Harry Kane memiliki misi dua perburuan: juara Piala Dunia sekaligus sepatu emas alias pencetak gol terbanyak dalam turnamen ini. Dua misi ini memasuki babak menentukan: semifinal menghadapi Kroasia.

Misi perburuan sepatu emas agak terbuka lebar, mengingat pesaing terdekat Kane sudah bertumbangan. Cristiano Ronaldo yang mengemas empat gol sudah dipulangkan lebih dulu oleh Uruguay di babak 16 Besar. Begitu juga Denis Cheryshev harus menjadi penonton di negeri sendiri setelah Rusia dikalahkan Kroasia di perempat final.

Kane masih memuncaki daftar pencetak gol terbanyak dengan enam gol. Pesaing terdekatnya yang masih berpeluang menyaingi adalah Romelu Lukaku (Belgia) yang sudah mengemas empat gol dan Kylian Mbbape maupun Antoine Griezmann (Prancis) yang masing-masing mencetak tiga gol.

Kane berpeluang menambah jumlah gol dalam pertandingan semifinal melawan Kroasia. 

Belgia sudah dikandaskan Prancis 0-1 di semifinal dan tak satu pun dari rival terdekat Kane yang mencetak gol. Peluang terakhir Mbappe dan Griezmann untuk mencetak gol lebih banyak ada pada babal final. Sementara Lukaku ditunggu pertandingan perebutan tempat ketiga.

Kane berpeluang menambah jumlah gol dalam pertandingan semifinal melawan Kroasia. Hanya butuh dua gol untuk menyamai capaian Ronaldo dalam Piala Dunia 2002, Guillermo Stabile pada Piala Dunia 1930, dan Ademir pada Piala Dunia 1950.

 
Pencetak gol terbanyak Piala Dunia dalam satu turnamen sepanjang masa adalah pemain Prancis Just Fontaine dengan 13 gol pada 1958. Namun sejak Piala Dunia diikuti 24 negara pada 1982 – 1994 dan 32 negara pada 1998 hingga saat ini, pencetak gol terbanyak lebih banyak mentok pada capaian enam gol. Bahkan Miroslav Klose pada 2006 dan Thomas Muller dan David Villa pada 2010 masing-masing hanya mencetak lima gol.
 
Ambisi mengangkut sepatu emas pernah disampaikan Kane kepada FourFourTwo. “Kami berharap mencetak banyak gol dan beberapa di antaranya oleh saya. Sebagai seorang ujung tombak, mata Anda selalu terpancang pada Golden Boot,” katanya. 
 
Masalahnya, Kroasia yang akan dihadapi Inggris bukan lawan mudah. Tim yang diasuh Zlatko Dalic ini memiliki pertahanan terhitung kokoh. Selama fase grup mereka hanya kebobolan sekali. Padahal persaingan Grup D terhitung ketat denga dihuni Argentina, Nigeria, dan Islandia. Sementara saat melawan Denmark di fase 16 Besar dan Rusia di fase perempat final, Kroasia total kebobolan tiga gol di luar adu penalti.
 
Dalic menyukai formasi 4-2-3-1 yang ofensif. Saat melawan Rusia, Luka Modric dan kawan-kawan menguasai bola 62 persen dan melepaskan 17 kali tembakan. Barisan belakang Kroasia tertumpu pada Dejan Lovren. Bek yang bermain untuk Liverpool ini memiliki spesialisasi duel-duel udara. Sebanyak 23 kali duel udara dimenangkannya, terbanyak di Kroasia. Dia juga sukses melakukan 18 sapuan, empat intersep, dan dua tekel.
 
Kane tak akan terlampau suka berhadapan dengan Lovren, terutama di udara. Apalagi Lovren hapal betul dengan gaya main dan tabiat Kane yang hobi melakukan diving. Hasil imbang 2-2 antara Liverpool melawan Hotspur yang diwarnai keputusan kontroversial wasit terhadap aksi diving Kane tentu masih diingat Lovren.
 
Namun Kroasia dihantui kelelahan. Pertandingan 16 Besar melawan Denmark dan perempat final melawan Rusia harus dilalui dengan adu penalti.
 
 
Namun ini Piala Dunia. Bukan Liga Inggris. Tak mudah melakukan aksi tipu-tipu. Apalagi penggunaan Video Assistant Referee (VAR) di Piala Dunia semakin menekan aksi-aksi curang yang tak terpantau mata wasit.
 
Selain faktor teknis, faktor sejarah juga tak berpihak. Sejauh ini jarang sekali juara Piala Dunia yang menempatkan pemain sebagai peraih sepatu emas. Tercatat pada 1962 saat Brasil menjadi juara, Vava dan Garrincha tercatat dalam daftar pencetak gol terbanyak bersama empat pemain dari negara lain dengan empat gol.
 
Tahun 1978, Argentina menjadi juara dunia dan Mario Kempes mencetak enam gol. Empat tahun kemudian Italia menjadi juara dan Paolo Rossi merebut sepatu emas dengan enam gol. Tahun 2002, Brasil menjadi juara dengan Ronaldo mencetak enam gol.
 
Faktor sejarah juga menjadi motivasi bagi Kroasia. Tahun 1998, Kroasia yang baru pertama kali berpartisipasi di Piala Dunia berhasil membuat kejutan. Mereka menghancurkan Jerman 3-0 di perempat final dan menjadi juara ketiga dengan mengalahkan Belanda 2-1. Tahun itu juga Davor Suker menjadi pencetak skor terbanyak dengan enam gol.
 
Barisan tengah menjadi titik keunggulan Kroasia saat ini. Luka Modric adalah motor dan kreator. Dia sudah menciptakan 12 operan kunci dari 268 operan. Dia akan berhadapan dengan Jordan Henderson, gelandang sentral Inggris yang bermain untuk Liverpool, yang tipikal ball winner. Di barisan depan, Mario Manzukic adalah seorang petarung. Tak akan mudah bagi tiga bek Inggris menjinakkannya.
 
Namun Kroasia dihantui kelelahan. Pertandingan 16 Besar melawan Denmark dan perempat final melawan Rusia harus dilalui dengan adu penalti. Tentu saja di lain sisi, itu menunjukkan betapa kuatnya mental Kroasia bertarung hingga akhir.