Piala Dunia 2018 mengakhiri fase awal penyisihan grup. Sebanyak 16 tim lolos ke babak selanjutnya dan 16 lainnya kongko-kongko di bandara menunggu penerbangan pulang ke negara masing-masing. Sejumlah kejutan muncul.

Tapi secara umum, yang lolos ke 16 besar adalah negara adidaya dalam sepak bola di Eropa dan Amerika Latin. Afrika gagal meloloskan wakilnya. Asia juga menitipkan harapan hanya kepada Jepang. Setiap grup memiliki narasi unik sendiri-sendiri.

Grup A: Super Sub dan Kembalinya Mo Salah

Mohamed Salah adalah pusat narasi di Grup A yang terdiri atas Uruguay, Rusia, Mesir, dan Arab Saudi. Setelah mengalami cedera medio pada Mei 2018 dalam pertandingan final Piala Champions di Kiev, Ukraina, banyak yang ragu dia bisa tampil membela tim nasional Mesir. Namun, Federasi Sepak Bola Mesir tetap memberangkatkan Salah.

Salah absen saat Mesir melawan Uruguay. Harapan fans Liverpool menyaksikan pertemuannya dengan Luis Suarez, mantan bintang The Reds, tak terkabul. Namun, dalam dua pertandingan berikutnya, Salah mencetak dua gol.

Salah satunya melalui titik putih 12 pas. Dalam dua pertandingan itu, Salah memang tak seimpresif sebelum cedera. Namun, dua golnya menjadi sinyal: dia akan siap menghadapi Liga Primer Inggris musim berikutnya.

Lolosnya Uruguay ke babak selanjutnya sebagai juara grup sudah diperkirakan jauh-jauh hari. Mereka mencatatkan diri sebagai satu-satunya juara dalam fase grup yang tak kebobolan sama sekali.

Dengan sederet bintang yang bermain di Eropa, tantangan terberat berasal dari tuan rumah Rusia yang lolos sebagai runner-up. Setelah bertahun-tahun tenggelam (prestasi terbaik Rusia adalah semifinal Piala Dunia 1966 atas nama Uni Soviet), juru taktik Stanislav Cherchesov mendaratkan asa di Moskow.

Kebangkitan Rusia diikuti kejutan dengan munculnya pencetak gol dari bangku cadangan: Denis Cheryshev. Ia menggantikan Dzagoev yang cedera pada menit 24. Melesakkan gol pada menit 43 dan 90 ke gawang Arab Saudi, ia menobatkan diri sebagai pemain cadangan pertama yang mencetak dua gol dalam pertandingan pembukaan Piala Dunia.

Arab Saudi, kendati digulung 0-5 oleh Rusia di pertandingan perdana, mengakhiri fase penyisihan grup dengan bahagia. Mereka memetik kemenangan 2-1 atas Mesir dan terselamatkan dari posisi juru kunci. Ini mengulang sukses pada 24 Juni 1994 di Amerika Serikat saat mengalahkan Maroko 2-1.

Produktivitas Grup A pada fase penyisihan menempati urutan kedua di antara delapan grup dengan 17 gol. Cheryshev mencetak tiga gol dan menjadi pencetak gol terbanyak. Sedangkan Aleksandr Golovin (Rusia) dan Carlos Sanchez (Uruguay) menjadi pengukir assist terbanyak dengan masing-masing dua assist.

Grup B: Ronaldo Sang Meta Human dan Kelegaan Hierro

Jika ada pemain sepak bola yang layak masuk akademi para mutan yang dipimpin Profesor Charles Xavier, Cristiano Ronaldo orangnya. Dalam usia 33 tahun, ia boleh dibilang sebagai kunci pencapaian Portugal. Tak ada yang bisa membantah bahwa Portugal adalah one man team atau tim yang bergantung pada satu orang.

Tanpa Ronaldo, entah bagaimana nasib Portugal saat berhadapan dengan Spanyol. Pertandingan berakhir 3-3. Namun, Ronaldo mencetak tiga gol. Salah satunya melalui tendangan bebas pada menit 88.

