Baiklah. Akhirnya Prancis dan Belgia bertemu di semifinal Piala Dunia 2018. Inilah saatnya bagi Eden Hazard dan kawan-kawan menuntaskan dendam Enzo Scifo dan pasukan Belgia yang dikalahkan Prancis 2-4 pada perebutan tempat ketiga dalam Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Tahun 1986 adalah masa terbaik sepak bola Belgia. Inilah generasi emas pertama Belgia setelah bertahun-tahun menjadi liliput dalam peta sepak bola dunia. Perjalanan tim yang dilatih Guy Thys lolos ke Meksiko menghadirkan epik. Mereka mengandaskan Belanda dalam babak play-off melalui gol Georges Grun, lima menit sebelum pertandingan berakhir.

Belgia bermain buruk di fase grup saat menghadapi Meksiko dan Irak. Namun di babak 16 Besar, Setan Merah mengalahkan Uni Soviet 4-3 yang dikenal sebagai tim dengan permainan cepat saat itu. Kejutan berlanjut pada babak perempat final. Tim yang dikapteni Jan Ceulemans itu mengalahkan Spanyol 5-4 melalui adu penalti setelah bermain imbang 1-1 dalam waktu normal.

Mereka gagal menaklukkan Argentina di semifinal. Dua gol Maradona mengakhiri petualangan Belgia. Di perebutan tempat ketiga, Belgia harus berhadapan dengan Prancis, tim juara Eropa 1984 yang sebelumnya dikalahkan Jerman Barat di semifinal.

Prancis sebenarnya diunggulkan dalam turnamen ini. Mereka memiliki sederet pemain seperti Michel Platini, Joel Bats, Tigana, maupun Dominique Rocheteau.

Mereka menghajar juara bertahan Italia 2-0 di babak 16 Besar. Di babak perempat final, giliran Brazil dibekap 4-3 dalam adu tendangan penalti. Setahun sebelumnya, Platini menjuarai Piala Champions bersama Juventus dengan mengalahkan Liverpool 1-0, dalam sebuah pertandingan final yang digelar di Heysel, Belgia. Jadi pertemuan kedua negara ini seperti takdir.

Pertemuan dalam perebutan tempat ketiga terhitung menyakitkan bagi Belgia saat itu. Betapa tidak, Prancis saat itu tidak menurunkan separuh komposisi pemain terbaik: Platini, Giresse, Rocheteau, Stopyra, dan Fernandez absen.

Belgia dan Prancis saat ini tengah diisi generasi emas masing-masing. Mungkin inilah skuat Prancis terbaik sejak mereka menjadi juara dunia pada 1998.

 

Seharusnya ini peluang terbaik untuk pulang dengan kepala tegak, dengan merebut medali perunggu. Namun tanpa pemain terbaik pun, Prancis ternyata bermain lebih apik. Belgia ditekuk 2-4 dalam masa perpanjangan waktu.

Kini setelah 32 tahun, keduanya bertemu kembali dalam fase menentukan Piala Dunia. Mayoritas pemain kedua tim masih belum lahir saat kedua negara bertemu di Meksiko. Thomas Vermaelen dan Vincent Kompany, dua pemain tertua di tim Belgia saat ini, masih balita saat itu. Begitu pula Hugo Lloris, Steve Mandanda, dan Adil Rami di kubu Prancis.

Namun situasinya kurang lebih sama. Belgia dan Prancis saat ini tengah diisi generasi emas masing-masing. Mungkin inilah skuat Prancis terbaik sejak mereka menjadi juara dunia pada 1998.

Sementara Belgia harus membuktikan diri bahwa kegagalan di Piala Eropa 2016 tak terulang. Saat itu mereka ditaklukkan tim kejutan wales 3-1 di babak perempat final.

Kepercayaan diri Belgia tengah pasang. Mereka kini tengah menjalani rute terbalik yang ditempuh Prancis pada Piala Dunia 1986. Jika dulu Prancis mengalahkan Brasil di perempat final, kini giliran Belgia melakukannya dengan skor 2-1.

Pelatih Belgia Roberto Martinez memilih formasi 3-4-2-1. Dengan tiga bek tengah, ia menutupi kelemahannya di sektor bek kanan dan kiri. Belgia memiliki bek tengah berkualitas seperti Vertonghen maupun Vincent Kompany.

