Tak pernah mudah untuk yang pertama. Kalimat itu tak hanya ditujukan pasangan perjaka dan perawan yang merayakan malam pertama, tetapi juga untuk sepasang tim yang berhadapan dalam pertandingan perdana Piala Dunia.

Pertandingan pembuka beberapa kali menjadi panggung buat tim medioker yang tak diperhitungkan, tim kaum underdog, untuk menunjukkan bahwa selalu ada keajaiban dalam Piala Dunia.

Beberapa tim unggulan memang tidak kalah pada pertandingan pembukaan. Namun, mereka bersusah payah mencapai hasil seri.

Pada 1982, juara bertahan Argentina dibekuk Belgia 0-1 pada pertandingan perdana. Hal itu terulang pada pembukaan Piala Dunia 1990. Kali ini giliran Kamerun membekap Diego Armando Maradona dan kawan-kawan melalui gol tunggal Omam-Biyik pada menit 67. Sementara itu, Piala Dunia 2002 dibuka dengan kekalahan juara bertahan Prancis 0-1 dari Senegal.

Beberapa tim unggulan memang tidak kalah pada pertandingan pembukaan. Namun, mereka bersusah payah mencapai hasil seri. Dalam pembukaan Piala Dunia 1966, tuan rumah Inggris ditahan 0-0 oleh Uruguay.

Juara bertahan Brasil ditahan 0-0 oleh Yugoslavia pada pembukaan Piala Dunia 1974. Demikian halnya dengan Jerman Barat yang ditahan imbang tanpa gol dalam pembukaan Piala Dunia 1978. Hasil imbang 1-1 juga diperoleh Italia saat menghadapi Bulgaria dalam pembukaan Piala Dunia 1986.

Dengan catatan seperti itu, Arab Saudi tentu tak perlu keder berhadapan dengan tuan rumah Rusia dalam pertandingan pembukaan, 14 Juni 2018 malam.

Rusia sendiri pernah sekali tampil dalam partai pembukaan saat masih bernama Uni Soviet dalam Piala 1970. Hasilnya: imbang 0-0 dengan tuan rumah Meksiko.

Apa modal Arab Saudi? Dalam sejarah, Rusia dan Arab Saudi baru sekali bertemu dalam pertandingan persahabatan pada 6 Oktober 1993. Saat itu, sebagai tuan rumah, Saudi yang diasuh pelatih asal Belanda Leo Beenhaker menang 4-2. Rusia saat itu dilatih Pavel Sadyrin.

Hasil pertandingan 25 tahun silam tentu tak bisa dijadikan patokan. Namun, Arab Saudi hari ini di bawah asuhan pelatih berkebangsaan Spanyol-Argentina, Juan Antonio Pizzi, punya modal bagus selama babak kualifikasi Zona Asia.

Dari 18 kali pertandingan, mereka hanya kalah di kandang Australia (2-3), di kandang Jepang (1-2), dan di kandang Uni Emirat Arab (1-2).

Pizzi menyadari, lini serang Saudi kurang efisien dan sebagian sudah memasuki usia kepala tiga. Taisir Al-Jassim sudah mencetak 18 gol dalam 131 pertandingan. Tahun ini dia berusia 34 tahun. Mohammed Al-Sahlawi yang mencetak 28 gol dalam 39 pertandingan sudah berusia 31 tahun.

Namun, mereka punya Salem al-Dawsari yang bermain untuk Villareal dan Fahad al-Muwallad yang bermain untuk Levante. Dua klub itu berasal dari Spanyol.

Pizzi sendiri bukan pelatih sembarangan. Dia berhasil membawa Chile menjuarai Copa America Centenario pada 2016 dan menjadi finalis Piala Konfederasi 2017. Dia berulang tahun ke-50 pada 7 Juni atau sepekan sebelum tirai panggung Piala Dunia di Luzhniki Stadium, Moskow, dibuka. Tak ada alasan untuk mempermalukan diri sendiri.

Modal kedua bagi Saudi untuk menang adalah reformasi politik. Atmosfer sepak bola di negeri itu semakin semarak.

