Ok, ok, saya tahu judul tersebut pasti membuat banyak orang protes. Tapi, setidaknya simak dulu penjelasannya. Ya, ya, argumen saya kemungkinan besar tak akan membuat kamu langsung setuju. Namun, berkurangnya tingkat protes sudah menjadi keberhasilan bagi saya.

Saya adalah penggemar Wiro Sableng garis keras. Kali pertama membaca ceritanya kelas IV SD dan terakhir membeli novelnya di kios terminal Bungurasih ketika hendak apel pacar saya yang waktu itu di luar kota.

Dan, saya mendapat kabar duka mengenai Bastian Tito, pengarang Wiro Sableng, justru dari penjual kios yang biasa saya beli novelnya. Beliau meninggal pada 2 Januari 2006. Sedangkan saya baru tahu Bastian Tito meninggal pada Agustus. ’

’Kok lama ndak terbit Wiro-nya, Mas?’’ tanya saya. ’’Lho, sampeyan gak eruh ta?’’ tanya si penjual. ’’Eruh opo, Mas?’’lanjut saya. ’’Sing ngarang wis mati,’’ jawabnya.

Seketika itu saya merasa sebagai penggemar yang hina dina sekali. ’’Garis keras cap opo?’’ batin saya. Yang membuat saya makin merana, ngaku penggemar, gak ngerti penulis favoritnya sudah meninggal. Tahunya telat sangat lama, dari penjual kios langganan pula.

Juga merasa sangat kehilangan. Saya masih penasaran, siapa sebenarnya perempuan yang dipilih Wiro. Memang kecenderungan ke Ratu Duyung. Tapi Luhrembulan, Bidadari Angin Timur, Dewi Payung Tujuh, semuanya cantik-cantik dan masih punya peluang.

Juga, penasaran setengah mati ingin diceritakan mengenai tokoh nomor satu di dunia persilatan, yakni si Raja Penidur. Meski disebut-sebut sebagai tokoh nomor satu, Bastian Tito tak pernah menceritakan aksi silat tokoh tersebut. Hanya gimmick sesekali, tokoh itu bangun sebentar, mengucapkan petunjuk penting bagaimana menyelamatkan dunia persilatan, lalu tidur lagi. Bisa setahun ke depan. Lalu pergi dengan digotong dua pelayan.

Baiklah, mari segera simak penjelasan agung saya. Kenapa Wiro Sableng lebih menarik bagi saya ketimbang Avengers: Infinity War.

Yang pertama adalah soal CGI. Oh iya, tentu dari rekayasa digital, Avengers jauh lebih baik. Tapi, gak adil jika dibandingkan seperti itu. Yang paling realistis, perkiraan saya, CGI Wiro Sableng akan sedikit lebih baik ketimbang Pendekar Tongkat Emas, film silat Indonesia 2014, yang disebut-sebut terbaik pada zamannya.

Kalau melihat trailer-nya sih cukup menjanjikan. Setidaknya bisa berharap pukulan Sinar Matahari andalan Wiro berupa sinar terang yang membuat pohon gede bisa jebol. Bukan seperti pohon kecil dikasih mercon seperti dulu dalam sinetronnya tiap Minggu pukul 10.00 itu (meski waktu itu sebenarnya cukup puas, hahaha). Atau efek angin yang bisa membuat wow ketika Wiro mengeluarkan pukulan Benteng Topan Melanda Samudera.

Yang kedua adalah kreativitas.

Salah satu yang membuat saya berharap banyak adalah saat muncul trailer versi Deadpool. Melamar menjadi tim superhero antihero dengan karakter konyol merupakan ide yang brilian. Apalagi digarap dengan kreatif pula.

Hidup di gunung 17 tahun tanpa menggunakan ponsel. Hmmm, sedikit garing juga sih. Tapi karena penggemar Wiro Sableng, saya langsung ngakak.

Bandingkan dengan guyonan-guyonan di Marvel. Terutama saat Spiderman bertemu Dr Strange. Mungkin ada yang tertawa, tapi saya sih enggak.

Yang ketiga adalah villain.

MCU (Marvel Cinematic Universe) dengan bangga mempersembahkan supervillain, Thanos. Bagi saya, supervillain my ass. Thanos bagi saya tampak seperti diktator setengah gila yang kesepian. Yang tiba-tiba punya ide untuk melenyapkan setengah alam semesta. Gak mashookkk, bosque. Bagi orang Surabaya, ide uopooo iku. Jika Thanos mengungkapkan ide itu ke bonek, pasti sudah dikaploki.

Apalagi, Thanos bisa teleportasi dan punya kemampuan terraforming (menghidupkan planet mati). Kenapa gak ke planet Yupiter yang kosong terus menjadikannya bisa ditempati. Aneh kan jalan pikirannya.

Bandingkan dengan karakter Pangeran Matahari. Dengan bergelar Pangeran Segala Congkak, Segala Akal, Segala Ilmu, pendekar jahat dari Gunung Merapi tersebut benar-benar melambangkan kejahatan sempurna. Dia sangat licik, tak segan-segan melakukan tipu daya, nyaris tak ada batasan moral.

Pendek kata, pemikiran Niccolo Macchiavelli tak lebih dari sedotan Jasjus belaka.

Bahkan, soal kesaktian, saya ragu apakah Thanos bisa berdiri tegak setelah terkena Pukulan Merapi Meletus. Pukulan yang membuat alam di sekitar sasaran menjadi seperti blackhole.

Jadi, Thanos bagi Pangeran Matahari tak lebih dari remukan peyek pecel madiun belaka. Apa asyiknya melihat film aksi dengan tokoh penjahat yang melankolis seperti Thanos.

Demikian gaes, tiga faktor yang membuat saya yakin Wiro Sableng lebih baik ketimbang Avengers. Walaupun sebenarnya sih, bagi penggemar Wiro Sableng garis keras, dikasih Wiro Sableng dengan penggarapan seperti sinetron mingguan saja sudah senang, hehehehe…