Ronaldo mencetak empat gol dalam tiga pertandingan fase grup. Jauh lebih baik daripada rival abadinya, Lionel Messi, yang baru mencetak satu gol. Namun, sebagaimana Messi saat melawan Islandia, Ronaldo gagal mengeksekusi satu tendangan penalti saat menghadapi Iran. Kegagalannya menjadi kunci kegagalan Portugal sebagai juara grup.

Spanyol menjadi juara Grup B tidak dengan mudah. Di antara tiga pertandingan, anak asuh Fernando Hierro hanya menang satu kali dan imbang dua kali. Kemenangan atas Iran pun tipis saja: 1-0. Dalam pertandingan terakhir melawan Maroko, mereka nyaris kalah dan gagal lolos ke babak selanjutnya jika tidak ada mantan pemain Liverpool, Iago Aspas, yang mencetak gol pada menit 90 dan mengubah skor menjadi 2-2.

Jadi, lolos dengan tidak indah pun sudah cukup melegakan bagi Hierro sekaligus menjawab kritik publik terhadap Federasi Sepak Bola Spanyol yang memecat Julien Lopetegui beberapa hari menjelang Piala Dunia.

Iran dan Maroko gagal. Tetapi mereka pulang dengan kepala tegak. Portugal dan Spanyol tak mudah menaklukkan mereka. Kemenangan 1-0 atas Maroko, imbang 1-1 dengan Portugal, dan kalah 0-1 dari Spanyol adalah sinyal bahwa Iran belum habis dan justru menegaskan reformasi sepak bola di sana berada pada rel yang benar.

Begitu pula Maroko. Mereka punya generasi emas dengan hadirnya sejumlah pemain muda seperti Hakim Ziyech, Sofiane Boufal, Amine Harit, maupun Youssef En-Nesyri yang baru berusia 20–24 tahun. Dengan para generasi emas tersebut, Maroko setidaknya bisa bicara di level Afrika dan empat tahun lagi di Piala Dunia Qatar.

Grup C: Taji Ayam Jantan Tumpul, Dinamit Tak Meledak

Tak ada yang istimewa di Grup C. Prancis dan Denmark lolos ke fase gugur. Australia dan Peru tak bisa berbuat banyak untuk menghadang. Namun, produktivitas Grup C tidak merepresentasikan ketajaman tukang gedor Prancis dan Denmark. Taji ”ayam jantan” Prancis tak tajam dan dinamit Denmark tidak meledak.

Hanya ada sembilan gol yang tercetak dalam enam pertandingan, terminim di antara delapan grup. Jumlah gol terbanyak dalam satu pertandingan adalah partai Prancis melawan Australia (3 gol).

Predikat pencetak gol terbanyak di grup tersebut justru dipegang gelandang bertahan Australia asal klub Aston Villa, Mile Jedinak, dengan dua gol. Antoine Griezmann dan Mbappe yang diharapkan berkibar oleh Prancis justru hanya mencetak satu gol saat melawan Australia dan Peru.

Itu pun Griezmann mencetaknya melalui penalti. Christian Eriksen yang selama ini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di Denmark hanya bisa mencetak satu gol saat melawan Australia.

Grup D: Messi Belum Mau Pulang

Dramatis.

Narasi Argentina di Grup D seperti narasi ideal dalam cerita heroik di film olahraga produksi Hollywood. Dua pertandingan awal Argentina tak ubahnya neraka: ditahan 1-1 oleh Islandia dan digulung 0-3 oleh Kroasia. Lionel Messi tak berkutik. Orang tertawa saat eksekusi penaltinya digagalkan seorang sutradara film yang menjadi kiper Islandia.

Argentina menanti keajaiban di pertandingan terakhir melawan Nigeria. Dengan defisit tiga gol, pilihan Argentina adalah menang lebih dari tiga gol atas lawannya dan berharap cemas agar Kroasia bisa menekuk Islandia. Nasib anak-anak asuh Sampaoli tak hanya ditentukan sendiri, tapi juga ditentukan tim lain.

Nigeria jelas bukan lawan yang enteng. Dari delapan pertandingan di semua ajang sebelumnya, Argentina memang lebih banyak unggul (lima kali menang, satu kali imbang, dua kali kalah). Namun, kekalahan terakhir justru terjadi dalam uji coba di Krasnodar, Rusia, 2-4.

