Saat membaca cerpen-cerpen Seno Gumira Ajidarma, kita akan dibawa dalam imajinasi yang liar. Bayangan theater of mind di kepala seperti membayangkan sesuatu yang tidak kita mengerti. Meski begitu, fantasi yang terangkum dalam setiap kata-kata akan selalu mengena pada setiap pembaca.

Ya, Seno Gumira adalah maestro realis-magis di Indonesia. Dari “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, “Mestikah Kuiris Telingaku Seperti Van Gogh?”, “Iblis Tak Pernah Mati”, “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta”, hingga “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, jadi karya-karyanya yang ajaib.

12 buku kumpulan cerpen yang telah ia tulis dan terus menerus diterbitkan ulang memang membuktikan bahwa karya-karyanya bukan sebuah karya yang biasa saja.

Nah, usaha untuk membuat film atas karya Seno Gumira patut diacungi seribu jempol. Sang sutradara harus bisa memainkan imajinasi sang pembaca yang biasa bermain dengan theater of mind, menjadi sebuah bentuk audio visual. Cerita yang biasa hanya bisa diangan-angankan, menjadi sebuah gambar bergerak.

John De Rantau bisa dibilang cukup gila saat membuatnya. Sutradara yang pernah menggarap Semesta Mendukung (2011), Generasi Biru (2009), Denias: Senandung di Atas Awan (2006) dan Wage (2017), kali ini membuat film dari cerpen Seno,“Dilarang Nyanyi Di Kamar Mandi.”

Berbicara tentang film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ini memang menarik. Bagaimana bisa adaptasi cerpen tahun 90-an digarap pada era post-modern seperti ini. Sang sutradara seperti melihat relevansi itu hingga membuat cerita pendek ini terus bisa dinikmati dengan alih wahana.

Sebetulnya, film ini tidak terlalu jauh dengan plot cerpennya. Ada seorang gadis cantik bernama Sophie yang menjadi masalah di kampung karena cara mandinya yang luar biasa—hingga membuat para suami-suami di kampung tersebut menjadi enggan berhubungan intim dengan istrinya.

Imajinasi liar para suami ketika mendengar nyanyian gadis cantik ini mandi menjadi sebuah masalah besar di kampung itu. Puncaknya adalah aksi besar-besaran di rumah Pak RT.

Para istri yang tinggal di kampung tersebut ternyata cemburu dengan Sophie. Pasalnya, para suami bisa menjadi zombie dan tergila-tergila dengan gesekan baju, suara desahan, usapan sabun, hingga suara air yang menetes dari keran ketika Sophie mandi.

Rutinitas Sophie ini kemudian mulai menganggu. Sama menganggunya dengan berita hoax yang tersebar di grup-grup WhatsApp. Protes pun dilakukan para istri yang merasa suaminya direbut secara tidak langsung oleh Sophie.

Ada yang meminta Sophie untuk pergi. Ada juga yang meminta ia diusir dari kampung tersebut. Namun, permasalahan ini sebenarnya cukup absurd. Bukankah ia sebenarnya hanyalah manusia biasa yang hanya melakukan rutinitas harian yaitu mandi? Apakah ada yang salah dengan manusia yang sedang mandi? Kenapa yang justru disalahkan adalah yang mandi, bukan para pengintip yang di otaknya hanyalah simulakra dari hubungan seks?

Itu yang menarik. Film dengan musik latar band new wave The Upstairs ini memotret fenomena kehidupan kampung di Kota Metropolitan seperti Jakarta. Di sana terpampang beragam jenis manusia kampung yang selain terhimpit dengan masalah ekonomi, juga terhimpit dengan puluhan gedung yang tinggi menjulang.

Kesenjangan masyarakat ini semestinya tidak dilihat dari aspek ekonomi saja, melainkan juga budaya urban. Dibalut dengan ringan dan jenaka dengan para aktor dan aktris yang kawakan, kritik sosial yang terangkum dalam film ini sebenarnya sangat kuat.

Jadi, silakan menonton film Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi. Tidak di Surabaya, lah wong mulai Selasa (23/7) lalu sudah tidak ada di bioskop-bioskop Surabaya. Jadi, selamat menunggu sesi pemutaran film indie untuk bisa nonton film ini yah!