Hujan masih turun deras di bilangan pusat ibu kota yang belum dipindah. Di satu pojokan kedai kopi karya anak bangsa berlogo warna toska, seorang lelaki berusia 60-an tahun tampak asik dengan ponselnya.

Sesekali ia mengernyitkan dahi, kemudian membetulkan letak kacamata berbingkai bulat miliknya. Kedua jempolnya mengetik dengan cepat, sebelum menghela napas tanpa mengabaikan layar. Tiba-tiba, ponselnya bergetar dan ringtone default iPhone terdengar nyaring.

“Halo? Iya, ini saya udah di sini. Pojokan yang biasa, ya!” ujarnya dengan mata mencari-cari ke luar jendela. Setelah mematikan panggilan itu, ia meraih secangkir kopi Kalosi Toraja yang baru ia sesap sedikit.

Seorang pemuda ceking berpakaian batik biru datang agak tergesa ke arahnya.

“Pak Johnny, maaf ya saya agak lama, tadi disuruh ke kantor dulu ngurus absensi,” salamnya sambil menjabat tangan lelaki tadi.

“Ah, biasa itu Mas Nadiem, santai aja,” sahutnya dengan senyum merekah. Begitu Nadiem duduk, Johnny melambaikan tangan ke arah para pramusaji. Seorang di antaranya bergegas menghampiri.

“Ada tambahan pesanan, Pak?” tanyanya halus. Johnny mengulurkan tangan pada Nadiem, mempersilakannya.

Cappuccino on the rocks, sama Chicken Mushroom Quesadilla,” pintanya. Si pramusaji mencatat, menanyakan apakah ada yang lain lagi. “Itu dulu aja,” lanjut Nadiem.

Johnny masih asik memandangi layar ponselnya dengan kacamata yang mulai melorot. Nadiem mencuri-curi pandang pada menteri senior tapi seangkatan di hadapannya itu.

“Ehem, jadi gini, Pak…,” bukanya. Johnny mengangkat alisnya, tapi tetap tak menatap lawan bicaranya. Nadiem suka jengkel dengan perilaku orang-orang macam ini. Menurutnya, itu tidak menunjukkan respek dan tidak efisien dalam dunia profesional. Membuat percakapan jadi tidak ringkas.

“Pak Johnny, kayak yang tadi saya bilang di chat,  soal rencana kerja 100 hari kabinet…,” lanjutnya lagi dengan suara lebih lantang.

“Hem?” sahut Johnny. Nadiem memutar bola matanya. Hadeh, bapak-bapak rempong nih. Pasti lagi ngeladenin grup ghibah menteri baru. Sejak hari kedua setelah grup itu dibuat, Nadiem langsung mengaturnya menjadi “mute“. Berisik banget ngrasani Joko-Prabs.

“Menurut Pak Johnny gimana?” tanyanya lagi, menyabarkan diri, ingat anak-istri. “Kominfo setuju dengan rencana saya?”

“Bentar ya, saya lagi ngebalesin komen soal IndoXXI nih… Masa ada yang malah ngebocorin list penggantinya. Wkwkwk, makasih, Netizeeen~” gumam Johnny sambil terkikik. Nadiem menghela napas sambil mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai. Buang-buang waktu lima menit, hadeeeh.

Setelah mengetik dengan berapi-api, Johnny akhirnya mengangkat wajahnya, lalu menatap Nadiem lurus-lurus.

“Oke, udah. Kamu yakin itu bakalan bikin citra kita naik?” tanyanya.

“Yakin, Pak. Memang awalnya terkesan blunder, tapi percaya deh, bakalan happy ending kok buat Bapak.”

Johnny mengelus kumisnya, berpikir, lalu, “Oke deh, jadi gimana detilnya?”

Nadiem tersenyum lebar. “Minggu depan kan bakal ada konpers nih, Pak. Sumber saya bilang, di medsos masih banyak yang bahas soal Netflix dan nyambatin kenapa Kemkominfo ngeblokir itu. Nah, Bapak…,” ucapannya terpotong dengan kedatangan pramusaji yang mengantarkan pesanan.

“Bapak bisa kasih penjelasan sekalian bahwa itu persoalan business to business antara Netflix dengan Telkom,” lanjutnya. Johnny menatapnya bingung.

“Saya sebenernya bingung juga, kenapa sih kita harus ngeblokir itu? Kemarin ponakan saya juga nyindir-nyindir di grup keluarga. Hadeh.”

Emang Bapak nih hadehhh, batin Nadiem.

“Nggak apa-apa, Pak. Memang itu urusannya biar diselesaikan sama Telkom. Kita fokus aja ke Netflix. Jadi, Bapak bilang aja kayak tadi, urusan business to business. Terus, urusan Netflix Originals, bilang aja kalau kita mestinya mendahulukan karya sineas Indonesia, ‘kan banyak tuh film-film Indo yang belum masuk ke Netflix. Itu dulu aja,”

“Hah? Netflix Originals tuh apa? Emang ada yang KW?” tanya Johnny. Nadiem serasa ingin melompat menembus kaca jendela kafe, menerjang hujan, lalu tersambar jadi Gundala.

