Seorang kawan, sebut saja Lord TJ, menatap nanar layar televisi yang berpendar. Saat itu, pertandingan Piala Dunia tengah bergulir. Rusia hari itu harus meladeni tamunya, Uruguay, di laga terakhir grup A untuk berebut tahta jawara grup.

Menit sudah tergelincir dengan cepat menunjuk angka 89. Namun, sang tuan rumah tak kunjung menuai angka.

Jancok! Dino iki turu pasar bantalan gubis, gulingan gedebog!” gerutu Lord TJ.

Rokok keretek murahan terbakar pelan-pelan. Pantatnya yang lebar tak juga beranjak dari kursi. Lord TJ menyesali kekalahan tim Beruang Merah.

Bukan karena memiliki kedekatan personal dengan Rusia. Juga jangan mengira bahwa ia adalah cucu Stalin atau besan Putin. Bukan. Jelas bukan. Negara itu tidak pernah bersinggungan dengan hidupnya jika bukan karena Piala Dunia. Yang disesalkan bukan kekalahan tim. Tapi, ada yang lebih penting dari itu. Ia adalah totoan!

Bagi sebagian orang, Piala Dunia bukan hanya selebrasi pertandingan yang seru. Lebih dari itu, ada beberapa manusia yang mencari peruntungan di bursa taruhan.

 

 

Lord TJ memang aktif menjadi penjudi bola sejak belia. Kiranya, umurnya masih 22 tahun. Tapi, untuk urusan taruhan, ia adalah pemain kelas kakap. Eh kegeden. Kelas mujaer. Yo gak cilik, yo gak gede-gede banget. Lumayan.

Hari itu ia mengerahkan seluruh sisa uang kuliahnya untuk Rusia. Uang Rp 1,5 juta harus masuk ke kantong bandar judi begitu saja. Uang yang didapat orang tuanya dengan susah payah tersebut lenyap dalam sekejap mata.

”Padahal wingi menang e gede-gede, bareng ditotoi kok koyok taek,” ujarnya. Saya pun hanya tertawa dan lapang dada menjadi sasaran amuknya.

Bagi sebagian orang, Piala Dunia bukan hanya selebrasi pertandingan yang seru. Lebih dari itu, ada beberapa manusia yang mencari peruntungan di bursa taruhan.

Namanya juga taruhan. Onok sing kalah, onok sing menang. Dan kebetulan, Lord TJ harus menelan kekalahan. Total Rp 10 juta uang kuliah habis tak tersisa.

Sebagai fans fanatik bola, perkara pendidikan bisa jadi nomor dua. ”Kuliah bisa ditunda sedangkan Piala Dunia empat tahun sekali. Prinsipku lek totoan, hari ini atau tidak sama sekali,” tegas Lord TJ dengan rai mayak sebelum pertandingan dimulai.

Hingga hari itu, dewi fortuna belum berada di pihaknya. Kekalahan demi kekalahan harus diterima. Bahkan, masa depan pendidikan pun rela ditelantarkan.

Untuk menutupi utang, Lord TJ rela menjual segala pernak-pernik elektronik. Laptop, komputer, sampai magic jar pun ”disekolahkan.”

“Gak apa-apa. Tak sekolahno laptopku. Ben pinter,” katanya. Itu adalah kalimat hiburan bagi dirinya sendiri.

Piala Dunia bagi mereka adalah suatu perayaan. Meskipun harus dirayakan dengan hancurnya sendi perekonomian.

 

Demi sepak bola dan Piala Dunia, banyak orang yang menggadaikan barang personal untuk bertaruh. Di sini, pertaruhan bukan hanya perkara cuan. Lebih dari itu. Bertaruh pada ajang Piala Dunia adalah perayaan. Setidaknya begitu menurut Lord TJ.

Dia tidak berada dalam kesedihan sendirian. Ada lagi seorang kawan, sebut saja Bos Aiq. Jika dihitung, ia lebih piawai dalam urusan taruhan. Judi adalah sego jangan baginya. Sayang, prediksinya kerap meleset di Piala Dunia kali ini.

Pada periode sebelumnya, ia berhasil membeli motor Vespa berkat Piala Eropa. Tampaknya, nasib sial berada di pihak Bos Aiq saat Piala Dunia. Nasibnya hancur sejak hari pertama. Ia hanya tertolong oleh beberapa pertandingan. Yakni, saat Belgia dan Inggris berpesta gol. Selain itu, prediksinya hanya remah-remah.

”Piala Dunia iki angel bedekane. Tim gede ngalem kabeh. Justru tim gurem kelas hotel bintang melati sing berjaya. Ngene carane isok moleh katokan tok,” keluh Bos Aiq.

Saya yang berposisi sebagai sampah curhatan kekalahan kawan hanya bisa tersenyum. Dalam hati, saya juga mbatin, ”Podo jerune, Cuk!” Cuma, saya harus menjaga wibawa meskipun dompet kering kerontang.

Titik puncak kebangkrutan Bos Aiq terjadi saat Portugal harus berbagi angka dengan Iran. ”Iki pur e separo. Lek draw ngene yo poleh jembuk aku,” ujarnya seraya mengusap air mata.

Mata Bos Aiq memerah. Kekalahan Portugal membuat celana dan sepatu miliknya harus dilego. Tepat pada suatu pagi, ia mengirim pesan kepada saya lewat WhatsApp. ”Gak golek sepatu ta bos? Piro-piro wes gae nutup bola wingi,” tawarnya.

Saya yang malam itu menjadi mbambung anyaran hanya bisa berbagi luka.

Hingga hari ini, Lord TJ dan Bos Aiq masih gigih mempertaruhkan hidup di 2 x 45 menit pertandingan. Nasib tak kunjung cemerlang dan kekalahan selalu hadir setiap malam.

Piala Dunia bagi mereka adalah suatu perayaan. Meskipun harus dirayakan dengan hancurnya sendi perekonomian. Mari mengehingkan cipta agar mereka tabah.

Tulisan ini dibuat sebelum Bos Aiq dan Lord TJ merapat ke warung langganan. Sekilas saya melihat message dari hengpon Bos Aiq. Ia mengirim pesan kepada pacarnya, “Sorry jarang bales. Prinsipku, Pildun dulu baru kamu.”

Wassalam.