Menjamurnya band stoner rock sebenarnya membuat saya mulai kewalahan memetakan mana yang bagus dan yang buruk. Semuanya berdoa menjadi Black Sabbath wannabe dan paling mentok sok-sok nge-doom macam Sleep.

Tapi, hanya sedikit di antara mereka yang berhasil. Di Surabaya, belakangan ini semakin marak band-band yang memilih jalan serupa. Misalnya, Bvas dan salah satu band baru, yakni X60 Jaran.

Saya sedikit mengernyitkan dahi ketika mantan gitarisnya yang juga gitaris band stoner rock lain, Bvas, mengabarkan proyek terbarunya.

Hah, maksudnya? X60 Jaran?

Oh, saya baru ngeh setelah dijelaskan. Maksud dari X60 Jaran adalah ping suwidak jaran. Lema itu akrab dipilih sebagai wakil dari kata ”berulang-ulang”.

Oke, barangkali itu merupakan pemilihan nama yang cerdas. Setidaknya, saya sedikit meringis setelah mendengar maksudnya.

Sebelum menyaksikan penampilan mereka di salah satu gigs di Omah Jaman Now, saya keburu membayangkan bahwa band tersebut pasti pringisan.

Dan benar saja, penampilan mereka memang demikian.

Saya gagal paham dengan maksud sang vokalis yang membawa sebuah bass drum di setiap pertunjukan.

Pikirku, dia adalah mantan personel grup drumband yang gagal. Sejak dalam pikiran. Karena gebukannya kadang ngawur, tapi keren. Sedikit.

Yang menarik, frontman mereka terbilang paling nyentrik. Sayang, hal itu tidak didukung fashion statement atau stage attitude personel lain.

Jadi, wajar saja jika di setiap pertunjukan, sang vokalis tampil paling mentereng. Menjadi mata pusaran perhatian para penonton.

Bukannya judging identitiy. Tapi, penampilan sang vokalis lebih layak menjadi vokalis band ska daripada stoner rock macam beginian. Alih-alih tampil seperti Ozzy, vokalis X60 Jaran lebih tampak flamboyan. Namun, rapalan kata-kata yang lahir dari kerongkonganya siap membuat rahangmu jatuh seketika. Sangar, Cok!

Jika kita berbicara dari segi musikalitas, X60 Jaran sebenarnya lumayan juga sebagai pendatang baru dengan skuadron orang-orang lama. Jika kalian adalah pengemar Redfang, Weedeater, atau empat album awal Black Sabbath, music X60 Jarang bukan termasuk yang gagal. Tapi, riff mereka masih terlalu pasaran meski karakter sang vokalis bisa menyelamatkan.

Mereka hanya bertumpu pada sound serumpun Big Muff yang seolah menjadi rukun iman bagi band stoner rock kebanyakan. Saya tidak menemukan eksplorasi sound yang baru di sini. Kalau memang pengen raw, rekaman mereka nanggung. Aroma Kadavar tampak jelas ketika mendengar demo mereka.

Setidaknya, X60 Jaran memulai langkah awal dengan cukup cemerlang. Mereka banyak menyedot perhatan. Dan sebenarnya, penampilan live mereka tidak mengecewakan. Sound lebih matang, aksi panggung menakjubkan, dan hanya butuh waktu untuk bereksperimen serta menemukan jati diri.

Ping suwidak jaran adalah montase dari perayakan dan pengharapan bagi Surabaya untuk kembali merebut barometer musik cadas tanah air. Maka, kalian adalah golongan orang-orang yang merugi jika dalam waktu dekat tak kunjung jadi saksi penampilan mereka yang menyerempet anarki!