Banyak yang menyebut-nyebut Hereditary sebagai salah satu film dengan genre horor terbaik sepanjang 2018. Rodo wagu sih, 2018 aja baru setengah jalan lho tapi kok ya udah pada seenak udelnya sendiri menyematkan predikat prematur tersebut. Apalagi kalo mengingat horor barat yang levelnya. Yah, cemen lah ya untuk orang-orang Asia, terutama Indonesia.

Buat orang Indonesia kebanyakan, horor londo itu cuma ngagetin. Jump scare, istilahnya. Bagus buat latihan kaget-kagetan tapi gak garai wedi blas. Levelnya masih jauh dibanding horor lokal ala Suzanna, Jun-oh ala Jepang atau Shutter ala Thailand yang beneran bisa garai kepuyuh-puyuh saking wedine.

Nah, Hereditary ini rupanya tidak seperti film horor barat biasanya yang mengusung nilai jump scare. Jauh dari kesan itu malahan. In a way, Hereditary lebih bisa dibilang sebagai film keluarga bertema horor. Tapi tetep, penonton bisa dibikin misuh-misuh tiada henti sepanjang film.

Hanya saja, kali ini bukan karena kebanyakan sound effect dan tampilan yang mak mbenduduk nggarai kaget, melainkan karena adegan yang ditampilkan memang disturbing luar biasa. Ya gimana gak disturbing, ono ndas’e arek cilik ngglundung, jeh!

Selain itu, yang  benar-benar menarik dari film ini adalah bagaimana jalan ceritanya bisa di-twist dengan dua sudut pandang–sisi kesehatan mental dan perklenikan.

Penonton bisa beranggapan bahwa semua yang dilihat Annie, tokoh utama dalam film ini, adalah halusinasinya yang sedang tertekan karena terlalu banyak kejadian kurang menyenangkan yang hadir dalam waktu berdekatan. Ditambah lagi deadline pekerjaan yang semakin dekat.

Tetep lah ya, mau di kehidupan nyata maupun film sekalipun, deadline kerjaan itu sama seperti cewek demanding yang lagi banyak maunya. Sama-sama gak bisa dibantah dan diganggu gugat. Udah gitu bikin kepala makin mumet dan stress.

Hanya saja, Pengabdi Setan (2017) memiliki twist cerita yang menarik di akhir, sementara Hereditary cukup lugas.

Teori halusinasi akibat kesehatan mental yang terganggu ini pun diperkuat dengan informasi yang disampaikan Annie sendiri terkait rekam medik Ibunya yang baru saja meninggal dan saudara laki-lakinya yang meninggal karena bunuh diri.

Keduanya menderita gangguan kejiwaan dan memiliki fase halusinasi yang cukup ekstrim.

Namun jika menyimak dari sisi perklenikan, jalan cerita Hereditary memiliki kesamaan dengan Pengabdi Setan (2017). Keduanya sama-sama mengusung cerita dimana salah seorang anggota keluarga merupakan anggota sekte tertentu yang kemudian mengorbankan anggota keluarganya untuk kepentingan sekte.

Hanya saja, Pengabdi Setan (2017) memiliki twist cerita yang menarik di akhir, sementara Hereditary cukup lugas.

Tapi kalo dari sisi horor-hororan ya jelas lebih bikin merinding bagian ibu muncul minta disisirin. Belum lagi ditambah ibu yang mendadak muncul di jendela kamar. Kurang njancuki opo coba? Sing jelas, sejak saat itu jendela kamar terasa tidak sama seperti dulu lagi.

Nah, kalo Hereditary menyebut-nyebut Paimon sebagai elemen dari dimensi seberang, di Ant Man and The Wasp ada Baba Yaga.

 

Tema film keluarga pun tidak hanya diusung oleh Hereditary. Ant Man and The Wasp yang baru akan rilis Jumat nanti (6/7) di US juga mengusung tema yang sama meski dibalut dengan genre comedy action ala superhero Marvel. Tidak hanya sekedar family vibes antara Scott dan Cassie ataupun Hope Van Dyne dan Dr. Hank Pym, tapi inti cerita film ini pun juga.

Ya kalo mau main cocoklogi sebenarnya Hereditary dan Ant Man and the Wasp ini bisa dibilang memiliki kesamaan juga tipis-tipis.

Seperti misalnya di Ant Man and The Wasp, diceritakan bahwa berbagai kekacauan nggatheli dan nyegeki pol-polan yang dilakukan Scott Lang yang emang rada haho’ ini demi membawa kembali Janet Van Dyne, ibu dari Hope yang ternyata terjebak di Quantum Realm. Sementara itu di Hereditary diceritakan bahwa misi utama dari serangkaian teror yang garai misuh-misuh sepanjang film adalah demi membawa Paimon ke dunia.

Lho? Paimon iki sopo? Bukan, Paimon bukan saudara kembarnya Painem, pembantu tetangga sebelah yang semlohay. Paimon adalah satu dari sekian makhluk dari dimensi seberang sana. Ada yang menyebutnya sebagai tangan kanan Lucifer.

Nah, kalo Hereditary menyebut-nyebut Paimon sebagai elemen dari dimensi seberang, di Ant Man and The Wasp ada Baba Yaga. Baba Yaga adalah makhluk dimensi seberang yang berasal dari cerita rakyat Slovakia yang bisa muncul, hilang dan terbang sesukanya dalam rangka menculik anak-anak.

Tapi karena genre Ant Man and The Wasp yang comedy action, berbagai elemen yang biasanya mencekam di film horor malah jadi slengekan pol-polan. Seperti contohnya bagian Baba Yaga.

Meski sama-sama penghuni dimensi seberang, Baba Yaga tidak dikondisikan dengan adegan mencekam ngeri-ngeri syedap garai nyengir miris seperti kemunculan Paimon di Hereditary.

Kalo di Hereditary bisa bikin misuh-misuh ketakutan, di Ant Man and The Wasp malah bikin nggegek gak karuan.

 

Baba Yaga berulang kali disebut-sebut oleh Kurt setiap kali ada Ava (The Ghost). Ya meskipun di ceritanya Kurt ini ketakutan karena benar-benar mengira Ava adalah hantu, tapi mukanya yang kocak ketika ketakutan malah nggarai nggegek.

Belum lagi tentang adegan kesurupan. Kalo di Hereditary bisa bikin misuh-misuh ketakutan, di Ant Man and The Wasp malah bikin nggegek gak karuan. Ya bayangin aja, yang kesurupan Scott Lang yang badannya macho dan kelakuannya mbleset gitu, terus pegangan tangan ama Dr. Hank Pym.

Gak cuma sekedar pegangan tangan aja, tapi juga ada tatap mata mesra! Mbuh itu mesti take berapa kali pas syuting gara-gara Michael Douglas kebelet muntah dan nahan ketawa liat ekspresinya Paul Rudd yang uwuwuwuw banget gitu ke dia.

Ant Man and The Wasp ini bisa dibilang not your ordinary Ant Man movie. Perpaduan antara action, comedy dan percobaan horor yang gak ada medeninya blas ini dikemas dengan apik dan mampu menghibur sampai akhir, bahkan sampai post credit scene juga!

Yang kemarin-kemarin banyak yang komentar tentang absennya Ant Man di Infinity War, ya kowe kudu nonton iki!