Sebenarnya saya tidak ingin ikut larut dalam polemik mengenai pembuatan film Bumi Manusia yang disutradarai Hanung Bramantyo. Apalagi film itu belum dibuat. Karena film itu belum dibuat, jadi rasan-rasan kita ini juga agak sia-sia.

Namun, kegaduhan akan hadirnya film itu wajar sik, mengingat Bumi Manusia memang karya sastra berbobot. Hingga saat ini, belum ada satu karya sastra Indonesia yang mampu menandingi novel tersebut.

Cukup wajar jika para penikmat sastra khawatir. Sebab, Bumi Manusia terlanjur ideal sebagai karya sastra yang kuat. Sedangkan film jelas akan kesulitan merengkuh keutuhan karya Pulau Buru.

Di sisi lain, kegaduhan itu menstimulus rasa ingin tahu. Terutama masyarakat umum. Orang yang semula tidak pernah tahu Bumi Manusia dan penulisnya, Pramoedya Ananta Toer (Pram), akan mulai mencari-cari informasi mengenai itu. Apalagi anak-anak zaman now yang masih belum move on dari gombalan si Dilan.

Ya, ada Iqbaal Ramadhan di sana. Tampaknya, pesona Iqbaal masih nyangkut di mana-mana. Si Dilan akan hadir menjadi Minke pula. Ini juga yang dikhawatirkan kubu pecinta novel Bumi Manusia.

Minke dan Dilan memang dua tokoh yang dekat dengan kata. Namun, keduanya sangat jauh berbeda.

Mengenai kemampuan Iqbal memerankan Minke, bukti itu akan terlihat jika film tersebut rampung digarap. Harus diakui, Iqbaal adalah sosok yang segar. Dia juga punya massa. Fans kelas berat Iqbaal dari generasi kekinian dan para aunty pasti bakal larut dalam Bumi Manusia.

Positifnya, mereka akan berusaha melacak literatur-literatur Pram. Negatifnya, buruan beli buku Bumi Manusia sebelum cover-nya bergambar Iqbaal!

Situasi tersebut bagi saya merupakan konsekuensi logis. Jika pendidikan tidak mampu menghadirkan Pram dan karyanya dengan baik, kekuatan modal akan menyerobot peran itu. Makanya, jangan heran jika Hanung menangkap Bumi Manusia cuma sebagai hubungan cinta Minke dengan Annelies.

Percintaan memang pilihan yang paling gampang daripada konflik rumit lainnya.

Kini kita akan melihat bahwa karya Pram bakal menjadi bagian dari arus utama. Namun bukan karya Pram yang ”menyeramkan” dengan ideologi komunis yang terlarang. Tapi Pram zaman now yang centil, picisan, dan receh. Hiks.

Seperti yang dikatakan Hanung dalam wawancara dengan CNN Indonesia: ”Lebih berat Ayat-Ayat Cinta dibanding Bumi Manusia. Menurut saya seperti itu. Jadi buat saya, Bumi Manusia merupakan sebuah novel yang hebatnya adalah novel yang sangat remaja, sangat ABG,” katanya.

Enteng banget ya?

Jika Hanung memahami konteks karya tersebut, seharusnya dia juga memahami siapa Pram. Pram adalah salah seorang tokoh nasional yang mengalami kekerasan dengan alasan keyakinan ideologi yang membahayakan kestabilan nasional.

Pram merupakan sosok pribumi yang memiliki semangat dan keberanian dalam memperjuangkan kemerdekaan. Seakan-akan denyut nadinya penuh teriakan darah perlawanan.

Dia tak segan-segan mengkritisi ketidakberesan pemerintah yang mengakibatkan rakyat menderita pada masa pemerintahan represif. Keganjilan yang bersliweran di lingkungan sosial dibingkai dalam suatu pemikiran.

