Orang bilang, tak akan ada yang mengenang pemenang kedua di final. Tak ada yang akan mengingat pecundang. Orang tak ingin mengingat bagaimana Anda kalah, tapi akan selalu bercerita tentang bagaimana Anda menang. Terutama jika itu kemenangan dramatis.

First is first. Second is nothing,” kata Manager Liverpool Bill Shankly.

Piala Dunia adalah anomali. Juara memang tercatat dalam buku tebal sejarah sepak bola dunia. Namun, momentum antarnegara empat tahunan itu juga menghadirkan hal-hal kecil. Terkesan sepele, tapi melekat dalam memori pencinta sepak bola.

Jika perebutan gelar juara diibaratkan narasi kanonik, dia tak akan terbentuk tanpa serakan cerita dan momentum kecil yang seringkali dilakukan individu, sengaja atau tidak.

First is first. Second is nothing.

Digelar sejak 1930 hingga 2014, setidaknya ada sepuluh cara yang bisa dilakukan (sengaja atau tidak) oleh siapapun untuk dikenang dalam sejarah Piala Dunia. Ada cara yang unik, lucu, dan menggembirakan. Ada pula yang menyedihkan dan di luar batas kewajaran.

Pelakunya bukan hanya pemain, tapi juga wasit dan seorang syeikh.

  1. Selebrasi unik usai mencetak gol

Gol adalah tujuan utama pertandingan sepak bola. Tanpa gol tak akan ada kemenangan, dan tak ada gol yang mudah. Sepak bola bukan sekadar urusan mencapai tujuan, tapi juga menghalangi lawan untuk mencapai tujuan.

Tingkat kesulitan mencetak gol ini kian meningkat, seiring dengan semakin besarnya perhatian semua tim untuk tak hanya mencetak gol, tapi juga menghalangi lawan mencetaknya. Ini terlihat dari rata-rata jumlah gol per pertandingan yang kian menurun dari periode ke periode.

Dalam periode 1930–1960, rata-rata setiap pertandingan Piala Dunia mencatatkan minimal tiga gol. Tertinggi adalah rata-rata gol dalam Piala Dunia 1954 di Swiss, yakni 5,4 gol per pertandingan. Terendah adalah rata-rata gol dalam Piala Dunia 1958 di Swedia: 3,6 gol.

Dalam periode 1960–1990, urusan mencetak gol semakin sulit. Rata-rata tertinggi ada pada Piala Dunia 1970 di Meksiko dengan tiga gol per pertandingan. Rata-rata terendah terjadi di Piala Dunia 1990 di Italia dengan 2,2 gol per pertandingan.

Periode 1994–2014 adalah era irit gol. Piala Dunia 2006 di Jerman dan 2010 di Afrika Selatan sama-sama mencatatkan rata-rata 2,3 gol per pertandingan. Rata-rata tertinggi adalah 2,7 gol per pertandingan pada Piala Dunia 1998 di Prancis.

Tingginya tingkat kesulitan itu berbanding lurus dengan selebrasi pemain setelah mencetak gol. Jika pada era 1930–1970 setiap gol dirayakan sewajarnya dengan melompat kegirangan layaknya anak kecil mendapat permen atau bersalaman dengan rekan satu tim seperti orang yang bertemu dalam kondangan, generasi 1980-an hingga saat ini lebih ekspresif.

Siapapun tak akan melupakan raut muka pemain Italia, Marco Tardelli, seusai mencetak gol ke gawang Jerman Barat dalam final Piala Dunia 1982. Begitu bola melesak masuk ke gawang Harald Schumacher, dia berlari bagaikan orang kesetanan sembari berteriak sekencang-kencangnya hingga guratan otot di wajah dan lehernya yang mengencang terlihat.

Orang menyukai perayaan Tardelli karena identik dengan ”passion” dalam sepak bola.

Selebrasi lain yang dikenang adalah tarian Roger Milla –pemain Kamerun 38 tahun– dalam Piala Dunia 1990. Setiap berhasil mencetak gol, dia berlari ke sudut lapangan, berjoget menggoyangkan pinggang sembari memegang tiang bendera penanda sepak pojok. Piala Dunia di Italia senantiasa identik dengan joget Milla hingga hari ini.

