Folk, senja dan hujan belakangan menjadi hal yang paling menyebalkan untuk dibicarakan. Memang ini adalah sebuah kebencian yang klise. Tapi, entah kenapa, kebencian ini kemudian berada satu level di atas: memuakan! 

Ketika saya coba terka dan ingat-ingat sebisanya, akar dari rasa mual tentang trinitas di atas adalah, tatkala, sebut saja, Fourtwenty, band folk (atau karang taruna?) itu melontarkan sebuah wacana ketika mengokupasi panggung FMF 2018, di Batu, beberapa pekan lalu. 

“Folk bukan hanya perkara senja, kopi, dan hujan saja. Tapi musik rakyat!” Sontak rahang saya hampir-hampir jatuh. Dan mereka melenggang dengan nomor Zona Nyaman. Saya shock bukan kepalang. Mereka tak pernah sekalipun hadir dalam panggung-panggung donasi mulai Kulon Progo hingga pedalaman Mesuji. 

Tanpa pernah menukil satu patah kata pun tentang konflik agraria, nasib petani yang menjalani hari-hari di tanah sengketa negara, dan tanpa pernah “turba” dalam pertarungan antara cangkul dan bulldozer, tiba-tiba mendaku musik mereka sebagai “musik rakyat”. Sebuah jokes yang cukup menghangatkan di antara terpaan angin dingin Kota Batu malam itu.

Ada dua nomor anyar yang segar. Sosok dan Suara Bayan adalah sebuah fragmen kecil, yang harapannya jika hadir pada montase debut album mereka, akan menjadi sebuah milestone penting. 

 

Namun, di tengah hilir mudik album-album folk pemuja senja yang biasa saja, saya masih menyimpan satu harapan pada satu nama lain. Ia adalah Taman Nada. Kuarto ini memang band folk yang biasa saja, pada awalnya.

Album pendek mereka bukan alasan saya untuk menunggu debut album mereka—yang sayangnya molor bertahun-tahun lamanya. Tapi, ada dua nomor anyar yang segar. Sosok dan Suara Bayan adalah sebuah fragmen kecil, yang harapannya jika hadir pada montase debut album mereka, akan menjadi sebuah milestone penting. 

Pada nomor ini Atthur Razaki menjajaki kelas penulisan lirik jauh berbeda dari EP pertama mereka. Mereka menanggalkan narasi-narasi yang cenderung pretensius: seolah-olah Surabaya adalah kota yang penuh keriaan, tanpa bopeng barang secuil. Menarasikan Kota Pahlawan tanpa sedu-sedan. 

Mereka menanggalkan semua itu. Dalam nomor Suara Bayan, lewat denting nada yang merambat lamat-lamat, Taman Nada menarasikan tentang keberadaan sebuah kampung kecil yang terasing. Kampung kecil yang ruang hidup warganya terancam dirampas oleh tikus tanah. Dan memoar tentang kepalan tangan yang menolak padam. Ia adalah kampung pecinan, kampung Tambak Bayan. 

Nomor ini adalah sebuah lentera harapan bagi saya. Yang kemudian rela memberikan harapan berupa penantian debut album mereka—yang hingga hari ini—masih sia-sia. 

Ada sebuah kalimat magis dalam nomor Suara Bayan ini.  “Lesa sudah wewangian dupa. Tergeser dengan, aroma sperma. Kisah leluhur, terhempas masa. Saat doa-doa berganti desah” bak sebuah kata penutup buku-buku sejarah. Tentang sebuah kekalahan, dan ketidakberdayaan sebuah kelompok minoritas, yang hidup matinya dipertaruhkan di tanah sengketa. 

Lagu ini diputar secara sengaja dalam rangka mengobati post-traumatic accident di Batu pada beberapa pekan lalu. Lambat laun harapan yang semula rata dengan tanah, satu per satu mulai kembali muncul. Terlebih, seorang kawan mengabarkan bahwa ada titik cerah, bagi kami yang telah menanti lahirnya album pertama dari sebuah band yang mbeler, bersama Taman Nada. 

Dalam waktu dekat—setelah hampir dua tahun lalu mereka menebarkan wacana serupa—rupanya mereka akan ‘benar-benar’ merilis album yang sebenarnya lebih layak dikatakan ‘dilupakan’ daripada dinanti adanya. Mereka mengesampingkan semua ekspektasi dan persepsi yang diletakan dipundaknya.  Namun, kembalinya Taman Nada untuk menyemai harapan baru; menuntaskan apa yang mereka janjikan.