Terpilihnya adek Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke memunculkan kontroversi. Yang setuju menganggap mantan personel Coboy Junior itu adalah gambaran tepat untuk merepresentasikan karakter dari buku wajib para pencinta sastra, Bumi Manusia. Melihat portofolio aktingnya yang belum begitu banyak, sudah pasti kesepakatan itu muncul karena kesuksesan Dilan 1990.

Selain itu barangkali ada kelegaan. Film ini tidak memasang Reza Rahadian sebagai pemain utamanya. Seperti yang kita tahu sejak berhasil memerankan Habibie dengan gemilang dalam Habibie & Ainun (2012) rasanya tak ada peran yang tak mungkin dilakonkan Reza. Bahkan dalam film Kartini (2017) seandainya jenis kelamin tak diperhitungkan, barangkali Reza juga yang akan menjadi Kartini.

Sebetulnya ini menjadi kejutan tersendiri. Kenapa bukan Reza yang terpilih. Mengingat dia, lagi-lagi, sebelumnya dianggap berhasil menghadirkan sosok Minke dalam panggung teater Bunga Penutup Abad yang diadaptasi dari Bumi Manusia. Mungkin Hanung Bramantyo sebagai sutradara ingin move on, ingin membuat lembarannya sendiri. *masak kamu aja yang mau gitu mblo…

Kemunculan Iqbaal ini jadinya seperti oase. Bahwa aktor drama Indonesia bukan hanya Reza. Oase itu terasa makin segar karena Iqbaal memiliki berderet kapasitas yang bisa membuat orang mudah jatuh hati padanya. Tak pandang usia.

Lihat saja bagaimana sampai Luna Maya terang-terangan mengaku ngefans cowok yang baru balik dari sekolah di AS itu. Di mata aunty-aunty yang sukses mengenang masa lalu berkat Dilan, Iqbaal adalah pilihan terbaik.

Meskipun secara akting, Iqbaal nih masih menyimpan banyak misteri. Selain menjadi Dilan, belum ada peran kuat lain yang pernah dihasilkannya. Tapi yang misteri bukannya semakin menantang ya, aunty-aunty *blushing sendiri karena masuk kategori ini hehe..

Sementara yang kontra menganggapnya tidak pas. Ada rasa shock. Masih inget kan, enam tahun lalu adek Iqbaal ini jumpalitan di panggung sambil menyanyi Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeeaaa… (kata-kata eeaa itu kalau zaman sekarang rasanya selevel dengan hak e hak e atau hokya hokya Via Vallen dan Nella Kharisma ya saking tenarnya).

Lalu tiba-tiba si dedek eeaa eeea ini akan menjelma menjadi sosok nyata karakter yang selama berpuluh-puluh tahun hanya hadir di imajinasi pembacanya. Ada kekhawatiran. Ada ketidakrelaan. Gimana kalau Iqbaal menghancurkan segala bayangan yang sudah terbangun dan mengendap rapi dalam benak? Gimana kalau keintelektualitasan Minke hanya akan diterjemahkan lewat pemasangan kaca mata di wajah adek Iqbal yang imut-imut itu…*oh no, I’m blushing again ☺? Gimana dong, gimanaaaaa *mulai halu

Apalagi dalam salah satu wawancara, Hanung sebagai sutradara mengatakan jika untuk menghadirkan Minke dan Annelies dia cukup memasangkan baju yang tepat pada pemainnya. ”Jadi saya tidak perlu memberi buku yang tebal, tinggal saya kasih baju, itulah Minke dan Annelies. Tinggal bahasa Inggrisnya saya ganti menjadi bahasa Belanda,” begitu kata Hanung seperti saya kutip dari liputan6.com.

Para pemuja buku Bumi Manusia sudah pasti makin kebat kebit dunk dengan pernyataan ini. Saya sendiri jadi mikir. Ini mau bikin film atau mau ngajak adek Iqbaal karnaval siiihh….

Dengan kondisi tersebut wajar jika netizen Indonesia yang dikenal sangat nyinyir merasa seperti menemukan bahan bakar untuk semakin nyinyir. Apalagi Mawar De Jongh sebagai pemeran Annelies mengaku juga belum habis membaca ”buku tebal itu.”

Saya jadi langsung ingat The Danish Girl (2015). Ini salah satu film yang begitu nempel dalam ingatan. Sedikit banyak ada persamaan dengan Bumi Manusia. Salah satunya sama-sama diadaptasi dari novel. Hanya saja The Danish Girl yang diambil dari novel berjudul sama itu terinpirasi kisah nyata Lili Elbe, transgender pertama yang diketahui menjalani operasi kelamin.

Eddie Redmayne sebagai pemeran Einar Wegener yang nantinya menjadi Elbe melakukan sejumlah hal untuk menghidupkan karakternya. Dari membaca pseudo-biografi Elbe, menadaskan buku-buku yang ditulis para transgender, hingga menemui dan menghabiskan hari-hari bersama enam trangender dari berbagai latar belakang.