Pemain Brasil, Bebeto, mencetak gol ke gawang Belanda dalam perempat final Piala Dunia 1994. Tak banyak orang yang mengingat proses gol tersebut. Namun, orang akan selalu mengingat bagaimana Bebeto merayakannya sembari menggoyangkan dua tangan layaknya menimang bayi diikuti seluruh pemain Brasil.

  1. Cetak gol kontroversial

Apa yang akan diingat dari Piala Dunia 1986? Tepat, gol ”tangan Tuhan” Diego Armando Maradona ke gawang Inggris yang dijaga Peter Shilton. Tayangan ulang siaran televisi jelas memperlihatkan bagaimana tangan kiri Maradona bergerak lebih cepat untuk menepis bola masuk ke gawang daripada tangan Shilton.

Publik Inggris berteriak marah. Namun, wasit Tunisia Ali bin Nasser mengabsahkannya.

Maradona mengulangi aksi dengan tangan itu pada Piala Dunia 1990 saat Argentina mengalahkan Uni Soviet 2-0. Kali ini bukan untuk mencetak gol ke gawang lawan, tapi menyelamatkan gawang Argentina dari kebobolan.

Satu gol kontroversial lainnya dicetak pemain Inggris Geoff Hurst ke gawang Jerman Barat dalam final Piala Dunia 1966. Ada perdebatan panjang apakah bola tendangan Hurst setelah membentur mistar gawang masuk ke gawang ataukah belum melintasi garis gawang. Tak ada yang bisa menjawab. Namun, gol itu akan lebih dikenang daripada lima gol lainnya dalam final yang berakhir dengan skor 4-2 untuk Inggris itu.   

  1. Ludahi rambut keriting lawan

Piala Dunia 1990 di Italia sangat membosankan dengan minimnya gol yang tercipta. Rata-rata gol per pertandingan hanya 2,2. Untunglah ada pertandingan babak 16 besar antara Jerman Barat dengan Belanda.

Ini dua rival bebuyutan. Pertandingan berjalan panas. Penyerang Jerman Rudi Voller dan pemain Belanda Frank Rijkaard terlibat perkelahian. Keduanya diusir dari lapangan pada menit ke-22. Kemudian, Rijkaard mengakhiri episode itu dengan meludahi rambut keriting Voeller saat berjalan ke luar lapangan.

  1. Ciptakan gol sensasional dan berkelas

Tidak bisa tidak. Dalam sebuah pertandingan sepak bola, statistik mencatat hasil akhir. Namun orang akan mengenang gol indah. Pertandingan 16 besar antara Inggris melawan Argentina berakhir dengan kekalahan Tim Tiga Singa melalui adu penalti.

Namun, publik sepak bola tak akan lupa bagaimana seorang anak muda dari Liverpool yang belum genap berusia 19 tahun melakukan sprint meliuk melewati sejumlah pemain belakang Argentina dan mencetak gol pada menit 16: Michael Owen.

Final Piala Dunia 1958 di Swedia antara Brasil melawan Swedia juga dikenang karena gol indah anak muda berusia 17 tahun bernama Pele ke gawang Svensson. Dia kontrol bola, tendang melewati kepala, membalikkan badan, dan melepaskan tembakan keras sebelum bola menyentuh tanah.

  1. Bikin ulah lucu dan kontroversial

Orang akan selalu mengenang alasan kenapa penyerang Uruguay Luis Suarez punya gigi tonggos: untuk mengigit pemain lawan. Itu terjadi pada fase penyisihan Grup D Piala Dunia 2014 di Brasil. Uruguay menang 1-0.

Tapi orang tak terlalu ingat siapa pencetak gol itu dan lebih mengingat bagaimana Suarez menggigit bahu pemain Italia Giorgio Chiellini saat berebut bola. Tak butuh waktu lama, aksi Suarez tersebut menginspirasi lelucon parodi di media sosial dan dunia nyata.

Tandukan kepala Zinedine Zidane ke dada pemain Italia Marco Materazzi membuat orang lupa bahwa keduanya mencetak gol sebelum pertandingan diakhiri dengan adu penalti dalam final Piala Dunia 2006.

