Saya mengenal Brighton dari dua hal: lagu band rock legendaris Queen berjudul ‘Brighton Rock’ dan film The Damned United. Tarian jemari gitaris Brian May pantas untuk mengimajinasikan karang yang menonjol di lautan sisi selatan Inggris, kendati lagu itu sendiri bercerita soal kegembiraan pemuda bernama Jimmy yang berencana kencan dengan pacarnya saat hari libur.

Gambaran kedua datang dari film yang bercerita soal pelatih sepak bola masyhur Inggris: Brian Clough. Brighton adalah sebuah kota kecil dengan sebuah klub sepak bola tak terkenal yang berdiri pada 1901: Brighton and Hove Albion (BHA).

Ini sebuah klub dengan prestasi tak berbunyi, melengkapi kesunyian kota itu. Tahun 1973, BHA berada di peringkat 19 dari 24 tim Divisi 3. Prestasi terakhir tim itu adalah juara Divisi IV pada 1965 atau sekarang setara League 2.

Sejujurnya, ini sebuah kota yang tak terlalu peduli dengan hiruk-pikuk sepak bola. Film Damned United menggambarkan ketenangan kota ini dengan sempurna: sepasang renta yang makan jajan bareng dari sebuah kotak di bangku tepi pantai. Mercusuar dengan bendera Union Jack menancap di puncak. Sepasang bule tua bersantai-santai di kursi malas depan flat, berbincang-bincang sembari baca koran.

Tak ada orang waras yang melirik BHA dalam urusan sepak bola. Bahkan Clough saat tiba di kota itu bersama sohibnya, Peter Taylor, masih mengomel tak karuan. “Tahukah kamu di mana mereka? Di dasar klasemen Divisi III,” katanya.

Clough dan Taylor mendapat tawaran melatih The Seagulls, julukan klub itu, setelah hengkang dari Derby County. Taylor meyakinkan sahabatnya untuk menerima tawaran kerja itu. “Kita akan berhasil di sini, seperti saat melatih Hartlepools dan Derby,” katanya.

Keduanya memang menciptakan keajaiban dengan membawa Derby keluar dari Divisi II, menjuarai Divisi I Liga Inggris, sekaligus tembus ke semifinal Piala Eropa. Tapi Clough tak terlalu yakin bakal bersinar di sini, di sebuah kota yang disebutnya: ‘Bloody Souhtern’.

Dia edan, tapi tidak goblok. Rekor sejarah BHA tak meyakinkan. Setelah menjuarai Divisi IV, BHA bertahan selama tujuh tahun di Divisi III. Mereka sempat berpromosi ke Divisi II pada 1971-1972. Namun kembali ambrol ke Divisi III. Apa yang bisa diharapkan dari klub di sebuah kota yang berseberanga dengan Prancis? “Mereka punya ambisi,” kata Taylor.

BHA menawarkan kenaikan gaji 20 persen dari gaji yang diterima keduanya saat melatih Derby, ditambah bonus tujuh ribu pound. “Divisi I adalah tujuan kami,” kata Mike Bamber, petinggi klub itu kepada Clough.

Mereka bersalaman. Taylor nyengir. Namun BHA tak pernah menggapai level tertinggi Liga Inggris pada masa Clough dan Taylor, dan baru mencapainya saat dilatih Alan Mullery, mantan gelandang tim nasional Inggris. Mullery berturut-turut membawa klub itu naik ke Divisi II pada 1976-1977 dan ke Divisi I pada 1978-1979.

Musim pertama mereka di level teratas Liga Inggris tak buruk. Musim 1979-1980, BHA berada di peringkat 16, mengangkangi Manchester City, Stoke City, dan Everton. Mereka bertahan hingga musim 1982-1983. Mullery pergi pada 1981 dan digantikan mantan pemain BHA Mike Bailey.

Bailey sukses membawa BHA ke posisi 13 dan tak pernah kalah dari Liverpool, sang juara liga musim 1981-1982. Di kandang lawan, Anfield, BHA berhasil memeritik hasil imbang 3-3 dan menang 1-0 saat di kandang sendiri.

Namun Bailey hanya bertahan semusim dan digantikan mantan pemain Liverpool Jimmy Melia saat kompetisi musim 1982-1983 baru saja berputar. Posisi BHA jeblok ke posisi juru kunci dan terdegradasi ke Divisi II (sekarang setara Championship League).

Namun Melia membuat capaian luar biasa di Piala FA 1983: BHA menembus final dan menantang Manchester United. Mereka sempat memaksakan hasil 2-2 dan akhirnya menelan kekalahan 0-4 pada pertandingan ulang.

Sejak saat itu, BHA harus menunggu tiga dekade sebelum bermain di Liga Primer Inggris pada musim 2017-2018. Sejumlah nama pelatih datang dan pergi setelah Melia, sebagian memiliki reputasi dan nama baik. Sebut saja mantan bintang Arsenal asal Irlandia, Liam Brady, atau mantan gelandang Liverpool Jimmy Case yang sempat bermain di BHA pada 1993 sebelum jadi pelatih dua tahun kemudian. Namun semua berakhir pahit. BHA masih klub yoyo yang naik turun divisi tanpa pernah mencapai piramida kompetisi tertinggi lagi.

