Solo: A Star Wars Story rilis secara resmi di seluruh dunia hari ini (25/5). Tapi, banyak netizen yang begejekan masalah ”Solo” sejak beberapa hari lalu. Inti begejekannya sih sama, going solo to watch Solo. Mereka gak tau aja. Meski judulnya solo, ceritanya bukan tentang orang piyambakan kayak mereka.

Terus iki film tentang opo?

Yang jelas, film tersebut bukan Star Wars yang di-dubbing menggunakan bahasa orang Solo. Ataupun film Star Wars yang mengambil setting di Kota Solo. Gak ono hubungane blas karo Kota Solo, rek!

Lha terus?

Kalian masih ingat bandit antargalaksi yang akhirnya berhasil nggendhing Princess Leia? Duh, sekelas Princess aja kecantol sama bad boy. Apalagi rakyat jelata dari galaksi bimasakti kayak saya. Memang kok, pesona bad boy itu lhuarrr biyasak! Kalian yang macak anak baik-baik paling cuma melongo denger balesan, ”Kamu terlalu baik buat aku”. Baringono mewek sampe mencret. Oke, cukup. Lebih lanjut tentang pesona bad boy, baca artikel yang akan tayang besok Sabtu (26/5).

Film ini menceritakan nom-nomane Han Solo. Mulai asal-usul nama Han Solo sampai perjuangan cinta monyetnya sebelum bertemu Princess Leia.

Film tersebut menceritakan nom-nomane Han Solo. Mulai asal-usul nama Han Solo sampai perjuangan cinta monyetnya sebelum bertemu Princess Leia. Klasik yo, mesti urusan gendakan. Tapi mau gimana lagi, permasalahan uripmu ae mesti masalah asmara toh? Yo moso film gak oleh mbahas ngenean!

Sek rek… Lanjutan artikel ini mengandung beberapa spoiler. Baca atas resiko sendiri yo! Ojo ngresulo ngamuk-ngamuk nang kolom komen, kan wes di-disclaimer disik.

Ehm, mari kita masuk ke cerita. Setting awal film tersebut adalah Corellia, yang diceritakan sebagai tempat asal Han (diperankan Alden Ehrenreich) dan cinta monyetnya, Qira (diperankan Emilia Clarke). Emang dasar bad boy, di awal aja udah ditunjukin kalau Han berusaha kabur dari pasukan The Empire gara-gara nyolong hyperfuel coaxium.

Begitu berhasil, Han balik menemui Qira dan berjanji kabur bersama dari Corellia dengan modal coaxium colongan. Tentu mereka ingin membuat kehidupan baru berdua. Jauh dari jajahan The Empire dan keluar dari lingkungan preman alien Corellia.

Nggh, koen! Cewek mana yang gak klepek-klepek dikasi janji manis kaya gitu? Makanya, ini yang bikin bad boy selalu diidolakan. Mereka tau apa yang harus dikatakan biar hati cewek berasa mak klenyesss.

Han dan Qira hidup di daerah bronx –-istilah Inggris-nya–- bersama preman alien lain. Karena hidup di lingkungan preman, mereka kena japrem tipis-tipis. Begitu ngeliat Han baru datang, para preman alien langsung gatel aja mau majekin. Minta jatah. Saat bilang gak ada, Han malah kena congor dari para preman dan dibilang pembohong. Yo ancen mbujuk se. Harga coaxium yang dicolong tadi kan muuahal gak karuan. TAPI YHA MASA MAU DIKASI? Yo males jeh. Kan mau dipake modal kawin lari bersama Qira. Eaaaa.

Mangkel dicongori terus-terusan, Han akhirnya membalas dan kabur sambil menggandeng Qira. Saat itu ingin rasanya ku berteriak, “Gandeng aku aja dong maaasssss!”. Sayangnya, aku masih jauh lebih jelek daripada jentikan Qira.

Adegan selanjutnya bisa dibilang klasik, kejar-kejaran ala film action. Cuma, mobil sing digawe gak nduwe ban dan gak napak tanah. Jadi ketok luweh mbois sitik.

Terus Han dan Qira kabur kemana gaes? Kan tadi Han udah janji untuk kabur dari Corellia bareng-bareng. Jadi, tak lain dan tak bukan, mereka kabur menuju perbatasan.

Sayangnya, mereka cuma rakyat jelata. Jangankan kartu identitas, nama belakang saja mereka tak punya! Terus gimana dong cara melewati pemeriksaan petugas perbatasan? Jangan khawatir, kan ada coaxium yang udah dicolong Han. Cukup suap aja para petugas, pasti nanti dikasi lewat. Gak mungkin nolak juga lah, kan belum ada KPK cabang Corellia.

