Menjelang akhir tahun, Tim Nasional Indonesia dari kelompok umur U-12, U-16, U-19, U-23 hingga senior memiliki banyak agenda turnamen. Indonesia U-12 akan bersiap menuju Danone Nations Cup, U-16 saat ini sedang mengarungi kompetisi kualifikasi Piala Asia (AFC) U-16 2020, sementara Timnas Indonesia U-19 juga menyongsong Piala Asian U-19 2020.

Dengan sederet prestasi mentereng Timnas Indonesia di berbagai kelompok usia muda yang sudah bisa kita simak hasilnya, lah kok timnas senior justru melempem dalam kompetisi kualifikasi Piala Dunia. Seakan tak malu dengan adik-adik yang masih berusia muda, timnas senior sudah menelan dua kekalahan dari dua pertandingan—alias kalah teros BGST.

Indonesia bahkan kalah dari musuh bebuyutannya Malaysia dan lawan sesama Asia tenggara lainnya yakni Thailand. Dengan dua kekalahan ini, sudah dapat dipastikan suporter setia timnas seakan ingin mbacot, muntah nanah, hingga pengen nyantet Simon McMnemy.

Eh tapi sabar dulu gays, kita nggak bisa teros asal menyalahkan Om Simon.

Memang, rasane gregetan ndelok timnas main. Sangat berbeda ketika dibawah asuhan Luis Milla. Timnas di bawah arahan Simon lebih sering memainkan bola-bola atas, yang sudah dari dulu bukan merupakan strategi andalan Indonesia. Ini diperparah dengan buruknya organisasi pemain antar lini.

Beberapa punggawa berdalih, padatnya jadwal liga membuat para pemain lebih mudah lelah. Tapi apakah benar? Lalu bagaimana dengan timnas lain yang liganya juga sedang berjalan?

Menurut opini saya pribadi sih, seharusnya Liga 1 harus break dulu, biar fokus kualifikasi Piala Dunia 2022 aja. Serupa dengan jeda Internasional yang banyak dilakukan di liga-liga di negara Eropa. Liga 1 harusnya bisa menirunya biar bisa memberi waktu recovery yang cukup bagi pemain timnas.

Tapi hal ini tidak serta merta bisa dijadikan alasan atas kekalahan Indonesia dengan Malaysia dan Thailand kemarin. Terlebih ketika sudah unggul dua angka atas Malaysia, yang kemudian justru malah comeback jadi 2-3.

Malaysia itu seperti musuh bebuyutan Indonesia. Pepatah “Kalah sama negara manapun tak jadi masalah, asal tak kalah dengan Malaysia” sudah sering kita dengar. Saya juga setuju dengan hal ini. Sakit hati karena kalah besar lawan Islandia nggak akan seberapa sakit dibanding kalah karena di-comeback-in Malaysia cuk!

Pokoke nek musoh Malaysia wajib menang. Begitulah kira-kira.

Semua hasil negatif timnas senior seolah berbanding terbalik dengan prestasi prestisius yang terus diperoleh Timnas Indonesia muda. Kok bisa gitu ya? Pas sek enom, maine wapik, membanggakan, pokoke jos. Eh tapi setelah dadi senior, maine malah nggawe suporter emosi.

Menurut saya, timnas senior harusnya bisa mengadaptasi sistem kepelatihan tim seperti pada timnas muda.

Kedua pelatih kepala timnas U-19 dan U-23 adalah Fachri Husaini dan Indra Sjafri. Keduanya jugalah yang menjadi pelatih U-16 dan U-19 beberapa tahun sebelumnya. Jadi, kedua pelatih ini sudah menjadi nahkoda timnas muda selama bertahun-tahun.

Sosok pelatih yang sama sejak mereka usia muda jelas sangat mempengaruhi progress skuad Garuda Muda. Skuad yang diasuh orang yang sama selama bertahun-tahun, tak hanya membuat skuad mampu beradaptasi dengan strategi yang diterapkan, tapi juga menciptakan kedekatan emosional antara pemain dengan pelatih.

Hal ini yang tidak ada di timnas senior. Sejak pemecatan Alfred Riedl 2011 lalu, Timnas senior seakan tak betah memailiki pelatih dengan waktu yang lama. Wim Rijsbergen (2011), Aji Santoso (2012), Nil Maizar (2012-2013), Luis Manuel Blanco (2013), Rahmad Darmawan (2013), Jacksen F Tiago (2013), Pieter Huistra (2015), Alfred Riedl (2016), Luis Milla (2017-2018) dan 2019 ini, diasuh Simon McMnemy.

Bayangkan, hanya dalam waktu delapan tahun, Timnas Indonesia sudah sembilan kali gonta-ganti pelatih!

Harapan akan permainan cantik Timnas senior sebenarnya sudah muncul ketika pelatih tenar, Luis Milla menjadi nahkoda timnas. Tapi harapan suporter Indonesia tersebut pupus karena Milla juga menjadi “korban” carut-marut PSSI kala itu.

Setahun lebih bersama timnas, Milla didepak dari kursi kepelatihan. Padahal waktu itu, permainan Indonesia sudah enak dipandang, meskipun belum mendatangkan trofi.

Saya tidak menyebut pelatih yang cocok harus Luis Milla. Indonesia punya banyak pelatih hebat, salah satunya adalah Rahmad Darmawan. Atau, PSSI bisa mencoba pelatih yang berasal dari negara Asia yang sudah memiliki kemajuan dalam sepak bola, seperti Korea atau Jepang.

Indonesia bisa meniru Kamboja yang menunjuk Keisuke Honda sebagai manajer timnas mereka. Tim Futsal Timnas indonesia saat ini juga dilatih pelatih Jepang.

Dan, jangan lupakan salah satu faktor penting dalam sebuah sepak bola: waktu. Berikan waktu untuk pelatih membangun tim dan memperbaiki berbagai aspek dalam kinerja. Niscaya, timnas akan bangkit.

Tapi, ehem, agar bisa mencapai itu semua, reformasi di tubuh PSSI tampaknya wajib dilakukan lebih dulu. Yah, nunggu lagi deh..