Hasilnya menurut saya memang luar biasa. Redmayne berakting sangat menawan. Dia berhasil menampilkan bagaimana ketika jiwa seorang perempuan terperangkap dalam tubuh laki-laki. Tak salah jika dia masuk nominasi Aktor Terbaik Piala Oscar pada 2016 untuk perannya itu. Hanya setahun setelah menerima Oscar kategori yang sama setelah menjadi Stephen Hawking dalam The Theory of Everything.

Lawan main Redmayne juga luar biasa. Alicia Vikander memerankan Gerda Wegener, istri Einar yang karena cinta justru mendukung langkah sang suami. Lupakan kegagalan performanya sebagai pengganti Angelina Jolie dalam reboot Tomb Raider. Di film ini Vikander menunjukkan totalitasnya hingga dia diganjar Aktris Pendukung Terbaik dalam Oscars.

Semua itu salah satunya didapat karena riset yang dalam tentang perannya. Tidak hanya membaca skrip. Tidak hanya saling mengintip isi playlist lawan mainnya untuk membangun chemistry.

Saya pasti akan ditimpuk para fans Fantastic Beasts karena menyamakan Iqbaal dengan Redmayne. Sedikitpun nggak. Mereka punya kelebihan masing-masing. Hanya membandingkan bagaimana cara mereka dalam menghidupkan karakter membuat saya jadi sedikit pesimistis dengan film produksi Falcon Pictures itu.

Apalagi Bumi Manusia ini bukan novel biasa. Ini adalah masterpiece. Mengawali sebuah tetralogi. Ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam pengasingan di Pulau Buru. Sempat dilarang beredar oleh Kejaksaan Agung pada 1981 karena dicurigai mengandung ajaran marxisme dan komunisme.

Namun toh penjualan buku ini tak terhenti hingga kini. Setidaknya buku ini sudah diterjemahkan dalam 40 an bahasa. Menjadi salah satu orang yang pernah membacanya pasti memberi kebanggan tersendiri. Maka dari itu saya membayangkan ada effort luar biasa ketika cerita ini akhirnya dijadikan film.

Namun saya nggak mau menimpakan beban pada Iqbaal. Apalagi konon dia sepertinya sudah berjodoh dengan peran ini. Di tahun pertamanya sekolah di Amrik dia memilih buku Bumi Manusia sebagai materi ujian Bahasa Indonesianya *duh udah cool cute, pinter lagi…

Tapi menurut saya bagus nggaknya sebuah film, keluar tidaknya kekuatan akting para aktor, sutradaralah kuncinya. Segoblok-gobloknya Karius mencegah bola Real Madrid masuk ke gawangnya, maka Kloop adalah pemegang kunci terbesar kenapa Liverpool tampil kedodoran begitu jimat mereka Salah keluar lapangan.

Hanung memang merupakan sutradara besar. Banyak filmnya yang sukses. Tapi tak sedikit juga yang flop. Dia termasuk sutradara kejar tayang produktif. Tahun ini saja sudah dua filmya dirilis. Benyamin Biang Kerok dan The Gift. Apakah sistem kerja semacam itu akan memengaruhinya ketika memproduksi Bumi Manusia? Wallahuallam hehe…

Maka jangan bebankan kontroversi ini pada adek Iqbaal seorang. Itu berat. Dia mungkin kuat. Sangat kuat malah. Dia sudah pernah punya banyak haters saat masih jadi personel boyband anak-anak, dia juga disepelekan abis-abisan ketika dipilih jadi Dilan. Toh Iqbaal tetap melaju karirnya. Tapi aunty-aunty ini yang nggak rela.

Meski begitu bukan tak mungkin hal yang dimulai dengan berbagai skeptisme ini akan menjadi sebuah karya epik. Ingat saja bagaimana Iqbaal yang semula dicerca ternyata bisa membalik keadaan dengan tampilan asyik penuh gombal sebagai kekasih Milea. Masih ada waktu sekitar oh my cuma satu setengah bulan bulan (ikut dipotong cuti bersama Idul Fitri 12 hari itu nggak sih) sebelum syuting yang bisa dilakukan untuk mematangkan karakter.

Selain itu ada Sha Ine Febriyanti yang ikut bermain sebagai tokoh sentral lainnya, Nyai Ontosoroh. Meski sudah lama sekali nggak main film yang booming tapi dia jagoan panggung teater. Ditambah juga konon Falcon ini salah satu rumah produksi dengan modal buanyaaaaakkk… Kadang-kadang (lebih pasnya hampir selalu) uang kan bisa membeli semuanya.

Menyambut Bumi Manusia ini, saya sementara memilih pasang standar rendah saja dulu. Kalau bagus itu akan menjadi kejutan besar yang menyenangkan bagi perfilman Indonesia. Kalau flop, ya nggak apa-apa. Toh dari awal juga sudah nggak berharap banyak.

Paling saya usul saja kepada Hanung untuk mengganti judulnya menjadi Minke Milineal 2018 atau jika setara FTV di Indosiar judulnya ganti aja jadi Guruku Ternyata Ibu Mertuaku. Emm tapi kalau hasilnya ala-ala FTV SCTV maka Cintaku Tertambat Pada Hati Anak Guruku bisa jadi pilihan. Duh susah kan nggak ikutan nyinyir….😂😂