak dibawa ke Rusia. Apalagi Bambang Pamungkas!

Tapi, Brasil juga punya peluang. Apalagi sudah tiga edisi ini Piala Dunia dikuasai Eropa. Sudah saatnya kembali ke pelukan Amerika Latin. Di sinilah saya terpaksa harus mendua. Saya tidak bisa memilih salah satu di antaranya.

Kita lihat saja nanti. Apakah Prancis atau Brasil yang jadi juara Piala Dunia? Kecuali ada tanda-tanda alam yang berbeda, dua tim itu sangat mungkin juara. Kalau batal juara, ya berarti harus ambil wudhu lagi. Gitu aja kok rempon eh repot.