BAYU Skak bisa bernapas lega. Sebab, film Yo Wis Ben telah menembus angka 900 ribu penonton. ’’Rating e yo apik cak,’’ kata Bayu. Kemudian, dia membuka laman IMDB di ponsel pintar. Hasilnya, saat itu (wawancara 1 April lalu) skor menunjukkan 9,6. ’’Oleh sombong ngene iki aku cak,’’ katanya, lantas tertawa berderai.

Selain membahas proyek film anyar, Bayu bercerita mengenai liku-liku menembus pasar film Indonesia. Salah satu faktor utamanya berasal dari para bos bioskop. Alasannya sederhana. ’’Sebab, mereka lah yang menyediakan layar,’’ ucap Bayu.

Pertimbangannya juga sangat sederhana. Murni bisnis. ’’Mereka (bos bioskop, Red) biasanya melihat sejauh mana hype dalam promo film itu. Atau melihat prospek dari cerita,’’ terangnya.

Hal itu menjelaskan kenapa kadang casting pemilihan aktor/aktris dalam film kadang ditentukan jumlah follower media sosial. Tentu aktor/aktris tersebut secara otomatis ikut mempromosikan kepada follower-nya. Simak saja casting film Indonesia. Jarang sekali memilih pemain yang mempunyai follower minim.

Untuk kasus film Indonesia, biasanya para bos bioskop mematok standar yang sederhana. Yakni, 100 ribu pengunjung pada pekan pertama. Di bawah itu, pasti langsung ada pengurangan layar. Dalam sepekan, film tersebut sudah turun layar alias tak diputar lagi.

Yowis Ben sendiri sudah melebihi target pada dua hari pertama. ’’Sebanyak 70 ribu penonton pada hari pertama dan ada kenaikan di hari kedua,’’ kata Bayu dengan nada bangga. Pada pekan berikutnya, jumlah penonton terus meningkat. Bahkan, ada penambahan 100 layar pada pekan berikutnya. Puncaknya, Presiden Jokowi menyempatkan menonton film saat kunjungan di Malang akhir Maret lalu.

Itu merupakan catatan tersendiri. Sebab, Yowis Ben merupakan film yang menggunakan bahasa daerah dalam dialognya. Bayu juga sempat mendapat kritik di medsos. Sejumlah haters bahkan menyebutnya kurang nasionalis. Sebab, tidak semua orang menggunakan dan paham bahasa Jawa logat Arek –bahasa yang digunakan dalam film tersebut.

Pernyataan itulah yang ditentang dan dibuktikan Bayu. ’’Kata siapa film berbahasa daerah tidak bisa laku? Contohnya film Uang Panai. Semuanya menggunakan casting dan bahasa lokal Makassar,’’ terangnya. ’’Film itu mencatat 500 ribu penonton,’’ tambahnya.

Menurut dia, penggunaan bahasa daerah bukan hal yang tabu. Ketidaktahuan penonton bisa disiasati secara teknis. Paling sederhana adalah menggunakan terjemahan. Bagi Bayu, ekspresi kedaerahan justru penting untuk pengembangan seni. ’’Indonesia akan menjadi kaya ekspresi,’’ ujarnya. Dan, itu merupakan hal baik bagi Indonesia.

Persis seperti kredo seorang pakar bahasa Indonesia Ivan Lanin. Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.