Eduardo Galeano adalah seorang Uruguay bernasib sial. Sebagaimana anak-anak di negeri itu, ia bermimpi bermain sepak bola dengan piawai, menjadi Juan Alberto Schiaffino dan Julio Cesar Abbadie, dua pemain klub Penarol yang memainkankan sepak bola indah bak orkestra. Ia mendukung klub Nacional, membenci Penarol.

Dan, harapan itu tercapai. Galeano bermain sepak bola dengan baik dalam tidur malamnya. Sedangkan saat siang, sepak bola adalah mimpi buruknya. Ia menjelma pemain terburuk di Uruguay. Bahkan di lapangan berukuran mini.

Galeano pada akhirnya menerima takdir: ia hanyalah seorang pengemis yang senantiasa berharap menikmati pertandingan sepak bola yang bagus. Di setiap stadion yang didatangi, dengan tangan terentang, ia memohon: sebuah manuver cantik, demi kasih Tuhan. Ketika sepak bola indah terbentang di depan mata, ia akan bersyukur dengan khusyuk. Tak peduli tim mana yang melakukannya.

Tuhan menganugerahkan kemampuan lain untuk Galeano: menulis prosa dengan detail dan kekuatan naratif yang sama indahnya dengan teknik pemain jenius mana pun. Dia adalah salah satu penulis prosa terhormat di Amerika Latin dengan sederet penghargaan. Mulai Lannan Prize for Cultural Freedom, American Book Award, Casa de las Americas Prize, hingga Warga Kehormatan Pertama di regional Mercosur.

Galeano dan sepak bola adalah satu tarikan napas dalam gejolak revolusi di Amerika Latin yang diwaspadai rezim diktator mana pun. Karya nonfiksinya yang berjudul Las Venas Abiertas de America Latina (Open Veins of Latin America) pada 1971 dicekal rezim militer Cile, Argentina, dan Uruguay.

Buku-buku Galeano diterjemahkan ke dalam 30 bahasa. Namun, hanya prosa tentang sepak bola yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Soccer in Sun and Shadow, oleh Mark Fried yang membuatnya dikenang penggemar sepak bola.

Wartawan Sports Illustrated Grant Wahl menyebut buku itu sebagai sebuah ode yang indah untuk permainan yang indah. Majalah Sports Illustrated menempatkannya ke dalam 100 Buku Olahraga Terbaik Sepanjang Masa. Majalah New Yorker memuji buku itu sama luar biasanya dengan penampilan bintang sepak bola Brasil, Pele.

Galeano tidak menulis narasi panjang soal satu topik khusus dalam sepak bola di Soccer in Sun and Shadow. Ia memperlakukan kisah-kisah dalam sepak bola sebagaimana layaknya sastrawan Amerika Latin yang menulis cerita pendek dan sangat pendek atau mini fiksi. Atau dengan kata lain, mini narasi. Ada lebih dari 150 narasi pendek tentang berbagai hal dalam sepak bola dengan panjang tak lebih dari seribu kata. Hal itu sesuai dengan definisi Lauro Zavala, akademisi Meksiko, soal fiksi mini.

Pada suatu hari di musim panas 1918, Porte menembak dirinya sendiri dalam sunyi di tengah-tengah lapangan Stadion Nacional, klub yang dicintainya.

 

 

Galeano menulis narasi dengan rentang yang luas. Mulai sejarah sepak bola zaman Cina kuno ribuan tahun silam, profil pendek pemain sepak bola, adegan momentum gol indah, tragedi dalam sepak bola, hingga Piala Dunia 1930–2010. Dia memberikan pemaknaan filosofis tentang manajer, kiper, fans, stadion, wasit, gol, dan kematian seorang pemain sepak bola yang bunuh diri di atas lapangan.

Dalam Death on the Field, Galeano bercerita tentang seorang pemain klub Nacional Uruguay bernama Abdon Porte. Dia adalah sang bintang yang telah bermain lebih dari 200 pertandingan selama empat tahun. Hingga kemudian, cahayanya meredup. Pelatih mulai tak meletakkannya dalam susunan pemain awal saat dia tak lagi bisa mencetak gol dan tak bisa melewati pemain bertahan lawan.

Pada suatu hari di musim panas 1918, Porte menembak dirinya sendiri dalam sunyi di tengah-tengah lapangan Stadion Nacional, klub yang dicintainya.

He shot himself at midnight at the center of the field where he had been loved. All the lights were out. No one heard the gunshot. They found him at dawn. In one hand he held a revolver, in the other hand a letter”.

Simak pula bagaimana Galeano menerangkan gol dalam sebuah pertandingan tak ubahnya urusan seksual. ”The goal is soccer’s orgasm. And like orgasms, goals have become an ever less frequent occurence in modern life.”

