Usia mereka belum lagi genap 16 tahun. Tapi Supriyadi dan kawan-kawan di Tim Nasional U16 sudah menanggung beban yang seharusnya belum mereka pikul: harapan besar sebuah bangsa besar yang miskin trofi. Bertahun-tahun sepak bola kita dipenuhi cerita yang berulang: konflik, kekerasan di stadion, wasit yang tak kompeten, kerusuhan, isu pengaturan skor, dan hal-hal buruk yang bisa membuat sepak bola Indonesia tak layak ditekuni anak-anak di bawah umur.
 
Saya tidak tahu apakah sudah ada survei mengenai ini. Namun saya kira wajar saja jika mayoritas orang tua tak menginginkan anak-anak mereka menjadikan sepak bola sebagai mata pencarian. Apalagi nyaris jamak ditemui di kisah pemain sepak bola kita: tak ada yang beres dalam urusan studi. Sepak bola hanya menjadi pilihan kelas pekerja dan kaum miskin, ketimbang opsi karir anak-anak keluarga kelas menengah atas.
 
Maka ketika anak-anak asuhan Fachry Husaini menampilkan permainan indah dan ‘menangan’ dalam, turnamen Piala AFF U16, mendadak semua orang berharap banyak. Lihatlah bagaimana Stadion Gelora Delta Sidoarjo dijejali setidaknya 20 ribu penonton yang berpakaian merah dan mengibarkan bendera kita di sana-sini. Saya hakkul yakin, hanya di Indonesia pertandingan tim nasional anak-anak SMP dan SMA yang menyedot perhatian jutaan orang di layar televisi dan membuat puluhan ribu lainnya antre untuk membeli tiket masuk.
 
Kehadiran puluhan ribu orang di stadion dan jutaan pasang mata di televisi bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, ini mendongkrak semangat para anak baru gede (ABG) di timnas Indonesia sekaligus menghancurkan mental pemain lawan. Namun tekanan yang besar membuat Supriyadi dan kawan-kawan terbebani untuk mengulang sukses Timnas U19 di stadion yang sama lima tahun sebelumnya. Kegagalan mengatasi tekanan itu akan berdampak terhadap permainan mereka.
 
Itu terlihat saat semifinal menghadapi Malaysia. Tekanan berlipat ganda, karena siapapun tahu Malaysia adalah musuh bebuyutan dalam banyak hal, termasuk sepak bola. Kekalahan Timnas U19 di Sidoarjo dari Malaysia memghadirkan kekecewaan dan membuat para pemain terpukul kala itu. Ada hasrat melakukan revans, dan itu berpengaruh di lapangan.Mereka bermain tak lepas seperti saat babak penyisihan grup. Beberapa kali terjadi salah oper, dan gerakan kaki mereka terlihat lebih berat saat berlari. 
 
Beban yang sama akan kembali ditanggung Sabtu (11/8/2018) malam ini. Malam Minggu bagi para ABG lainnya adalah saat untuk berjalan-jalan di mal dan berkonsentrasi penuh bagaimana cara menulis WhatsApp penuh rayuan gombal. Namun anak-anak Timnas U16 berkonsentrasi penuh bagaimana membobol gawang Thailand. Mereka sudah menghabiskan waktu ribuan jam, ratusan hari, untuk menanti momentum seperti ini: bagaikana Kapten Tsubasa yang menampik kemustahilan dalam komik Jepang.
 
Mayoritas pendukung Indonesia bersiap menanti keberhasilan. Namun sejauh manakah mereka bersiap menerima kegagalan? Timnas bermain agak gugup saat semifinal Piala AFF U19 yang gegap gempita di Sidoarjo dan tumbang di tangan Malaysia. Setelah kekalahan mengecewakan itu, pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Thailand ditonton penonton dengan jumlah kurang dari separuh pertandingan semifinal.
 
Mayoritas pendukung timnas Indonesia adalah tipikal penonton bioskop, bukan suporter sepak bola dalam arti sesungguhnya. Mereka hanya datang ke stadion saat tim nasional dalam semua level bermain apik dan menjanjikan kemenangan maupun gelar juara. Tak semua memahami, bahwa sukses berkelanjutan dalam jangka panjang adalah kombinasi keberhasilan dan kegagalan, serta bagaimana belajar dari kesalahan.
 
Inti dari sepak bola adalah kegembiraan. Rinus Michels, pelatih legendaris Belanda pernah menyebut, sepak bola jalanan adalah sistem pendidikan paling alamiah yang pernah ada. Dalam sepak bola jalanan, ada keceriaan, motivasi, pembelajaran kesalahan. Karakter alamiah sepak bola jalanan inilah yang seharusnya tak boleh dibiarkan pergi dari harus tetap menjadi semangat timnas kelompok usia kita. “Pure enjoyment is the game’s ideal motivation to play often, and to want to become better,” katanya.
 
Tujuan terpenting pengembangan pemain pada usia 14-16 tahun, menurut Michels, adalah membangun mentalitas pertandingan yang benar sebagai seorang pemain dan sebuah tim. “Dalam usia ini, pemain harus belajar berkorban untuk teman satu tim, di samping tafsir atas perannya dalam tim,” kata Michels.
 
Banyak yang heran: mengapa para pemain timnas U16 dan U19 kita bisa bermain cantik dengan operan pendek, cepat, dan variatif, namun memble saat bermain di level nasional? Mengapa kita begitu hebat di level ABG, namun hancur lebur saat dewasa?
 
Ada banyak faktor yang dituding. Salah satunya adalah kegagalan federasi menyediakan lingkungan kompetisi yang sehat bagi pengembangan sepak bola berjenjang. Namun, saya kira, ini kesalahan kolektif. Salah satunya adalah kesalahan kita semua yang meletakkan beban terlampau berat kepada para pemain remaja di timnas. Mereka dipaksakan untuk menjadi robot yang menerima semua target dan beban kultural dari penonton, sehingga menghilangkan kenikmatan dan kegembiraan bermain sepak bola. Semoga saya keliru.