“Maksudnya, itu serial asli buatan Netflix. Jadi, Netflix tuh nggak cuma jadi platform streaming, tapi juga semacam production house gitu lho, Pak. Ada beberapa film atau serial yang asli buatan tim mereka, terus ditayangkannya ya di Netflix itu sendiri. Ya, meskipun kadang bocor juga ke IndoXXI,” jelas Nadiem.

“Oh, berarti ya bener kan saya blok si IndoXXI itu!” tegas Johnny bangga. Nadiem tersenyum sambil mengangguk sopan. “Oke, terus, yang kamu bilang gebrakan buat kabinet? Katanya Kemdikbud bakal ikutan terlibat?”

“Nah, itu yang mau saya bicarakan sama Bapak. Jadi, setelah Bapak jelasin ke wartawan kayak tadi, netizen pasti bakal makin ngamuk, tapi tenang aja. Kita akan utamakan semboyan ‘karya anak bangsa’ dalam urusan Netflix,” jelas Nadiem.

“Hmm, kok saya kayak pernah denger itu di mana ya?” tanya Johnny sambil memicingkan mata.

Nadiem menghiraukannya, “Tiga hari kemudian, saya bakal mengumumkan bahwa Kemdikbud akan bekerja sama Netflix untuk mengadakan workshop perfilman sebagai bagian dari program pendidikan Indonesia. Sineas-sineas muda Indonesia bakal dilatih untuk bikin film bareng tim Netflix yang ada di Jakarta sama di Hollywood. Terus nanti ada kompetisi film pendek juga. Temanya bisa soal kehidupan kita para menteri kabinet. Pak Jokowi pasti seneng. Terus…”

“Bentar, bentar, kok kayaknya Kemdikbud doang yang dapet exposure? Kominfo bagian disalah-salahin doang, dong?” Johnny memotongnya. Njir, ketauan, umpat Nadiem dalam hati.

“Nggak dong, Pak. Kita juga bakal ngadain Online Safety Training Program, itu bisa kerja sama Kominfo,” Nadiem yang jenius langsung ngeles gesit kayak anak SMA bawa motor gak pake helm gak punya SIM ketemu razia di tikungan.

“Oh, oke saya suka kalo ada online safety-online safety-nya,” angguk Johnny. “Terus soal dana?”

“Gampang, saya udah menghubungi beberapa pihak. Dana satu juta bakal cair,” jawabnya.

“HAH? SATU JUTA DOANG DAPET APAAN, BATRE JAM SAYA AJA NGGAK SEGITU!” Johnny mendelik sudah hampir ikutan menggebrak meja kayak Menhan waktu masih zaman kampanye.

“DOLAR, Pak. D-O-L-A-R YU-ES,” tegas Nadiem. Mulut Johnny langsung membentuk huruf O.

“Okelah, jadiin kalo gitu. Anak stafsus ada yang bisa dipake, nggak?”

“Iya, saya udah nanya ke Putri, dia ada channel di kampusnya dulu, bisalah diajak kerja sama.”

Johnny manggut-manggut. “Oke deh, saya setuju. Moga-moga aja abis gini bonus Kominfo jadi naik. Hih. Eh, soal ini, kamu aja yang ngomong ke Pak Jokowi ya. Saya agak susah nih ngomong sama dia, kadang dicuekin.”

“Santai, Pak,” sambut Nadiem sambil tersenyum makin lebar dan mengulurkan tangan. “Oke nih, deal ya, Pak?”

Deal,” sahut Johnny sambil menjabat tangan pemuda peraih penghargaan The Straits Times Asian of the Year itu. “Eh, iya, terus kamu udah ngehubungin Netflix emang?”

“Udah kok, dari kemarin,” cengir Nadiem. “Udah deal kok mereka.”

“Tapi saya tuh masih nggak sreg kalo Netflix bebas dipake di Indonesia. Ntar yang lain nggak laku dong,” Johnny cemberut.

“Saya kan nggak bilang filmnya akan ditayangkan di Netflix juga, Pak. Saya cuma ngajak partnership berupa lokakarya… Hehehe.”

Johnny mendelik menatap pemuda cerdik di depannya, kemudian geleng-geleng kepala sambil bersiap pergi. “Ya udah, diurus aja. Pokoknya saya jangan lupa dikasih draft ngomong apa pas konfpers biar nggak salah-salah. Netizen zaman sekarang ngeri-ngeri, nggak kayak pas saya masih main MIRc.”

“Siap,” sahut Nadiem. “Terima kasih ya, Pak.”

Johnny melambaikan tangannya sambil mengarah ke kasir. “Kalo pake Go-Pay, ada cashback 50% ‘kan?” Petugas kasir mengangguk ramah.

Johnny menunggu struk pembayarannya seraya menatap keluar. Hujan masih deras di luar, isu perang masih berputar, tapi masa depan Kominfo akan begitu cerah dan lancar.