Terlalu sering dikecewakan dengan film Indonesia yang terdahulu membuat saya awalnya enggan menonton film Yowis Ben. Apalagi film ini sok diklaim menjunjung budaya Jawa Timur yang kental.

Saya sih skeptis, karena yang udah-udah cuma branding dan promonya aja yang digedein bawa nama Jawa Timur. Isinya? Prek!

Saking skeptisnya, meski ada banyak pihak yang menyampaikan ke saya bahwa Yowis Ben ini layak ditonton, saya tetep emoh. Namun, setelah bertemu dengan mas Bayu Skak dan dimandat langsung untuk nonton, akhirnya saya tergerak untuk menginjakkan kaki ke XXI.

Yo opo maneh, dike’i titah karo sing nggawe film yo moso dijarno rek!

“Tinggal lima hari lagi lho tayang di bioskop. Kalo bisa nonton lah!” ujar mas Bayu Skak saat kami bertemu di Malang.

Sayangnya, bioskop yang menayangkan Yowis Ben di Surabaya juga tinggal sak ncrut. Tepatnya sih cuma dua bioskop. Royal 21 dan Transmart XXI.

Berdasarkan perhitungan yang matang, yang tidak lain dan tidak bukan adalah harga yang lebih murah, saya memutuskan untuk menonton Yowis Ben di Transmart XXI pada Selasa, 3 April 2018. Karena sudah pernah diece mas-mas penjaja popcorn di XXI dengan “Kok nontonnya sendirian terus sih mbak? Jomblo ya?”, akhirnya saya memutuskan untuk… kembali nonton sendirian! Yha gimana yha, tak ada yang bisa diajak sih.

Film dimulai, dan saya bingung. Ini film sudah mulai beneran atau masih trailer dan iklan ya? Iya, awalnya mbingungi pol. Ya gimana, masa ujug-ujug ada adegan tanpa konteks, di mana Bayu naik motor terus mogok. Sudah tau mogok, motornya malah ditendang-tendang sama mas Bayu. Lha dipikir bar disepak terus mak mbendunduk murup dewe?

Makin aneh ketika ada tukang becak yang ikut menendang motor Bayu. Akhirnya berujung ke saling tending kendaraan antara Bayu dan tukang becak. Bayu menendang becak dan tukang becak menendang motor. Karepe opo coba?

Adegan absurd yang berlangsung selama beberapa menit itu sempat membuat saya mengamini pikiran skeptis di awal film tersebut. Tapi, ternyata adegan itu dibuat sebagai intro menuju cerita perjalanan Yowis Ben. Mulai latar belakang berdirinya, konflik internal band, sampai.. yo sakmarine cerito.

Dari sisi cerita, tema sekilas sebenarnya mirip dengan Suckseed, film asal Thailand yang bercerita tentang segerombolan anak muda yang mencoba membuktikan diri melalui musik dengan membuat sebuah band. Tapi, yang benar-benar menarik dari Yowis Ben adalah nuansa Jawa Timur, terutama Malang, terasa begitu khas dan mengalir begitu saja.

Hal lain yang tak kalah menarik dari film ini adalah kehadiran Cak Kartolo dan Cak Sapari, dua legenda ludrukan Jawa Timur. Meski perannya cukup minor, kemunculan mereka bisa mengundang gelak tawa melalui celetukan yang disampaikan. Apalagi dalam film itu mereka disandingkan bersama, saling bersahutan satu sama lain, beradu celetukan masing-masing.

Selain itu, kehadiran Tutus Thompson sebagai bekas pemukul beduk yang kemudian hijrah menjadi drummer Yowis Ben benar-benar mencuri perhatian. Karakternya dapat menjadi penggambaran pemuda Jawa Timur yang religius. