Elephant Kind akhirnya mengeluarkan album terbaru dengan
tajuk super-pretensius: The Greatest
Ever.
Sebagai mantan anak bawang di sebuah band lokal, saya memang belum
pantas untuk sok mengulas album ini. Apalagi secara historis, bisa dibilang saya
baru mengikuti pergaulan musik anak-anak indie.

Patut diketahui kalau dulunya saya musik saya hanya mentok
pada D’ Bagindaz, Dadali, Hijau Daun, ST12 dan tentu saja dangdut koplo
pantura. Tapi karena perempuan yang saya cintai menggemari Elephant Kind, mau
tidak mau saya pun ikut arus.

Jadi, terima kasih untuk kalian yang masih sudi membaca
ulasan dari poser macam saya, dan bertahan sampai titik ini.

Berbicara tentang Elephant Kind, saya mulai mengenal band
ini sejak 2016 lalu. Lagu pertama yang membuat saya suka, tentu saja Beat the Ordinary. Hanya itu. Tapi
setelah dikenalkan lagi oleh perempuan spesial ini, saya mulai rutin mendengarkan
katalog Elephant Kind yang lain.

Adhel nama perempuan itu. Entahlah, kalian bisa sebut kami
pacaran, tapi sejatinya saya lebih suka menyebutnya rekan. Tanpa ada tujuan
pamer dan hasrat curhat colongan, saya mengakui kalau selera Adhel sungguh
bagus. Apalagi 31 Maret lalu, dia mengajak saya nonton live gigs Elephant Kind
yang kebetulan main di Surabaya.

Alhamdulillah konsernya gratis, jadi saya hanya tinggal
berpikir mentraktir makan Adhel. Show bertajuk Youthporia ini bertempat di Ubaya. Janjinya sih Elephant Kind
bakalan main pukul tujuh malam, tapi molor sampai pukul sembilan. Tak apa, asal
ada Adhel yang menemani saya.

Gerimis kemudian turun tepat saat Elephant Kind beraksi.
Saya tentu saja tidak berteduh—arep minggir nang endi cok wong konser—dan masih
menggamit tangan Adhel. Berjibaku bersama penonton lain, mencoba menikmati
tembang dari album The Greates Ever,
yang jadi semakin mantap dengan iringan gerimis.

Mantap.. dan hangat.

Pleaser didaulat
sebagai nomor pembuka. Bersama sekitar 300an lebih penonton, kami menikmati
tembang ini dengan berjoget tipis-tipis. Yahud sekali. Saya tidak tahu cara
mendeskripsikan bagaimana itu joget tipis-tipis. Intinya goyang saja.

Sebelumnya, saya minta maaf karena sok jadi polisi skena di
sini. Konser Elephant Kind kali ini rasanya kurang terasa greget. Beda dengan
saat pertama kali saya kebetulan nonton di Soundrenaline
2018. Kekecewaan akan terasa karena adanya
ekspekstasi. Dan sebagai mantan penggemar Charlie Van Houten, harapan saya
tampaknya ketinggian.

Tapi itu seolah tak jadi masalah karena yang mengganjal
sebenarnya adalah banyaknya penonton yang nggak hapal lagu. Otomatis, ini
membuat mereka nggak larut, nggak sampai joget-joget. Meskipun saya akui ada
beberapa lagu di album baru yang belum saya paham sepenuhnya.

Setelah itu, penonton pecah saat dua lagu terakhir dilempar.
Montage, membuat jamaah sidang
Elephant Kind malam ini mengangkat tangan ke atas, seolah menghamba pada Bam
Masto. Di lagu penutup Better Days, semua
penonton larut, berjoget bersama dalam balutan gerimis manja Surabaya.

Ouch asyiknya..

Kalau didengarkan lagi, album baru Elephant Kind yang
dinyanyikan pas konser terasa sangat berbeda dengan album pertamanya. Di album
ini dari sepuluh lagu, yang menurut saya bagus hanya tiga tok: Watermelon Ham yang lo-fi, Better Days yang ala-ala new wave disko
80an, dan Lights Up yang menenangkan
hati.

Yang hilang dari The
Greatest Ever
mungkin adalah nuansa up-beat
yang jadi ciri khas Elephant Kind. Tak ada lagi nuansa seperti lagu lawas Beat the Ordinary, Keep it Running, dan
lagu lainnya di album City J. padahal
sebagai pendengar musik hypebeast, aku tuh suka lagu yang banyak up-beat nya. Apalagi
kalau diputar di Spotify Premium Mod Apk saat menemani kerja.

Sebenarnya obsesi Elephant Kind jadi band kosmopolit, menjadikannya
semakin berwarna dan komplit. Tapi saya khawatir eksplorasi musikalnya bisa
jadi kemana-mana. Bayangkan, bisa saja ‘kan Bam Masto Cs. pindah haluan ke
musik cengkok menukik yang dulu sempat saya puja-puji?

Tapi lupakan dulu pembahasan ala snobish musik saya yang rada njelimet. Sebagai orang berkecimpung ranah
di grafis visual, saya cenderung lebih suka mengapresiasi cover The Greates Ever ini. Apa makna yang
sebenarnya ingin disampaikan band dengan cover bergambar bungkus kondom merah?

Saya kemudian berpikir, opo Elephant kind iki mari ngadakno sex
party ugal-ugalan terus terinspirasi dari
The Greatest Sex,
atau jangan-jangan mereka dapat endorse dari Fiesta (ehem,
merek chicken nugget?). Jancok, pikiranku kok mesti rusuh seh?

Setelah saya telusuri semua lirik lagu album The Greatest
Ever—thanks Google Translate—di lagu One,
Light’s Up,
dan Maccas, memang terdapat
lirik bernuansa stensil yang disematkan. Elephant Kind tampaknya sangat berani
menyuarakan hal seintim itu pada musiknya. Padahal, seks masih dianggap hal
tabu di masyarakat.

Tabu tapi enak.

Untungnya RUU Permusikan belum belum disahkan. Kalau sudah,
wah, bisa kena pidana nih Bam Masto sekalian karena bermain-main ke ranah seksualitas.

Masih berbicara soal grafis, Elephant Kind juga sudah
mengeluarkan Official Lyric Video di channel YouTube-nya. Kesemuanya dikemas
dengan artwork ilustrasi bergaya pop art
60an, ditunjukkan dengan banyaknya perpaduan tone warna marun, biru tua, dan
ungu.

Hmm, kalau artworknya seperti ini sih, saya juga bisa
buatkan. Kenapa bukan saya saja yang garap proyek ini, bung! Saya butuh
portofolio yang keren—dan tentunya cuan bangsat! Nyatanya saya mereview album
ini hanya untuk tujuan promosi kemampuan saya. Maafkan.

Overall, menurut saya pribadi, album The Greatest Ever sepertinya tidak terlalu cocok disebut
terbaik  sepanjang masa. Elephant are not really kind. Album yang
menurut saya cenderung biasa-biasa saja, ya walaupun ada beberapa lagu yang pas
dijadikan soundtrack bercinta.