Piala Dunia perlu juara baru, dan oleh karenanya Kroasia layak didukung dalam pertandingan final melawan Prancis. Ada sekian alasan mengapa Kroasia perlu dinanti dan didukung menjadi juara. Tentu saja alasan yang saya sodorkan bisa subyektif belaka.

Namun saya melihat Piala Dunia 2018 adalah momentum yang tepat untuk menunjukkan bahwa dominasi sepak bola memang tak seharusnya berada di negara itu-itu saja.

Selama ini, hanya ada delapan negara yang pernah menjadi juara dunia, yakni Uruguay, Italia, Brasil, Jerman, Inggris, Argentina, Prancis, dan Spanyol. Prancis, Inggris, dan Spanyol baru sekali menjadi juara.

Namun secara keseluruhan, semua negara tersebut adalah negara tradisional dalam sepak bola. Sebagian dari mereka mewakili wajah sepak bola lama yang berasal dari kekuatan kompetisi domestik masing-masing.

Kroasia adalah contoh telak fenomena ini. Dari 23 pemain yang tercatat dalam skuad negara ini, 21 di antaranya bermain di kompetisi negara lain.

 

Apa yang terjadi dalam Piala Dunia kali ini adalah penanda bagaimana globalisasi telah berjasa mengembangkan generasi emas di sejumlah negara peserta, terlepas dari berkualitas tidaknya kompetisi domestik mereka.

Kroasia adalah contoh telak fenomena ini. Dari 23 pemain yang tercatat dalam skuad negara ini, 21 di antaranya bermain di kompetisi negara lain. Hanya Dominic Livakovic dan Filip Bradaric yang bermain untuk klub Kroasia.

Kroasia tidak sendiri. Sejumlah tim nasional negara Afrika dan Amerika Latin juga menikmati panen pemain yang berasal dari kompetisi negara lain, khususnya Eropa. Bahkan Brasil pun menempatkan 20 pemain ‘asing’ dari 23 anggota skuad.

Pemain yang berasal dari kompetisi domestik hanya Cassio (penjaga gawang), Pedro Geromel (bek tengah), dan Fagner (bek kanan).

Ini tentu berbeda dengan masa kejayaan Pele dan kawan-kawan. Saat itu mayoritas skuat Brasil ditempa kompetisi domestik negara tersebut. Pele sendiri lebih dikenang sebagai legenda klub Santos.

Ada yang mengatakan, globalisasi sepak bola sebenarnya mirip-mirip perdagangan manusia dalam bentuk kenikmatan ragawi yang banal. Namun globalisasi sepak bola juga menunjukkan teritorial negara menjadi ketinggalan zaman dengan masuknya sepasukan asing dan mendominasi stadion-stadion di negara-negara tradisional sepak bola seperti Inggris, Italia, Jerman, maupun Prancis.

Mereka yang terkena xenophobia seperti Le Pen di Prancis harus bersiap gigit jari, karena ternyata skuat pelangi negeri itu yang menjuarai Piala Dunia 1998 bukan skuat ‘pribumi’ Prancis, kulit putih, dan hanya ditempa kompetisi Ligue 1.

Bahkan The Mirror, salah satu media di Inggris, langsung memasang kepala berita ‘Arsenal memenangkan Piala Dunia’, karena sebagian pemain inti Prancis adalah pemain klub asal London tersebut.

Kroasia berpotensi menegaskan fenomena yang dulu pernah ditampilkan Prancis. Jangan lupa juga, setiap 20 tahun sekali penyelenggaraan Piala Dunia yang bertepatan dengan tahun dengan angka 8, selalu ada juara baru: Brasil (1958), Argentina (1978), Prancis (1998). Skuat Kroasia memiliki modal kuat. 

Bermain di liga yang sama, membuat pemain Kroasia mengenali gaya bermain pemain Prancis dan begitu pula sebaliknya.

 

Zlatko Dalic, pelatih Kroasia, biasa memainkan dua variasi formasi: 4-2-3-1 dan 4-3-3. Mereka punya kebiasaan memanfaatkan lebar lapangan dan mengirimkan umpan-umpan silang sebagaimana yang dilakukan saat membungkam Inggris 2-0 di semifinal.

Para pemain sayap mereka juga tak segan berlari menusuk ke dalam area kotak penalti untuk menembakkan bola. Formasi 4-3-3 ini yang efektif digunakan untuk mematikan lini tengah Inggris, terutama setelah ‘ball winner’ Inggris Jordan Henderson ditarik keluar lapangan.

Melawan Prancis, para bek Kroasia bermain lugas untuk melakukan pressing setinggi mungkin untuk memangkas pengaruh pemain berkecepatan tinggi seperti Kylan Mbappe.

Bermain di liga yang sama, membuat pemain Kroasia mengenali gaya bermain pemain Prancis dan begitu pula sebaliknya. Sebut saja Bek Prancis Raphael Varane yang satu klub di Real Madrid dengan Luka Modric, atau Mario Mandzukic dan Marko Pjaca yang sama-sama bermain di Juventus dengan Blaise Matuidi.

Pengaruh filosofi taktik di masing-masing klub sedikit banyak menempa dan mempengaruhi cara pandang mereka terhadap sepak bola dan bagaimana memainkannya.

Itulah yang membuat globalisasi menjadikan permainan sepak bola semakin menarik, kendati sebagian fans menganggap ada nilai-nilai yang terkhianati: karena pada akhirnya uang yang bicara. Tak ada loyalitas. Mungkin hanya Lionel Messi yang memilikinya terhadap Barcelona atau Fransesco Totti terhadap AS Roma.

Namun globalisasi tak bisa dilawan, dan penonton sepak bola tentu sepakat: globalisasi membantu kualitas sepak bola di semua negara semakin merata dan itu terlihat saat Piala Dunia dipentaskan.

Klub memang menguasai aliran uang. Namun masalah puak dan nasionalisme, sesuatu yang purba dalam definisi identitas manusia, tak bisa ditendang begitu saja. Piala Dunia adalah tempat untuk pulang dan giliran para pemain memberikan apa yang selama ini terbaik untuk klub kepada negara.

Jadi, sekali lagi: mengapa kita tidak sambut saja Kroasia?