Ternyata, di mana-mana, petugas imigrasi itu sama saja. Baik planet bumi cabang Indonesia maupun Corellia. Mereka sama-sama terlahir sebagai pribadi yang nggatheli. Han dilolosin gitu aja pas screening. Tapi giliran Qira, dia malah ketahan. Akhirnya, Qira ketangkap dan gagal kabur.

Han patah hati, sedih, lalu memutuskan untuk daftar jadi pilot. Tidak semua bad boy kehilangan arah ketika patah hati gaes. Apalagi, Han percaya bahwa menjadi pilot adalah langkah untuk menjemput kembali Qira dan memenangkan hatinya. Sungguh tiada motivasi yang lebih kuat dari cinta memang.

Nah, saat mendaftar sebagai pilot inilah terlahir nama Han Solo. Awalnya, Han ditanyai nama belakang. Namun, karena selama ini piyambakan, dia bingung dong. Dalam versi Jawa, kurang lebih gini percakapannya:

“Jenengmu sopo, le?”

“Han”

“Han sopo? Jeneng mburimu kae lho.”

“Gak ono, lik!”

“Lha. Yo opo sih. Kowe gak nduwe keluarga to?”

“Gak, lik. Aku dewekan.”

“Yawes, berhubung kowe gak duwe sopo-sopo, tak daftarke jadi Han Solo wae yo.”

“Manut, lik!”

Untung aja petugas pendaftaran pilot tersebut berasal dari Corellia. Makane jenenge sik mbois sitik, Han Solo. Coba petugasnya itu orang Solo, namanya bisa-bisa jadi Han Piyambakan. Yang paling gak mbois blas itu kalau si petugas ternyata telat puber dan masih punya jiwa emo ala remaja Facebook. Bukan tidak mungkin namanya jadi Han Clalu Cendili dan Dishuckitty.

Terus apakah Han berhasil menjadi pilot? Tentu tidak. Alih-alih menjadi pilot, Han malah dipasang sebagai pasukan garda depan saat perang. Itu lho, kroco-kroco yang biasanya direlakan untuk mati. Berhubung cuma kroco, pas mau ngelaporin Beckett sebagai penyusup, Han malah diumpan ke monster yang disimpan di bawah tanah, berlumur-lumpur.

Monster itu adalah Wookie, yang selanjutnya kita kenal sebagai our hairy friend, Chewwy. Lha ya, kok ndelalah Han bisa bahasa Wookie. Akhirnya dia batal dimakan dan menyusun rencana untuk kabur bareng. Mungkin saat itu di pikiran Han, tak ada Qira, Wookie pun jadi.

Kaburnya Han dan Chewwy juga dibantu Beckett dan tim. Sebagai balas budi, Han membantu misi Beckett yang mengantarkannya bertemu kembali dengan Qira sampai nyetiri Millennium Falcon yang masih kinyis-kinyis.

Ada banyak breathtaking moment dalam film tersebut. Terutama adegan kejar-kejaran antara X-wing dan Millennium Falcon. Sungguh bikin ndredeg gak karuan.

Selain itu, semenjak Star Wars dipegang Disney, selalu ada satu memorable droid yang dihadirkan. Sebut saja the cute BB-8 di Star Wars: The Force Awaken, K2SO yang nyablak di Rogue One: A Star Wars Story, lalu penampakan BB-9E di Star Wars: The Last Jedi. Di Solo: A Star Wars Story ini pun ada L3, droid milik Lando yang chaotic, in a good way.

L3 menuntut persamaan hak bagi para droid untuk sejajar dengan lainnya. Juga menentang habis-habisan perbudakan dengan membebaskan semua droid yang diprogram ulang paksa.

Sayang, nasib L3 tidak jauh berbeda dengan K2SO. Mereka hanya dapat jatah di satu film. Jadi, mereka cuma hadir kemudian mati dalam cerita.

Yang tetap hidup dari awal sampai akhir film ya jelas siapa lagi kalau bukan Han Solo. Kan ini emang nyeritain perjuangan Han untuk nggendhing balik Qira. Untung ceritanya dikemas dalam perjalanan antargalaksi yang super mbois. Makanya gak kerasa kayak drama murahan ala FTV.

Terus apakah Han berhasil?

Yo tontonen dewe rek! Pegel aku nyeritani terus-terusan. Sing jelas, pas film e meh buyar, ono kejutan sing rodo nggarai mberok “LHO IKI KAN..”.

Ati-ati jantungan yo, siapkan mentalmu!