Kerja keras dan keberuntungan akhirnya menjadi kombinasi drama Argentina. Lionel Messi kembali mendapatkan predikat Messiah setelah mencetak salah satu gol kemenangan 2-1 atas Nigeria. Mereka harus berterima kasih kepada Kroasia yang tetap all out menundukkan Islandia 2-1. Kroasia menunjukkan diri sebagai tim yang layak difavoritkan sebagai juara dunia.

Dejan Lovren dan kawan-kawan berderap maju dengan gagah menuju 16 besar. Selain menggulung Argentina dan Islandia, mereka mengalahkan Nigeria 2-0. Sebaran tujuh gol yang dikemas mereka merata: Luka Modric (2 gol), Rebic, Rakitic, Badelj, dan Perisic (1 gol).

Sementara itu, Nigeria yang merasa menjadi VAR (Video Assistant Referee) tak banyak membantu saat tangan Marcos Rojo menyentuh bola di kotak penalti Argentina. Wasit Cuneyt Cakir dari Turki menolak memberikan hukuman dan memutuskan itu bukan pelanggaran.

Jika saja penalti diberikan dan berhasil dieksekusi, skor 2-1 akan memuluskan capaian Nigeria. Namun yang terjadi sebaliknya: beberapa menit kemudian, Rojo justru menjebol gawang mereka.

Bagaimana dengan Islandia? Kegagalan Islandia bisa membuat siapapun patah hati. Setelah sukses memesona di Piala Eropa 2016, banyak yang berharap mereka sukses di Rusia.

Hasil awal 1-1 melawan Argentina memberikan harapan, sebelum akhirnya Nigeria dan Kroasia memupus mimpi itu.

Grup E: Salam dari Kosovo untuk Serbia

Lupakan Brasil. Mereka tak mengejutkan siapapun dengan lolos ke babak 16 besar sebagai juara grup. Namun, mereka melakukannya dengan susah payah. Setelah ditahan imbang Swiss 1-1, mereka nyaris bermain imbang 0-0 dengan Kosta Rika, sebelum akhirnya Coutinho dan Neymar mencetak gol di menit-menit injury time.

Swiss justru tampil apik sebagai runner-up grup. Publik akan mengenang kemenangan dramatis 2-1 dan selebrasi gol epik Granit Xhaka dan Xhardan Shaqiri ke gawang Serbia. Swiss tertinggal 0-1 dan berhasil menyusul pada menit 52 dan 90. Xhaka dan Shaqiri menangkupkan jemari dua tangan membentuk simbol rajawali berkepala dua: simbol rakyat Kosovo.

Pertandingan melawan Serbia memang emosional bagi kedua pemain keturunan Kosovo itu. Keluarga mereka terusir dan menjadi korban pembersihan etnis pemerintah Serbia. Sepanjang pertandingan, keduanya diejek fans Serbia. Dua gol kemenangan menjadi pembalasan yang manis. Ini seperti menyampaikan salam dari rakyat Kosovo untuk Serbia.

Kosta Rika kali ini tak bisa mengulangi keajaiban pada Piala Dunia 2014. Petir tidak menyambar dua kali di tempat yang sama. Kelor Navas dan kawan-kawan mengakhiri petualangan sebagai juru kunci grup. Ini membuat orang meyakini bahwa kejutan Kosta Rika dalam Piala Dunia 2014 tak lebih dari fenomena one hit wonder dalam dunia musik.

Grup F: Kutukan Jerman dan Pembuktian Swedia

Kutukan bagi juara bertahan yang berlangsung sejak 2002 itu masih berlaku untuk Jerman. Diawali oleh Prancis. Juara pada 1998, mereka tersisih di fase grup pada 2002 sebagai juru kunci. Italia yang menjadi juara pada 2006 juga menjadi juru kunci grup pada 2010. Spanyol yang menjadi juara pada 2010 gagal lolos ke babak 16 besar pada 2014.

Kini Jerman bernasib tragis. Anak asuh Joachim Low itu tersisih dengan predikat juru kunci. Mereka dikalahkan Meksiko 0-1 dan Korea Selatan 0-2. Satu-satunya kemenangan 2-1 atas Swedia diraih dengan susah payah melalui gol tendangan bebas Toni Kroos di menit injury time.

