Apa kesamaan Bayu Skak dengan Pevita Pearce? Selain sama-sama dilahirkan dari rahim manusia, keduanya sama-sama diciptakan tatkala Tuhan sedang tersenyum. Pevita Pearce nyaris tanpa cela jika kita membicarakan kecantikan parasnya. Sedangkan Bayu Skak juga nyaris tanpa cela jika kita berbicara tentang semangatnya dalam berkarya.

Tak hanya moncer sebagai YouTuber, debut film pertama Kera Ngalam tersebut juga berhasil berada di angka 930.000 penonton. Hal itu sekaligus mencatatkan film pertama sineas muda yang berjudul Yowis Ben berada di puncak tahta film berbahasa Jawa dengan penonton tertinggi.

Di sela-sela kesibukan yang padat merayap serupa jalanan Waru-Buduran saat matahari mulai bertukar posisi dengan rembulan, Bayu menemui saya di sebuah ruangan berdekorasi klasik di daerah Malang. Tempat itu dikenal dengan nama Rumah Opa.

Bayu menyambut saya dengan ramah. Dan tampak lelah. Yang diwakilkan dengan beberapa kali helaan napas panjang. Kami mulai berbasa-basi sebelum bertanya tentang film teranyarnya. “Bakal di Malang sampai hari apa, Bay?” tanya saya. “Ini cuma satu hari, besok balik ke Jakarta. Harus mengurus pajak,” celetuknya.

Memang, setelah debut filmnya dirilis, Bayu tak pernah hilang dari peredaran sinema tanah air. Ia melakukan tur promosi Yowis Ben dari kota ke kota lain. Dengan berapi-api dan guyonan khas, Bayu membuka pembicaraan dengan “Yoo Alhamdulillah! Alhamdulillah! Film ini cukup sukses. Bahkan presiden pun, Pak Jokowi, telah menonton dan memuji. ‘Ini sangat dekat dengan saya, Bayu. Terima kasih sudah membuat saya tertawa’. Mak pleng! Yo seneng toh aku. Presiden lho iki rek. Presiden!,” yang kemudian disusul gelak tawa.

Namun, kemonceran film Yowis Ben bukan datang dadakan seperti tahu bulat. Dengan nama besar sekelas Bayu Skak saja, menawarkan naskah film ternyata bukan perkara remeh temeh. “Bahkan ada yang menolak. ‘Bayu, film ini tidak akan sukses. Segmen kamu sempit’. Tapi sekarang saya buktikan. Setelah itu, ndilalah mereka kok datang waktu pemutaran di Malang kemarin. Aduduh, jadi malu,” katanya.

“Tapi, saatnya kita sekarang memasuki kisah sedih,” sambungnya dengan wajah yang seolah-olah memelas.

Sebelum bergabung dengan Multivision, naskah Bayu Skak dijajakan secara mandiri dari satu PH ke PH lain. Tolakan demi tolakan harus Bayu telan dengan getir.

Namun, celakanya, semangat Bayu tidak juga runtuh.

Ia terus mepresentasikan karyanya kepada banyak perusahaan. ”Ya akhirnya saya ketemu Multivision. Ada tiga atau empat PH yang gak yakin sama saya. Tapi, lihat hasilnya, 930.000 penonton lho, guys. Gak main-main,” seraya meniru tertawa ala sinterklas. Ho, ho, ho!

Sikap optimistis Bayu untuk menghadirkan film berbahasa Jawa terinspirasi dari keberhasilan film Uang Panai. Film berbahasa Makassar yang berhasil meraup 500.000 kursi penonton tersebut membuatnya kagum.

Kegigihan mempertahankan sikap untuk mengangkat bahasa Arek patut diacungi jempol. Apalagi, ia juga menghadirkan wajah-wajah komedian legenda, yakni Cak Kartolo dan Cak Sapari, yang kemudian menambah kental muatan Jawa Timuran dalam film Yowis Ben.

“Ya aku tetap bertahan dengan idealisku. Aku merasa film ini memiliki kedekatan dengan banyak orang. Siapa sih yang masa remajanya gak pernah ngeband? Gak jatuh cinta? Lah lewat itulah aku yakin kalau filmku ini juga bisa,” ujarnya.

Bayu yang mengawali karir sebagai YouTuber memang cukup dekat dengan dunia broadcasting dan seni audio visual. Ditunjang dengan kuliah di bidang multimedia, ia setidaknya tidak terlalu meraba jika berbicara tentang film.

“Tapi aku belum berani menjadi sutradara meskipun ini filmku sendiri. Aku mengajak Fajar Nugros. Aku kenal dia udah lama. Langsung saya telepon, waktu dia berada di Jogja.

‘Bro, tulung ewangi film ku, yo?’ Aku minta tolong setengah nodong. Untung dia mau. Wes langsung. Giaas!”, ujar Bayu  sembari tangannya turut memeragakan.

Kegigihan Bayu Skak dalam mempertahankan idealisme, yakni menggunakan dialog bahasa Arek, berhasil membuat penonton berbodong-bondong mengokupasi bioskop. Pasalnya, film itu mulanya hanya dihadiri 50.000 penonton di hari pertama, terus stabil hingga sebulan penuh.

“Lah aku bondo nekat tok. Sing penting yakin. Wes itu aja kuncinya. Coba kalau gak yakin dan dulu menyerah, yo gak iso koyok ngene tho yo, tho yo,” kata Bayu, kalimat terakhirnya diulang-ulang.

Malam semakin larut. Jam tergelincir pada pukul sepuluh malam. Saya dan Bayu sepakat menyudahi obrolan. Stok minuman juga mulai menipis. Namun, kekaguman akan semangat Bayu kian menebal di hati.

Kami saling berpamitan. Di sepanjang jalan pulang, Bayu dan Yowis Ben mengajarkan saya bahwa penolakan demi penolakan bukan jawaban dari akhir suatu perjalanan. Seperti kata pepatah. Jika satu pintu tertutup, pintu lain juga akan tertutup. Begitu seterusnya, karena kita mungkin terjebak di labirin bakul kusen.