Salah satu yang menyenangkan dari bangsa Inggris adalah optimisme terhadap tim nasional mereka setiap Piala Dunia digelar. Termasuk tahun ini. Mereka yakin bahwa akan mengulangi kejayaan pada Piala Dunia 1966, sebelum akhirnya terbanting kembali ke tanah dan menyadari bahwa tim nasional Inggris adalah jago PHP (Penebar Harapan Palsu) nomor wahid.

Dalam Piala Dunia kali ini Inggris mengawali langkahnya dengan meyakinkan. Dalam fase grup, Harry Kane dan kawan-kawan sukses mengalahkan Tunisia 2-1 dan Panama 6-1.

Tim Tiga Singa lolos ke fase 16 Besar sebagai runner-up Grup G setelah dikalahkan Belgia 0-1.

Di babak 16 Besar, Inggris berhasil memusnahkan kutukan terbesar sepanjang masa: adu penalti. Setelah mengalahkan Kolombia 4-3, optimisme semakin melambung. Hantu yang selama ini menjadi mimpi buruk sepak bola Inggris telah sirna.

Apa lagi yang dicemaskan?

It’s coming

Football’s coming home

It’s coming home

It’s coming home

It’s coming

Football’s coming home

Mendadak lirik lagu Three Lions yang dibawakan Baddiel, Skinner & The Lightning Seeds dirapalkan bagai mantera. “Wis wayahe”, demikian kalau mau meniru slogan Khofifah Indar Parawansa saat pemilihan gubernur Jawa Timur kemarin.

Swedia menunggu gagah di babak perempat final. Namun dua gol Harry Maguire dan Dele Alli, semuanya melalui skema bola mati, menyadarkan Swedia bahwa mereka masih butuh pemain sekelas Zlatan Ibrahimovic.

Everyone seems to know the score,

They’ve seen it all before,

They just know, they’re so sure

That England’s gonna throw it away, gonna blow it away

But I know they can play. 

Saat Trippier mencetak gol lebih dulu melalui tendangan bebas ke gawang Kroasia yang dijaga Subasic di semifinal, fans Inggris serasa menginjakkan sebelah kaki di final. 

Cause I remember three lions on a shirt! 

Jules Rimet still gleaming,

Thirty years of hurt 

Never stopped me dreaming.

Yes, Mate. Alangkah benarnya lirik terakhir lagu itu dalam semifinal. Gol Ivan Perisic dan Mandzukic membuat fans Inggris gagal mendaratkan mimpi mereka di dataran realitas. 

Piala Dunia akhirnya urung mudik ke Inggris. Ini menyedihkan bagi semua pendukung tim nasional Inggris, kecuali bagi mereka yang mau belajar sejarah: bahwa Inggris memang tak pernah menjadi kampung halaman Piala Dunia.

Dunia mengakui Inggris adalah tempat awal di mana sepak bola dimainkan dengan aturan yang terus berevolusi sebagaimana kita ketahui hari ini. Namun Inggris pula yang menampik ikut serta dalam tig perhelatan Piala Dunia. Semuanya karena alasan politik.

Inggris meninggalkan FIFA pada 1928. “Jika Eropa Tengah atau kawasan lain ingin mengatur sepak bola, biarlah mereka membatasi kekuasaan dan otoritas mereka atas diri mereka sendiri dan kami mengurus urusan kami sendiri,” kata Charles Sutcliffe dari Football League Inggris.

Inggris makin tak berminat ikut Piala Dunia 1930 di Uruguay, setelah ada kabar Chelsea diserang dan diintimidasi penonton saat beruji coba melawan Boca Junior di Argentina. Undangan dari Federasi Sepak Bola Uruguay pada 30 November 1929 diabaikan.

Tahun 1934, Piala Dunia digelar di Italia. Inggris kembali absen, karena menolak rezim fasis Mussolini. Tahun 1938, Inggris tak berminat mengirim tim ke Prancis di tengah situasi Eropa yang di ambang perang dunia.

Inggris baru mengikuti Piala Dunia 1950 di Brasil. Inilah Piala Dunia yang pahit: Inggris dikalahkan Amerika Serikat 0-1. Setelah gagal dalam Piala Dunia 1954 (kalah di perempat final melawan Uruguay), gagal di putaran playoff di Swedia pada 1958, dan kalah 1-3 dari Brasil dalam babak perempat final Piala Dunia 1962, mereka akhirnya menjadi juara di kandang sendiri pada 1966.

Dengan catatan sejarah seperti itu, tentu saja wajar jika Piala Dunia tak pernah menjadikan Inggris sebagai kampung halaman. Jangan pernah bermimpi trofi itu akan mudik.

Satu-satunya gelar realistis Tiga Singa tahun ini adalah predikat pencetak gol terbanyak oleh Harry Kane dan juara ketiga. Mereka akan bertemu Belgia, Sabtu (14/10).

Kane Kini dia sudah mengemas 6 gol. Lawan terberatnya adalah Romelu Lukaku yang sudah mencetak empat gol. Keduanya juga sudah saling kenal di Liga Inggris.

Pertarungan dua jago jebol gawang. Itulah yang membuat pertandingan perebutan tempat ketiga dijamin menarik.