Kegagalan tersebut menjadi puncak buruknya performa Jerman: serangan tanpa kreativitas, lini depan tumpul, lini tengah gagal berkreasi, dan lini belakang lamban dalam bertahan. Itu penampilan terburuk Jerman sejak Piala Dunia diikuti 24 dan 32 tim dengan sistem grup. Menjadi juru kunci dengan hanya mencetak dua gol dan kebobolan empat gol. Kedigdayaan saat menjadi juara Piala Konfederasi 2017 tak terlihat.

Swedia justru tampil apik dan menjadi juara grup. Mereka berhasil membuktikan bahwa tanpa Zlatan Ibrahimovic tetap bisa melaju kencang. ”Sepak bola adalah permainan tim dan saya ingin semua pemain mengambil tanggung jawab untuk membawa tim ini maju,” kata pelatih Swedia Janne Andersson jauh-jauh hari.

Andersson benar. Tanpa Ibra, semua pemain berbagi tanggung jawab dan tak ada yang lebih dibandingkan lainnya. Tak ada bintang. Semua sejajar. Dalam kualifikasi Grup A Zona Eropa, mereka sudah membuktikan dengan menyisihkan Belanda dan mengalahkan Italia di babak playoff. Kini mereka melakukannya terhadap Jerman.

Sementara itu, Meksiko menebar ancaman bagi siapa saja. Juan Carlos Osorio menggunakan tiga formasi berbeda untuk menghadapi tiga lawan: 4-2-3-1 saat melawan Jerman, 4-3-3 saat menghadapi Korea Selatan, dan 4-4-2 saat kalah dari Swedia. Fleksibilitas Osorio menjadi kunci selain didukung pemain sekelas Lozano dan Chicarito.

Korea Selatan menjadi negara Asia pertama yang mengalahkan juara bertahan di Piala Dunia. Kemenangannya atas Jerman lebih fenomenal dibanding kemenangan Korea Utara atas Italia 1-0 dalam Piala Dunia 1966. Sayang, mereka gagal mengulang keajaiban saat berhasil menembus semifinal Piala Dunia 2002 di rumah sendiri. Kabar terakhir, setiba di tanah air, bukannya mendapat sambutan hangat, mereka justru nyaris kena sambit telur busuk dari ratusan fans yang berkumpul di bandara.

Grup G: Perang Bintang Liga Primer Inggris

Perang bintang Liga Primer Inggris adalah predikat yang tepat saat tim nasional Inggris dan Belgia berada dalam satu grup. Tercatat dalam timnas Belgia, total ada 11 pemain yang bermain di klub Liga Inggris. Sementara itu, tak ada satu pun pemain Inggris yang bermain untuk klub di luar negaranya. Maka mudah diterka, mereka akan lolos dengan gampang.

Belgia akhirnya menjadi juara grup setelah mengalahkan Inggris 1-0 di pertandingan terakhir. Namun, orang akan lebih mengingat pertandingan itu karena kesialan Michy Batshuayi saat merayakan gol Adna Januzaj ke gawang Inggris. Bola yang sudah masuk gawang ditendang lagi keras-keras, mengenai tiang gawang, dan memantul ke wajah. Adegan itu menjadi viral di media sosial dan layak jadi salah satu blooper terbaik dalam dunia olahraga.

Tunisia dan Panama hanya figuran dalam grup ini. Tunisia mulanya memberikan harapan dengan merepotkan barisan pertahanan Inggris sebelum akhirnya kalah 1-2. Selanjutnya, dua negara tersebut tak berkutik dan menjadi sansak gol: Tunisia dihajar Belgia 2-5 dan Panama dibekuk Inggris 1-6.

Harry Kane memanfaatkan lemahnya dua tim itu untuk memburu gelar pencetak gol terbanyak turnamen. Saat ini striker Inggris tersebut sudah mencetak lima gol (dua ke gawang Tunisia dan tiga ke gawang Panama). Kini dia menduduki puncak daftar top scorer sementara. Jika Inggris terus melaju, tak tertutup kemungkinan capaian golnya melebihi jumlah gol peraih Sepatu Emas 2014, James Rodriguez, yang mencetak enam gol hingga akhir turnamen.