Sementara itu di sektor tengah, Kevin de Bruyne menjadi kunci sebagai penghubung lini belakang dan depan saat membangun serangan. Ia memberikan suplai bola untuk Eden Hazard, Romelu Lukaku, dan Dries Mertens, atau bahkan beroperasi lebih maju. Namun jika Mertens absen, de Bruyne bisa didorong ke depan sebagaimana saat melawan Brasil.

Martinez dianugerahi sederet pemain yang bisa memainkan tempo cepat dan melakukan tekanan dengan terhadap garis pertahanan lawan setinggi mungkin. Tiga bek tengah bermain melebar untuk menekan ruang di antara pertahanan dengan gelandang.

Selain itu kualitas pemain memungkinkannya mengubah posisi sesuai dengan gaya permainan lawan. Simak bagaimana saat mengalahkan Jepang dalam Babak 16 Besar, empat gelandang diisi Axel Witsel, De Bruyne, Meunier, dan Ferreira-Carrasco.

Namun saat membekuk Brasil di perempat final, komposisi empat gelandang Witsel, Fellaini, Meunier, dan Chadli. Sementara De Bruyne didorong ke depan.

Tapi dendam tak akan mudah dibalaskan, karena Prancis bukan ayam sayur. Di bawah komando Didier Deschamps, seorang alumnus tim juara dunia 1998, Prancis memiliki skuat komplet, terutama di lini tengah dan depan. N’golo Kante dan Paul Pogba memungkinkan mereka menekan di sektor tengah dengan formasi 4-3-3 atau 4-1-4-1. Sebagaimana Belgia, kedalaman skuat Prancis memungkinkan untuk beradaptasi sesuai kemampuan lawan.

Mbappe adalah contoh seorang pemain yang bermain dengan kegembiraan khas anak-anak: ingin mengalahkan semua pemain bertahan saat beradu lari dan mencetak gol ke gawang lawan.

 

Saat berhadapan dengan Argentina di Babak 16 Besar (yang layak didaulat sebagai pertandingan terhebat dalam Piala Dunia 2018), lini tengah diisi Pogba, Kante, dan Matuidi. Sementara lini serang dipercayakan kepada Griezmann, Giroud, dan Mbappe. Ketika menghadapi Uruguay di perempat final, giliran Tolisso diturunkan di lini tengah dengan formasi 4-2-3-1. Kante dan Pogba menjadi double pivot.

Tentu saja menarik untuk menyimak pertarungan adu tajam lini depan kedua tim. Romelu Lukaku sudah mengoleksi empat gol. Sementara lini depan Prancis lebih merata: Griezmann dan Mbappe sama-sama mencetak tiga gol.

Lukaku punya kemampuan fisik di atas rata-rata sebagai penyerang tunggal. Dia tipe seorang ‘direct forward‘ dan bagus dalam situasi satu lawan satu dengan penjaga gawang. Dia unggul dalam bola-bola atas dan mampu memanfaatkan operan terobosan yang dikreasi De Bruyne dari tengah maupun memanfaatkan bola pantul.

Mbappe adalah contoh seorang pemain yang bermain dengan kegembiraan khas anak-anak: ingin mengalahkan semua pemain bertahan saat beradu lari dan mencetak gol ke gawang lawan. Tiga golnya menunjukkan bahwa dia tidak merasa tertekan bermain di level Piala Dunia dalam usia 19 tahun.

Sementara Griezmann dengan tinggi badan 5,9 kaki menunjukkan bahwa ukuran bukan segalanya dalam sepak bola Eropa. Para pencari bakat di klub Metz dan seluruh klub Prancis pasti menyesal setengah mampus, karena menampiknya dengan alasan tubuh Griezmann terlalu kecil.

Disia-siakan di Prancis pada masa awal, dia justru berkembang di Spanyol, sebuah negara yang menghargai talenta daripada keunggulan fisik. Dia adalah pencetak gol terbanyak Piala Eropa 2016 dengan enam gol. Namanya menjadi jaminan mutu bahwa pertandingan semifinal itu akan berjalan ketat.

Jadi, siapapun yang bakal menang, rasanya ini final kepagian.