Tandukan kepala itu membuka perdebatan pro dan kontra lebih panjang daripada batas waktu pertandingan sepak bola. Italia menjadi juara dunia, namun Zidane dan Materazzi adalah aktor utama yang membuat final itu bakal dikenang.

  1. Wasit membuat keputusan ceroboh

Wasit menjadi faktor terpenting yang bisa mengubah arah pertandingan, terutama dalam pertandingan dengan tensi tinggi seperti Piala Dunia. Pada 2006, wasit Graham Poll dari Inggris menjadi bahan tertawaan karena mengeluarkan tiga kartu kuning untuk satu pemain dalam pertandingan Kroasia melawan Australia dalam fase grup.

Ia memberikan tiga kartu kuning untuk pemain bertahan Kroasia Josip Simunic. Sesuatu yang seharusnya tak dilakukan wasit yang sudah berpengalaman memimpin Piala Eropa 2000 dan Piala Dunia 2002.

  1. Mengintervensi pertandingan

Presiden Federasi Sepak Bola Kuwait Sheikh Fahad Al-Sabah pernah bikin heboh Piala Dunia 1982. Ia turun ke lapangan untuk memprotes gol pemain Prancis Alan Giresse pada menit 78. Ia menganggap gol itu tidak sah karena terdengar peluit dari wasit Myroslac Stupar. Ternyata, peluit terdengar dari tribun penonton. Namun, belakangan protes itu dikabulkan dan Stupar akhirnya menganulir gol tersebut.  

  1. Juara tanpa mahkota

Sebutan ini untuk tim-tim yang bermain impresif dan memikat, kendati pada akhirnya kalah. Catatannya begitu panjang, termasuk tim underdog. Hungaria pernah bermain luar biasa pada Piala Dunia 1954 sebelum dikalahkan Jerman Barat di final.

Belanda dianggap memberikan patron terhadap pressing football melalui filosofi Total Football pada Piala Dunia 1974, kendati harus kalah dari Jerman Barat. Brasil dalam Piala Dunia 1982 dan 1986 disebut-sebut sebagai tim dengan permainan terindah dalam sejarah Piala Dunia yang gagal memperoleh trofi.

Tim-tim underdog juga akan dikenang karena kejutan yang dibuat, seperti Korea Utara yang menekuk Italia pada 1966 dan Amerika Serikat yang mengalahkan Inggris pada Piala Dunia 1950. Namun, tentu saja tidak ada yang bisa melupakan kedahsyatan Korea Selatan dalam Piala Dunia 2002 yang menembus empat besar dengan menghancurkan Italia dan Spanyol.

  1. Kiper dengan aksi luar biasa dan eksentrik

Ada dua nama yang layak disebut: Gordon Banks dan Rene Higuita. Banks adalah kiper Inggris yang membuat penyelamatan ajaib dengan menepis bola hasil sundulan bintang Brasil Pele yang 99 persen diperkirakan masuk ke gawang.

Sampai saat ini, penyelamatan Banks disebut-sebut sebagai penyelamatan terbaik dalam Piala Dunia. Sementara Rene Higuita adalah kiper Kolombia nan eksentrik. Dia adalah sweeper-keeper sejati yang berani maju menyongsong bola dan memapak serangan lawan jauh dari kotak penalti, menggiring bola bagaikan pemain gelandang kawakan.

Namun, tentu saja aksi yang paling banyak dikenang adalah scorpion kick. Yakni, penyelamatan penuh risiko dengan cara menendang bola secara akrobatik dan membuat bentuk kaki ekor kalajengking.

  1. Perkelahian massal

Memalukan, tapi akan selalu dikenang. Tentu saja kita harus memasukkan pertandingan Chile melawan Italia pada Piala Dunia 1962 dalam daftar. Perkelahian itu dipicu kemarahan pemain Chile (yang merepresentasikan kemarahan rakyat negara) terhadap artikel yang ditulis dua wartawan Italia soal persiapan Piala Dunia.

Artikel itu sinis dan dinilai memojokkan negara yang berusaha bangkit setelah gempa bumi dahsyat. Pembalasan ditunjukkan dengan bogem dan tendangan kungfu sepanjang 90 menit pertandingan.