Kata Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran. Itulah yang diucapkan Jean Marais kepada tokoh Minke di buku Bumi Manusia. Namun, lema itulah yang kemudian membuat nama Pram kekal dan dikutip para aktivis Instagram, yang sebenarnya hidupnya gak adil-adil amat.

Diucapkan memang mudah, tapi melakoninya sangat susah. Sesusah melerai pertarungan antara Cebong dan Kampret yang sudah jadi Infinity War Indonesia.

Seperti saya ini, yang sudah kadung jembek sama Hanung karena milih Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke. Saya tidak berdaya untuk berprasangka bahwa Iqbaal dipilih demi mengincar nominal kursi penonton.

Kalau bukan itu motifnya, apa lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? 

Saya seharusnya adil sejak dalam pikiran. Membebaskan pikiran dari syak wasangka. Apalagi ini bulan puasa. Gibah dan suudzon sangat dianjurkan dilarang. Tapi, sebuah pernyataan Hanung kepada awak media membuyarkannya.

”Saya tidak perlu kasih Iqbaal buku tebal. Tinggal dikasih pakaian adat, jadilah Minke,” kata Hanung.

Astaga dragon!

Bagaimana Iqbaal mampu mendalami peran Minke. Wong dia gak kenal karakternya. Lantas, bagaimana cara bintang Coboy Junior itu bisa memahami peran yang dimainkan? Dikira Minke dan Dilan itu sebelas dua belas?

Dari sini, saya patut menduga bahwa Hanung tidak memahami Bumi Manusia. Kalaupun pernah membaca, dia pasti tidak memahami betul novel yang ditulis di Pulau Buru itu. Ini Bumi Manusia lho, Bung! Bukan bumi datar atau bumi bulat. Apalagi tahu bulat yang digoreng di wajan datar!

Bumi Manusia adalah magnum opus yang ditulis di atas penderitaan masa tahanan di Pulau Buru.

Toh sebelum Hanung, dalam buku Pram Melawan, banyak sutradara yang menawarkan diri untuk mengarap film tersebut, tapi dilepeh. Apalagi sekelas sutradara flamboyan macam Hanung.

Jangankan Hanung. Sutradara berkaliber internasional seperti Oliver Stone pun ditolak.

Memang, menonton film adaptasi novel tidak akan pernah memuaskan imajinasi kita. Teks adalah suatu yang kompleks dan tidak memiliki batasan. Imajinasi di benak para pembaca begitu bebas. Membuat versi audio visual dalam bentuk film hanya akan mempersempit ruang imajinasi tersebut.

Padahal lho gaes, film selalu bertumpu pada durasi. Apa mungkin, novel setebal 1.000 halaman dirangkum pada pendar cahaya yang tak kurang dari 120 menit? Apalagi semua itu dilakukan hanya karena motif komersil. Kamu sudah kebacut, Hanung!

Memang, ada sisi positif dari situasi tersebut. Bumi Manusia akan mendapat banyak pembaca baru. Terutama pembaca baru dari generasi Iqbaal, yang kerap menganggap bahwa sesuatu yang tak ada di media sosial berarti tak pernah ada di dunia.

Tapi, saya ragu. Paling-paling interaksi mereka dengan Bumi Manusia cuma menghasilkan caption baper di Instagram. Hanya agar dapat banyak likes dan followers plus endorse.

Cek IG kita ya sis. Banyak quote dari Pram. Eh, Pram itu penulis mana sih? Penulis baru aja. Bersyukur dong bukunya dijadikan film! Dibintangi Kak Iqbaal lagi.

Selain itu, kegundahan hati saya muncul karena citra Iqbaal yang terlanjur lekat dengan Dilan. Bisa jadi dalam melakoni peran Minke, dia masih akan ke-Dilan-Dilan-an. Atau malah ke-CJR-CJR-an. Penonton bakal bingung, ini Dilan apa Minke? Ini Minke apa Iqbaal CJR?

Saya khawatir, tatkala Minke bertemu Annelies, tiba-tiba Iqbaal bernyanyi.  

Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku eeeaa.

Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku eeeaa.

So baby please be mine, please be mine oh mine eeeaa

Atau ketika harus bersitegang dengan sosok Robert Suurhof, yang ikut tawuran bukan cuman Darsam. Tapi geng Minke yang menunggangi kuda dan gak lupa jaket jeans dengan bulu cokelat di bagian kerah.

Setelah tawuran, tiba-tiba Iqbaal berdiri dan bernyanyi sambil berdansa.

Harus kita taklukan, bersama lawan rintangan.

Tuk jadikan dunia ini lebih indah.

Kalau itu terjadi, saya mungkin nggak betah untuk langsung ikutan nge-dance!

Atau, saat Annelies tengah berjibaku dengan keputusan hakim yang memaksanya kembali ke negeri Belanda, Minke akan berkata: ”Sudah, berbuat adil sejak dalam pikiran itu berat. Biar aku saja.”

Atau ”Kuprediksi nanti kita akan bertemu di Wonokromo…”

Aduh. Untuk membayangkannya pun, saya sudah gagal sejak dalam kandungan.

Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk tidak pernah berharap lebih pada hasilnya nanti. Bagaimana pun, kita nikmati saja. Walau pahit. Semoga malam seribu bulan nanti bisa mengubah pikiran Hanung.