Narasi sebagai kota barometer musik cadas yang disematkan pada era pra Reformasi justru meninabobokan Kota Pahlawan. Surabaya terlelap dalam label masa lalu yang justru membuat para musisi bawah tanahnya membanggakan romantisme semu. Akibatnya, kuantitas musisi yang mencukupi tidak diimbangi dengan album yang dilahirkan.

Sebagian dari mereka keburu layu sebelum berkembang, sebagian lain bubar di tengah jalan.

Kubangan besar bernama romantisme itulah yang kemudian seolah bak palung prahara bagi skena metal Surabaya. Nama-nama bernas yang semula dijagokan keburu bubar tanpa menuntaskan satu album pun selama masa hidupnya. Sebuah lubang hitam bagi para metal head Surabaya.

Tanpa perlu disebut, saya yakin kalian telah mengantongi nama-nama itu di kepala kalian sendiri. 

Namun, tidak dengan Brain Damage. Kuartet di bawah komando Pippen Brain itu menunjukkan tajinya lewat militansi selama hampir dua dekade berkelindan di skena musik cadas Surabaya. Penandanya berupa debut album bertajuk Indulging Cannibalistic for Mutilation. 

Penantian panjang selama 18 tahun itu dibidani Rottrevore Records, sebuah label yang konsisten melahirkan monster-monster death metal baru. Dan, Brain Damage adalah salah satunya. 

Kendati telah berkelindan sejak 18 tahun, bongkar pasang personel harus menyendat langkah mereka dalam berkarya. Sempat vakum kemudian bernapas kembali dengan mereformasi total personel adalah jalan panjang menuju masterpiece yang cukup dinantikan. 

Kendati tak lagi berusia belia, passion mereka tetap sama: Death Metal No Compromise!

Mereka meracik sebuah misil mematikan dengan mengkombinasikan old school death metal khas Tampa, Florida, laiknya Cannibal Corpse serta riff-riff kejam Malevolent Creation. Tanpa meninggalkan napas brutal yang disemai lewat hyperblast deras a la Disgorge, Cerebral Effusion, dan beat catchy Inveracity. 

“Saya senang dengan hadirnya personel baru yang lebih muda. Drummer dan vokalis kami dari segi usia memang lebih belia. Namun, berkat mereka lah kami bisa mengembangkan ide-ide baru dan bertukar referensi,” kata Pippen, gitaris Brain Damage. 

Deru eksplosif lewat suara parau Adit serta gempuran blast beat Komeng, yang beriringan dengan riff-riff destruktif milik Pippen, seolah menjadi pertanda bahwa mereka datang sebagai ancaman. 

Kembalinya Brain Damage menyemai harapan sekaligus meletupkan semangat bagi band-band generasi setelahnya untuk menempuh jalan serupa: menuntaskan album dan melipatgandakan semangat. 

Serupa dengan mayoritas band brutal death metal, Brain Damage menjahit ulang fragmen-fragmen kisah penuh darah, mutilasi, fantasi dunia yang berkalang zombie, hingga narasi-narasi absurd sadistik lain dalam satu montase tema dari album Indulging Cannibalistic for Mutilation

Jika diibaratkan, debut album bak sebuah batu. Sebagaimana sebuah batu, kemanakah nasib Brain Damage selanjutnya akan bermuara. Sebuah batu, dapat menjadi pijakan bagi mereka untuk melangkah ke jenjang selanjutnya, jika beruntung. 

Sebaliknya, apakah batu ini akan menjadi nisan, penanda akhir dari perjalanan panjang karir mereka? Keputusan ada di tangan Brain Damage sepenuhnya. 

“Yang membuat saya bertahan hingga hari ini adalah tujuan saya. Tujuan saya adalah berkarya dan menghasilkan album. Serta, rasa cinta terhadap death metal-lah yang kemudian mampu memotivasi saya untuk selalu ada, selalu muda, dan selamanya menolak tua!” kata Pippen.