Surabaya akhirnya punya film baru berlatar kotanya sendiri—meskipun
judulnya sekali lagi lumayan keminggris. Berjudul How To Tell, film pendek ini sudah tayang di bioskop mulai 29 Maret
lalu. Saya berkesempatan menonton pemutaran perdananya di XXI Ciputra World
Surabaya.

Film diputar secara gratis untuk siapapun yang registrasi
terlebih dahulu. Sudah bisa ditebak, puluhan orang pun langsung memadati XXI.
Selain karena ingin nonton film gratisan, tentu saja mereka ingin mengapresiasi
karya sineas lokal.

Film ini cukup menarik meskipun sepertinya tema ini sudah
kelar setahun yang lalu. Fokus membahas terorisme, How To Tell berusaha tetap relevan dengan keadaan sekarang. Abra
Merdeka, sutradara, memang mengambil konteks kasus bom gereja yang terjadi setahun
lalu dengan pendekatan lain.

Suasana film dibuat sangat Surabaya, dengan latar urban
perkotaan. Meski sayangnya, medoknya kurang Suroboyo nyel.

Film ini cuma berdurasi sekitar 15 menit. Menceritakan
konflik internal dari seorang pria yang hendak melakukan bom bunuh diri. Irfan,
tokoh utama, mengalami pertentangan dengan keyakinannya. Ini karena tekanan
untuk menjalankan misi pengeboman yang terus menghantuinya.

Aksi bom gereja itu memang tak sembarangan. Pelaku peledakan
bom juga pasti punya konflik batin pada dirinya sendiri. Nah, cerita itulah
yang sepertinya sedang ingin dibangun Abra, yang juga jadi penulis naskah. Abra
bahkan mengaku terinspirasi saat menonton video rekaman langsung Imam Samudra.

“Sebenarnya seorang teroris punya sifat humanisme besar,
tapi jiwa radikalisme juga besar. Saya mendapatkan cerita itu dari Nassir
Abbas, bahwa teroris itu bisa ketemu malaikat. Nah, dalam cerita ini
malaikatnya adalah anak kecil,” ujar Abra.

Sementara, Nassir Abbas, pengamat terorisme Internasional yang
juga hadir dalam pemutaran, menjelaskan bahwa How To Tell perlu ditonton dan diapresiasi oleh masyarakat luar
negeri.

“Ini kenyataan yang terjadi, tidak bisa disangkal, dan
dinafikan. Sejak tahun 2000, adanya bom gereja yang terjadi di berbagai kota,
diyakini bersumber dari agama yang menyuruh mereka. Imam Samudra, Amrozi, Ali
Ghufron, dan lain-lain, percaya pada apa yang 
mereka yakini benar.

“Ayat, hadist, dan buku-buku yang mereka baca, menjelaskan
tentang apa yang mereka lakukan adalah keyakinan, sebagai Perintah Tuhan. NII,
JI, JAD, dan sekarang ISIS, hanya berganti nama. Tapi secara ideologi mereka
akan terus hadir. Ancaman perekrutan ini juga bahaya karena semua orang bisa
ikut,” ujar Nassir.

“Kita boleh marah terhadap teroris. Tapi marah yang baik itu
dengan mencegah, salah satunya dengan film seperti ini,” pungkasnya.

Film yang diproduksi Lintas Sinema Surabaya ini, ternyata
juga telah masuk seleksi Festival Film Cannes dan Indonesian Film Festival di
Australia. Di Cannes, film ini masuk seleksi 300 besar, namun gagal lolos. Di IFF
Aussie, film ini juga bernasib sama: telah terdaftar meskipun tak lolos.

Tapi, karya ini patut diapresiasi. Lintas Sinema Surabaya
sudah berani membawa film Surabaya pada gelaran film internasional. Tepuk
tangan salut!

Dani Satria, produser How
To Tell
menjelaskan, film ini terlaksana karena semangat dari Lintas Sinema
Surabaya.

“Semangat kami memang bikin film. Karena itu, kami ingin
menggandeng arek-arek Surabaya lain untuk bisa bergabung. Karena bikin film itu
tidak bisa dilakukan satu-dua orang,” ujarnya.

Abra juga menegaskan, semangat para sineas Surabaya musti
terus dibangun.

“Sampai kapan sineas Surabaya bikin film sendiri-sendiri,
kenapa kita tidak coba meredam ego kita masing-masing untuk bikin film bareng.
Mari kita bikin Surabaya punya industri film yang keren. Saingan kita bukan
komunitas A dan komunitas B di Surabaya, tapi saingan kita itu…,” pungkasnya,
tak melengkapi kalimat.

Sehabis menonton, saya memang tak ingin mengkritik filmnya.
Saya lebih tertarik mengajak kalian semua yang mengaku pencinta film, datang
menonton pemutaran. Sebagaimana mestinya, seniman itu harusnya kerja sama,
bukan cuma rasan-rasan, apalagi saling menjatuhkan.

Maju terus perfilman Indonesia!