Kegagalan demi kegagalan BHA tak lepas dari krisis finansial. Gara-gara urusan pendanaan yang mampat, pelatih Peter Taylor yang sukses membawa BHA ke Divisi Championship, satu level di bawah Liga Primer, pada 2002-2003, memilih mundur.

BHA tak pernah menjadi klub yang layak. Mereka bermain di sebuah lapangan bekas lintasan atletik dan tetap menjadi klub yoyo yang naik turun kasta. Tim ini sempat tak punya kandang karena terpaksa menjual Goldstone Ground dan mengungsi ke kota Gillingham selama dua musim.

Tony Bloom, seorang dewa judi yang juga fans klub itu, mengambil alih kepemilikan klub dari Dick Knight pada Mei 2009 dan menyuntikkan dana 250 juta pound. Belakangan BHA pindah kandang ke Amex Community Stadium. Semula kapasitasnya hanya 22.500 penonton, yang kemudian berkembang menjadi 30 ribu penonton. Fasilitas latihan pun dibenahi. Tapi kendati punya bos suka berjudi, tak ada fasilitas judi di stadion. 

Gus Poyet, mantan manajer Tottenham Hotspur dan gelandang tim nasional Uruguay, sempat menerbitkan harapan fans BHA. Dia sukses membawa klub ini promosi ke Divisi Championship dengan predikat juara League One. Poyet diganjar Manager of The Year League One. Bersama Poyet, BHA nyaris lolos ke Liga Primer pada musim 2012-2013. Namun mereka kalah dari Crystal Palace di semifinal play-off.

‘Sang Camar’ mulai terbang tinggi, terutama saat pelatih Chris Hughton datang. Hughton menggantikan mantan bek Liverpool Sami Hyypia di pertengahan natal musim kompetisi Divisi Championship 2014-2015. BHA saat itu berada di zona degradasi dengan hanya sekali menang dalam 18 pertandingan. Hughton menyelamatkan klub itu dari degradasi.

Musim 2015-2016, BHA menduduki peringkat ketiga Divisi Championship dengan raihan 89 angka dan lagi-lagi gagal menembus Liga Primer. Namun permainan mereka semakin bagus. Hanya soal waktu bagi mereka untuk naik level, dan memang itulah yang terjadi pada musim 2016-2017: BHA meraih tiket Liga Primer sebagai runner-up Divisi Championship di bawah Newcastle United.

BHA datang dengan reputasi kandang yang lumayan bagus pada kompetisi Championship 2016-2017. Amex Stadium menjadi benteng. Dari 23 laga kandang, Sang Camar 17 kali mematuk lawannya, tiga kali bermain imbang, dan hanya tiga kali kalah. Gol terbanyak di babak pertama (10 gol) tercipta pada rentang menit 0-15.

Sementara di babak kedua, 17 gol dicetak pada rentang menit 76-90. Ini cukup menggambarkan bagaimana karakter BHA di bawah Hughton: bermain cepat sejak menit awal untuk mencuri gol selekas-lekasnya dan membombardir lawan pada menit-menit akhir dengan mentalitas ‘never-say-die’ atau pantang menyerah. Mereka juga tak segan bermain keras: lima kartu merah dan 75 kartu kuning pada musim 2016-2017 sudah menceritakan semuanya.

Musim perdana di Liga Primer 2017-2018: BHA tampil bagai batu karang. Lebih penting lagi, mereka adalah batu kripton bagi Man United di bawah kepemimpinan Jose Mourinho. BHA memang selalu kesulitan menghadapi dua klub dengan gaya ofensif ‘pressing football’ bertempo tinggi macam Liverpool dan Manchester City. Namun mereka selalu bisa menyulitkan tim bermental defensif seperti Manchester United 

Di akhir musim pada Mei 2018, berturut-turut BHA harus menghadapi Man United, Man City, dan Liverpool. Hughton memilih untuk menumpuk gelandang dan menempatkan satu striker dengan 4-5-1 saat melawan City dan 4-2-3-1 saat melawan Liverpool. Namun BHA berani bermain dengan formasi ofensif 4-3-3 saat melawan United di kandang sendiri. Hasilnya sebuah kemenangan.

Kemenangan ini diulangi BHA saat menjamu Man United pada pekan kedua Liga Primer 2018-2019. Mourinho seperti dihantam deja vu: dua gol cepat beruntun dicetak Glenn Murray pada menit 25 dan Shane Duffy pada menit 27. Kesalahan pemain bertahan Eric Bailly menghasilkan hadiah penalti untuk BHA yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh Pascal Gross.

Hughton memiliki kemampuan manajerial yang solid dan didengar pemain. Dia seorang konservatif yang menyukai pendekatan formasi 4-4-2 yang bisa beradaptasi menjadi 4-4-1-1 atau 4-5-1. Dari 38 pertandingan yang dilakoni BHA musim 2017-2018, sebanyak 23 kali menggunakan formasi 4-4-1-1. Sisanya 4-4-2 dan 4-5-1. Sesekali ia menggunakan 4-1-4-1 dan 4-3-3.

Hughton bukan pelatih dengan reputasi menjulang. Dia sosok yang pendiam dan tak suka macam-macam. Namun dengan bertekuk lututnya Man United, setidaknya umpatan Clough puluhan tahun sebelumnya sudah terjawab: Bloody Southern. Dasar orang udik selatan.