Sementara itu, penghormatan diperuntukkan supporter Panama yang dengan tulus ikhlas dan riang gembira merayakan satu-satunya gol yang dicetak Felipe Baloy sebagai momentum bersejarah. Ini Piala Dunia pertama negeri itu sekaligus gol pertama. Lagu kelompok musik rock legendaris Van Halen berjudul Panama layak diperdengarkan kembali.

Jump back, whats that sound?

Here she comes, full blast and top down Hot shoe, burnin down the avenue Model citizen, zero discipline

Grup H: Tragedi Senegal

Kegagalan Senegal menembus babak 16 besar adalah tragedi bagi mereka yang mencintai sepak bola, menyerang tanpa rasa takut. Sadio Mane dan kawan-kawan membuka Grup H dengan kemenangan 2-1 atas Polandia yang lebih diunggulkan.

Pelatih Senegal, Aliou Cisse, menunjukkan kepada semua orang bagaimana anak-anak muda negeri itu bermain dengan penuh riang gembira: mengejar bola ke mana pun, berlari tanpa kenal lelah.

Namun, rupanya kegembiraan dan semangat saja tak cukup. Kemenangan atas Polandia, hasil imbang 2-2 dengan Jepang, dan kekalahan 0-1 dari Kolombia menghasilkan empat angka dan agregat gol 4-4. Sama persis dengan Jepang.

Namun, mereka harus tersingkir karena jumlah kartu kuning yang diterima Jepang selama tiga pertandingan grup lebih sedikit. Jepang lebih ”bersih” dan sportif daripada Senegal dalam perspektif buku aturan FIFA.

Senegal sebenarnya berpeluang menang atau minimal mengakhiri pertandingan dengan skor imbang, setelah wasit asal Serbia Milorad Mazic menunjuk titik putih penalti setelah Sadio Mane diganjal Davinson Sanchez. Tapi, keputusan itu dibatalkan setelah melihat tayangan Video Assistant Referee (VAR).

Kolombia kini berambisi mengulangi capaian perempat final sebagaimana Piala Dunia 2014, setelah mengawali fase grup dengan buruk: kartu merah untuk Carlos Sanchez pada menit 3 dan kalah 1-2 dari Jepang.

Namun, mereka berhasil bangkit di pertandingan kedua dengan mengalahkan Polandia 3-0 kemudian mengakhiri fase grup dengan predikat juara.

Jika pada Piala Dunia 2014 James Rodriguez menjadi pencetak gol terbanyak Kolombia sekaligus turnamen, kini bek Yerry Mina menjadi pencetak gol terbanyak dengan dua gol. Rodriguez menjadi pemberi assist terbanyak bersama Juan Quintero dengan dua assist.

Jepang menjadi harapan terakhir Asia dan Afrika setelah lolos ke putaran 16 besar dengan predikat runner-up grup. Pasukan Samurai Biru mengejutkan semua orang dengan mengalahkan Kolombia. Tetapi, mereka harus menahan imbang Senegal sebelum akhirnya dikalahkan Polandia 0-1.

Capaian pelatih Akira Nishino ini sesuai harapan Federasi Sepak Bola Jepang yang memberikan tugas menggantikan Vahid Halilhodzic, dua bulan sebelum Piala Dunia digelar. Mengandalkan formasi 4-2-3-1, Jepang berani lebih banyak menguasai bola.

Tercatat dalam tiga pertandingan, persentase penguasaan bola Shinji Kagawa dan kawan-kawan lebih baik daripada semua lawannya. Akurasi tembakan mereka ke gawang lawan juga bagus (12 tepat sasaran, 11 meleset).

Polandia adalah tim paling mengecewakan di grup ini. Robert Lewandowski dan kawan-kawan tidak menunjukkan sosok tim juara kualifikasi Zona Eropa Grup E. Menjadi juru kunci fase grup sama sekali di luar ekspektasi fans sepak bola di sana, setelah pada 2010 dan 2014 gagal lolos ke putaran final turnamen.

Lewandowski sekali lagi menunjukkan nasib seperti Lionel Messi: bersinar bersama klub (Borussia Dortmund dan Bayern Munchen), tapi gagal bersama tim nasional.