Namanya Choi Jin Ri—atau kau boleh menyebutnya Sulli. Saat masih berusia sebelas tahun, dirinya bergabung dengan SM Entertainment, sebuah agensi hiburan Korea Selatan. Sebelas tahun belum bisa dibilang remaja, hanya anak bau kencur polos yang di sini mungkin kau anggap masih berseragam putih merah.

Tapi Sulli kecil agaknya sudah tahu jalan nasibnya. 2009 lalu, dirinya bersama kompatriotnya, Amber, Victoria, Cyrstal Jung, dan Luna, menelurkan lagu “Lachata” di bawah bendera girband F(x)—sebuah nama yang tampak seperti rumus Microsoft Excel.

Korean Invasion belum dimulai. Sulli dan kawan-kawannya bisa dibilang adalah salah satu perintisnya. Kariernya semakin menanjak, seiring invasi k-pop yang semakin gencar. Nama Sulli terus gemilang, hingga akhirnya berada di jajaran papan atas industri hiburan Korea.

Tapi tak pernah ada satu dunia dimana semua keinginanmu terwujud dengan lancar: tanpa orang-orang resek, busuk, tengik, yang seakan menjadi racun perjalananmu. Tak pernah ada dunia yang sebaik dan seberpihak itu. Dan di 2015, saat Sulli memutuskan hengkang dari F(x), bencana dimulai.

Sulli yang menyatakan ingin fokus pada dunia seni peran, selajutnya dirongrong habis-habisan. Dunia ini kejam, kau tahu. Sulli—tanpa tahu apa yang benar-benar terjadi—lantas menjadi objek bully fana dunia maya. Komentar negatif adalah sehari-hari—dengan alasan-alasan absurd seperti gemuk, pacar, sampai gaya busana.

Mulut warga dunia maya memang kadang lebih busuk daripada lubang kakus, tak lebih beradab dari isi kakus. Sulli mengendus itu, Sulli mencomot itu, tanpa berusaha melaporkan ke polisi. Menelan mentah-mentah, semua caci dan hina.

Bukannya tidak berupaya melawan komentar nyinyir ke pihak berwenang, Sulli justru berusaha bijak dan mempertimbangkan nasib warga dunia maya jika dilaporkan ke aparat polisi. Tapi kebijaksanaan Sulli tak mengubah banyak hal. Yang ada, cibiran terus mendera.

Di detik-detik tragis Instagram Live pada akun Sulli-lah kengerian dimulai. Dengan tangis merembes, dia berkata pada para pembenci. “Saya bukan orang yang jahat, katakan satu hal saja tentang saya (yang baik) karena saya pantas menerimanya.”

Tanda-tanda kerapuhan itu sudah terbaca. Sulli sudah menentukan jalan yang mungkin, terlampau jauh. 14 Oktober kemarin, dunia hiburan Korea Selatan terguncang. K-pop tak lagi seceria itu. Sulli, ditemukan tewas dengan cara paling purba: menggantung dirinya sendiri.

Lantas, siapa yang harusnya disalahkan?

Bukan kali ini saja dunia hiburan memakan tumbal. Ada harga yang harus ditebus, ada yang harus dibayar. K-pop idol di Korea yang kita nikmati seceria mungkin, nyatanya harus ditebus para anggota idol group dengan berlatih keras, mengasah dirinya menjadi batu mulia sebelum bisa bersinar layaknya bintang.

Konsekuesinya: tergadainya masa muda mereka, hilangnya kesenangan layaknya anak belia.

Memang bukan Sulli yang pertama. Sebelumnya, Jonghyun SHINee juga tewas akibat bunuh diri. SM Entertainment sebagai penanggung jawab banyak talenta di Korea dipertanyakan: benarkah SM tak ubahnya seperti ladang bagi calon artis yang ingin memenggal kepalanya sendiri?

Depresi parah akibat tekanan agensi, ditambah beban mulut tak tahu adab warga dunia maya, seolah makin melengkapi semuanya. Sulli akhirnya sempat terkena serangan panik dan fobia sosial, sebelum akhirnya memilih takdir kematiannya sendiri.

Keterasingan, perasaan terisolasi, hampa: efek negatif dari ketenaran yang tak pernah bisa kita bayangkan.

Sulli menggenapi lagi banyaknya fenomena bunuh diri artis yang kita puja-puji—sekaligus kita caci-maki. Layaknya Anya Geraldine atau Awkarin yang terus dinyinyir di media sosial, tentu Sulli juga mengalami tekanan serupa. Hanya saja dia lebih rapuh, lebih lapuk.

Tapi siapa yang bisa menjamin tak bakalan ada korban lagi yang diakibatkan komentar-nyinyiran-makian kita, para warga dunia maya? Kesehatan mental tak pernah sesedernana itu. Dengan berbicara yang baik-baik saja—atau diam—mungkin kita bisa sedikit membantu.

Mungkin.

Tak pernah ada yang tahu di mana ujung rasa depresi. Kalau kamu, kawanmu, atau siapapun yang mengalami depresi dan cenderung punya keinginan bunuh diri, segera hubungi beberapa layanan konseling, salah satunya Yayasan Sehat Mental Indonesia di akun Line @konseling.online