Nasib malang pelatih atau manajer dan ironi dalam sepak bola modern dituliskan dengan indah oleh Galeano. ”The manager believes soccer is a science and the field of a laboratory, but the genius of Einstein and the subtlety of Freud is not enough for the owners and the fans. They want a miracle worker like Our Lady of Lourdes, with stamina of Gandhi.”

Galeano paham benar, dia tidak tengah berurusan dengan narasi fiksi. Maka, dia memperlakukan sepak bola sebagai objek reportase selayaknya jurnalis. Di tangan Galeano, sepak bola bukan lagi permainan, game of two halves, tetapi juga bagian dari sejarah peradaban: melewati masa-masa gemilang dan kelam, menghibur banyak orang sekaligus dimanfaatkan para politikus dan penguasa.

Indonesia disebut tiga kali dalam buku itu oleh Galeano. Yakni, dalam narasi tentang Piala Dunia 1938, Piala Dunia 1966, dan Piala Dunia 1998.

 

Galeano menggunakan narasi tentang Piala Dunia sebagai titik untuk mengingatkan orang tentang sekian momentum bersejarah lainnya saat turnamen itu berlangsung. Simaklah bagaimana dia mengawali narasi Piala Dunia 1974 dengan situasi politik yang dihadapi Presiden Amerika Serikat Richard Nixon yang tersandung skandal Watergate. Juga, proses peradilan terhadap seorang letnan yang dituduh membunuh ratusan warga sipil di Vietnam.

Itu Piala Dunia pertama yang menggunakan trofi sebagaimana dikenal saat ini, setelah trofi Jules Rimet disimpan di Brasil selamanya, setelah tim nasional negara itu berhasil menjuarainya tiga kali (1958, 1962, dan 1970). Galeano menggambarkannya sebagai ”A brand-new cup was on display. Though uglier than the Rimet Cup, it was nonetheless coveted by nine teams from Europe and five from the Americas, plus Australia and Zaire”.

Indonesia disebut tiga kali dalam buku itu oleh Galeano. Yakni, dalam narasi tentang Piala Dunia 1938, Piala Dunia 1966, dan Piala Dunia 1998. Ia menyebutkan keikutsertaan Indonesia sebagai negara bernama Hindia-Belanda: ”A team from Indonesia, still called the Dutch-East Indies, came to Paris as the sole representative of the rest of the planet”.

Narasi Piala Dunia 1966 dan 1998 menjadi bagian dari upaya Galeano untuk mengingatkan momentum berkuasa dan ambruknya Presiden Suharto serta rezim Orde Baru. Dia tak melupakan tugasnya: menulis sebagai perlawanan terhadap amnesia sejarah sebagaimana dilakukannya dalam trilogi Memoria del Fuego yang terbit pada 1986.

Tragedi pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia disebutkan di alinea pembuka saat Galeano bicara soal Piala Dunia 1966 di Inggris. ”The military was bathing Indonesia in blood, half a million, a million, who-knows-how-many-dead, and General Suharto was inaugurating his long dictatorship by murdering the few reds, pinks, or questionables still alive”.

Dalam buku Soccer in Sun and Shadow, Galeano berhasil menunjukkan betapa sepak bola tak selamanya dimainkan di bawah terang sang surya.

 

Selama 32 tahun kemudian, Piala Dunia berlangsung di Prancis dan Galeano tak lupa kembali menuliskan situasi politik Indonesia di alinea pertama narasinya. ”Asian stock markets were lying prostrate, as was the long dictatorship of Suharto in Indonesia, emptied of power even while his pockets remained heavy with the $16 billion that power had placed there”.

Ketidaksukaan Galeano terhadap rezim penguasa yang memanfaatkan sepak bola terlihat saat menarasikan Piala Dunia 1978 di Argentina dengan penuh ironi. Ia mengingatkan: saat 16 negara berkompetisi, Paus mengirimkan berkatnya dari Roma dan Pimpinan Argentina Jenderal Videla menancapkan pin medali di dada Presiden FIFA Joao Havelange dalam pembukaan turnamen di Stadion Monumental, ada tragedi di belahan lain negara tuan rumah.

A few steps away, Argentina’s Auschwitz, the torture and extermination camp at the School of Navy Mechanics, was operating at full speed. A few miles beyond that, prisoners were being thrown alive from airplanes into the sea”.

Dalam buku Soccer in Sun and Shadow, Galeano berhasil menunjukkan betapa sepak bola tak selamanya dimainkan di bawah terang sang surya, tapi juga di bawah bayang-bayang kelam: coba dimajalkan oleh para birokrat dan dimanipulasi para penguasa, namun tetap menyisakan magis bagi mereka yang ikhlas dan sepenuh hati menyaksikan dan memainkannya dengan suka cita.