Apalagi, uji coba terakhir melawan Jerman di Bayern Arena pada 8 Juni 2018 tak terlampau buruk. Arab Saudi hanya kalah 1-2. Saat itu, Pizzi menggunakan formasi 4-1-4-1 yang menempatkan Abdullah Ateef sebagai starter gelandang bertahan dan Fahad al-Muwallad sebagai penyerang tunggal.

Modal kedua bagi Saudi untuk menang adalah reformasi politik. Atmosfer sepak bola di negeri itu menjadi lebih semarak dengan sejumlah kebijakan pemerintah seperti mengizinkan kaum perempuan datang ke stadion.

Dengan semakin longgarnya iklim politik dalam negeri, ke depan, tak tertutup kemungkinan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang lebih liberal untuk mendukung perkembangan sepak bola di Arab Saudi. Kemenangan di Rusia bisa semakin memantapkan pemerintah kerajaan agar reformasi juga menyentuh urusan sepak bola.

Bagaimana dengan Rusia? Piala Dunia adalah ikhtiar Vladimir Putin untuk memperbaiki reputasinya sebagai orang kuat dalam percaturan politik global. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok bertangan besi. Ian Bremmer dalam esainya di Majalah Time menyebut Putin sebagai sosok yang merepresentasikan sosok yang jantan dan angkuh khas Rusia.

Putin melarang laman situs yang dianggap kontroversial. Ia menangani protes antipemerintah dengan keras. Negara tetangga seperti Ukraina disikat.

Sayang, terpilihnya Rusia sebagai tuan rumah juga menyisakan kontroversi dan tudingan korupsi. Pemilik Chelsea dan jutawan Roman Abramovich disebut-sebut terlibat dalam upaya mengamankan Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018. Ini bukan lagi urusan sepak bola, tapi bisnis dan kekuasaan.

Maka, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pandangan nyinyir terus-menerus ke Rusia adalah prestasi atau sukses penyelenggaraan. Dari aspek prestasi, kendati selama puluhan tahun Rusia (Uni Soviet) adalah negara adidaya, tim nasional Negeri Beruang Merah tersebut tak pernah berdaya di Piala Dunia.

Prestasi terbaik mereka adalah juara keempat Piala Dunia 1966 di Inggris saat masih bernama Soviet. Dalam pertandingan semifinal, mereka dilibas Jerman Barat 1-2 dan di perebutan tempat ketiga kembali tumbang 1-2 dari Portugal.

“Piala Dunia adalah capaian tertinggi dalam sepak bola, jadi kami harus berjuang meraih penghargaan tertinggi,” kata pelatih Rusia Stanislav Cherchesov.

Namun, tentu saja Cherchesov enggan bicara soal politik. Dia akan menjawab tuntutan Putin dan negerinya dengan kemenangan. Besar kemungkinan, dia akan memainkan formasi tiga pemain bertahan untuk menjaga keseimbangan antara pertahanan dan penyerangan. Keseimbangan adalah kunci.

Cherchesov beruntung punya Igor Akinfeev di bawah mistar gawang sekaligus pemain paling berpengaruh dan kapten tim untuk menjaga keseimbangan tim. Kiper klub CSKA Moskow kelahiran 8 April 1986 itu punya kemampuan mendistribusikan bola untuk memulai serangan dari kotak penalti. 

Akinfeev meneruskan tradisi kiper hebat Rusia sejak masih bernama Uni Soviet, mulai Lev Yashin, Alexei Khomich, hingga Rinat Dasaev. Refleksnya mengingatkan orang pada Yashin, kiper yang dijuluki laba-laba hitam. Dia adalah pemain termuda yang pernah memperkuat tim nasional, yakni pada usia 18 tahun 20 hari. 

Dia memiliki kualitas kepemimpinan yang bagus. Sesuatu yang diperlukan penjaga gawang untuk mengoordinasi para pemain bertahan. Kelebihannya ada pada keberanian dan kepercayaan diri yang bisa mengangkat mental pemain satu tim. Apalagi, dia terhitung jarang melakukan kesalahan karena tak suka pamer dan memilih lebih konservatif dalam bermain. Karakter yang pas bagi kiper yang suka ke gereja.