Sikap kritis itu lantas dituangkan dalam tulisan. Tidak terhitung banyaknya karya yang mengangkat keadaan sosial bangsa. Tetapi, nasib tulisan tersebut ternyata tidak sepenuhnya berada di tangan pengarang. Melainkan di tangan pemegang kekuasaan.

Tidak sekadar nasib karya, nasib pengarang pun seakan-akan ditentukan penguasa.

Pram harus menghadapi konsekuensi terhadap pemikirannya hingga ditahan dan diasingkan di Pulau Buru. Di pulau itulah, dia mendapatkan ”wahyu” dan menjelma lah dalam empat novel (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang dikenal dengan Tetralogi Buru.

Dengan karya-karya yang begitu mengagumkan, Pram memang pas menyandang gelar sastrawan besar Indonesia yang layak untuk diapresiasi generasi saat ini.

Masalahnya, penderitaan panjang Pram dalam pengasingan itu, jika Mz Hanung memahami, berusaha dilenyapkan oleh negara.

Dalam dunia pendidikan, nama Pram tidak pernah terpampang dalam buku-buku pelajaran. Kalau siswa ditanya, ”Siapa Pramoedya Ananta Toer?”, mereka pasti diam. Mereka lebih kenal Nagita Slavina yang ternyata suaranya oke saat duet bareng Via Vallen dibanding tokoh bangsanya sendiri.

Tan Malaka yang salah satu founding fathers saja dibubarkan diskusinya apalagi Pram? Hellaww!

”Pram itu artis sinetron baru ya?”

Nah, ini bukan semata-mata karena siswa gagap dalam menyerap pengetahuan. Tetapi, para guru tersekap dalam ketakutan masa silam kekuasan. 

Bila dicermati, perjuangan Pram dalam membangkitkan jiwa nasionalisme cukup signifikan. Lihat saja ketika Pram memperjuangkan persamaan hak terhadap masyarakat Tionghoa.

Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959), Soekarno mengesahkan PP No 10 yang mengharuskan semua pedagang eceran Tionghoa menutup usaha di daerah pedalaman. Peraturan yang diskriminatif itu mengakibatkan keturunan Tionghoa semakin terpinggirkan dan menjadi korban kekerasan.

Saat itu, Pram mengkritisi kebijakan tersebut dengan memunculkan tulisan Hoakiou di Indonesia (Hoakiau). Namun, Pram justru dianggap menjual negerinya sendiri karena lebih berpihak pada bangsa Tionghoa. Tulisan itu dibredel. Dia pun ditahan tanpa proses pengadilan.

Saat itu, Pram lah salah satu tokoh yang dengan sadar berani mengambil risiko memperjuangkan nasionalisme yang lebih menyeluruh dan memberontak diskriminasi.

Tapi, apakah perjuangan Pram tercantum dalam pembelajaran sejarah di sekolah kita? 

Pembelajaran kita memang terkesan nyeleneh. Dalam Bahasa dan Sastra Indonesia, nama Pram juga sulit ditemui dalam buku-buku pelajaran.

Padahal, Pram merupakan sastrawan besar yang karya-karyanya digandrungi di berbagai negara. Karya-karyanya dipelajari di sana. Seharusnya, kita mengapresiasi karena merupakan karya anak bangsa.

Namun, di dalam negara sendiri, dia justru terasingkan hingga sekarang. Karya-karyanya masih dianggap tidak patut dipelajari dan dijauhi. Pelajar cenderung disuguhi wacana sastra yang itu itu saja. Sebut saja sastrawan angkatan Balaipustaka, Pujangga Baru, dan Angkatan 45.

Bukan berarti angkatan itu tidak perlu diajarkan. Tapi, setidaknya pelajar harus mengenal maestro Pulau Buru. Demi menjadi persoon jang intellectueel

Wawasan terhadap jiwa nasionalisme bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaan sebenarnya dapat dipelajari dari novel Pram. Dan, Tetralogi Buru adalah contoh yang paling ideal. Novel-novel tersebut mengisahkan perjuangan pribumi yang hak-haknya dirampas kolonial.

