Saya membayangkan Angel Vera menginstruksikan para pemain Persebaya untuk duduk manis di depan televisi, 16 Juni 2018, menyaksikan siaran langsung pertandingan Argentina melawan Islandia. Para pemain diminta melihat bagaimana memainkan pressing dan penguasaan bola yang benar.

Saya tidak tahu detail sejarah pembentukan filosofi taktik Vera. Dia berasal dari Argentina. Saya rasa pemahaman taktik dia tidak akan dibentuk pertama-tama oleh liga di Eropa. Apalagi Argentina adalah salah satu negara adidaya sepak bola. Gelar juara dunia 1978 dan 1986 adalah bukti sahihnya.

Martin Mazur dari FourFourTwo menyebut timnas Argentina dipenuhi eksperimen taktik dan filosofi bermain sejak 1974 hingga 1994. Mulai taktik possession football ala Gerardo Martino, serangan balik Edgardo Bauza, hingga taktik pressing berintensitas tinggi ala Jorge Sampaoli sekarang.

Dalam sepak bola, semua punya peran.

Persebaya selama 11 pertandingan Liga 1 dengan jelas menerapkan taktik penguasaan bola dan high pressing. Maka, saya membayangkan perintah Vera kepada anak-anak asuhnya: saksikan, cermati, dan pelajari bagaimana memanfaatkan peluang di depan gawang.

Mungkin demikian pesan Vera. Tentu saja dengan asumsi Argentina akan tampil gemilang dan membombardir gawang Islandia.

Tapi, apa yang diperoleh petang itu menjadi pelajaran bahwa sepak bola adalah permainan kerjasama 11 pemain. Bukan 1 bintang + 10 pemain figuran.

Dalam sepak bola, semua punya peran. Bahkan, Claude Makalele yang oleh Presiden Real Madrid Florentino Perez dihina sebagai pemain yang tidak bisa bikin gol dan hanya bisa mengoper ke samping dan belakang pun disebut sebagai mesin mobil Madrid. Tanpa Makelele, Madrid bukan apa-apa.

Dari sisi teknis, materi Argentina memiliki mutu di atas lawannya. Tapi, sepak bola tak hanya bicara soal kalkulasi di atas kertas.

Argentina memang menguasai pertandingan (72 persen) dan melepaskan 19 tembakan (7 tepat sasaran). Namun, semua keunggulan itu tak banyak berguna. Dari sisi teknis, materi Argentina memiliki mutu di atas lawannya. Tapi, sepak bola tak hanya bicara soal kalkulasi di atas kertas. Kerjasama dan kekompakan Argentina masih di bawah Islandia.

Argentina bukan layaknya sebuah tim yang utuh, melainkan tim Lionel Messi and Friends. Semua beban seolah diserahkan kepada Messi. Ketika Messi dikunci, Argentina bagaikan penari tango yang kebingungan menemukan irama musik.

Argentina adalah cermin problem Persebaya: serangan yang kurang kreatif, barisan pertahanan yang kurang disiplin, gelandang bertahan yang kelelahan, dan ketergantungan pada David da Silva.

 

Barisan pertahanan Argentina juga bikin deg-degan. Majalah FourFourTwo sejak awal menyebut kedisiplinan lini belakang sebagai kelemahan. Kemampuan Javier Mascherano sebagai gelandang bertahan sudah menurun dan belum memperoleh pengganti yang sepadan.

Praktis, jika petang itu para pemain Persebaya menyaksikan Argentina bertanding melawan Islandia, mereka seperti melihat cermin problem Persebaya sendiri: serangan yang kurang kreatif, barisan pertahanan yang kurang disiplin, gelandang bertahan yang kelelahan, dan ketergantungan pada satu pemain bernama David da Silva.

Tidak, Persebaya memang tak layak dibandingkan dengan Argentina. Namun dalam konteks masing-masing, mereka adalah tim unggulan: Indra Sjafri, pelatih Tim Nasional Indonesia U19, memasukkan Persebaya sebagai salah satu favorit juara Liga 1. Sedangkan Argentina adalah favorit juara dunia.

Selain itu, Vera seperti menduplikasi pendekatan Sampaoli dalam menangani Argentina, entah sengaja atau tidak. Selama sebelas pertandingan Persebaya di Liga 1, dia bereksperimen dengan berganti-ganti starting line up, terutama lini depan dan tengah.

Tercatat, dengan formasi 4-3-3, ada tujuh komposisi trio lini tengah dan sembilan komposisi pemain depan yang berbeda-beda dalam starting line-up di 11 pertandingan.

Apa yang dilakukan Vera mirip dengan Sampaoli. Sejak ditunjuk sebagai pelatih Argentina, Sampaoli sudah melakukan pergantian enam sistem taktis dan 43 pemain hanya dalam waktu tujuh bulan.

Tak ada alasan bagi Persebaya untuk gagal. Sebagaimana tak ada alasan bagi Argentina untuk tidak juara dunia.

Problem yang nyaris sama tentu tak bisa diabaikan. Justru dengan problem yang sama, Vera dan para pemain Persebaya akan belajar dan melihat bagaimana Sampaoli memperbaikinya. Belajar terus-menerus untuk menemukan solusi menjadi satu-satunya jalan untuk membawa Persebaya keluar dari zona merah degradasi sesegera mungkin saat ini.

Tak ada alasan bagi Persebaya untuk gagal. Sebagaimana tak ada alasan bagi Argentina untuk tidak juara dunia. Sebelumnya, timnas Argentina dibayang-bayangi kebangkrutan federasi yang tidak bisa membayar pelatih dan ketiadaan presiden organisasi selama dua tahun.

Kini mereka bangkit setelah Claudio Tapia terpilih sebagai presiden. Kita berharap Persebaya menuju arah yang benar setelah Azrul Ananda menjadi presiden klub setelah tim berjuluk Bajul Ijo itu melewati masa krisis terhebat selama enam tahun dalam sejarah mereka.