Bahkan, wacana yang dihadirkan dalam karya Pram masih relevan dalam kondisi sosial-politik saat ini, yang masih cenderung memperebutkan kekuasaan semata. Mau #2019GantiPresiden atau #2019GiantPresiden kek sama saja!

Dengan mempelajari karya Pram, adek-adek kekinian setidaknya bisa tahu apa itu berpikir kritis dan menjadi pejuang untuk bangsa. Berpikir kritis itu bukan semata berteriak paling lantang saat haknya dilanggar, tapi mewek saat gak dapat tempat buat berbuka di mal! Kan cemen!

Pembahasan mengenai karya-karya Pram masih sangat minim. Hingga sekarang, adakah buku pelajaran bahasa Indonesia yang mengenalkan sosok Pram dengan baik sebagai sastrawan dan tokoh nasional berpengaruh?

Kurikulum pendidikan kita memang diwanti-wanti untuk tidak mengajarkan pemikiran yang menyimpang. Karena itu, Pram tidak pernah nongol dalam ranah pembelajaran dengan beberapa alasan.

Pertama, keyakinan ideologi yang diperjuangkan dianggap melawan pemerintah. Kedekatannya dengan Lekra yang mendukung politik PKI membuatnya dilabeli sebagai kuminis yang tidak sesuai dengan dasar negara.

Pram dianggap tidak percaya pada Tuhan, sedangkan negara kita adalah negara yang berketuhanan—masio ben poso mesti gupuh mokel.

Sebenarnya, menganggap Pram sebagai ateis itu perlu dipertanyakan. Pram masih meyakini keberadaan Tuhan. Dalam video dokumenter Mendengar Sibisu Bernyanyi yang dikeluarkan Yayasan Lontar, Pram pernah menyatakan, ”Tuhan, kalau saya tidak dipergunakan dalam dunia ini, ambillah nyawa saya!”

Kalimat itu diucapkan ketika Pram mengalami keputusasaan dan masih menyebut Tuhan sebagai tempat kembalinya segala sesuatu, lho.

Pram juga membiarkan dirinya dituduh sebagai komunis dan tetap teguh dalam prinsip menentang penindasan. Inilah intrik politik penguasa represif terhadap lawan politik yang dianggap membahayakan kedudukan nyamannya. 

Kedua, karena berganti-ganti bui, antara lain bui masa kolonial, Orde Lama, Orde Baru, dan baru bebas sepenuhnya pada 1999, tampaknya masyarakat menganggap bahwa Pram adalah seorang cacat hukum. Seorang kriminal.

Stigma itulah yang menyebabkannya teralienasi dari lingkungan sosial, khususnya pendidikan. Stigma tersebut dilanggengkan untuk kepentingan kekuasaan semata. Bekas tahanan seakan-akan dianggap sebagai hewan yang belum mencapai tingkat evolusi yang sempurna. 

Ketiga, dari dua alasan tadi, secara tidak langsung Pram adalah musuh pemerintah. Siapa yang berani melawan pemerintah, berarti dia adalah pengkhianat negara.

Karena itu, memperkenalkan Pram pada dunia pendidikan berarti mengajarkan pemikiran musuh negara. Hal itu membuat pendidik harus berpikir beberapa kali sebelum mengajarkannya, sebelum mereka nanti juga dianggap sebagai musuh pemerintah.

Walaupun wacana tersebut muncul di masa kekuasaan lama, pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Karena itu, sosok Pram bukan terlupakan, tapi cenderung dilupakan.

Pram yang dahulu dilenyapkan kini berusaha dikembalikan. Walau tidak tertutup kemungkinan, distorsi itu akan selalu menyertai. Pram akan ”kembali” menyapa. Entah dalam bentuk yang bagaimana.  Semoga Pram tak tercerabut dari konteks perjuangan dan pemikiran dirinya. Nauzubillah minzalik!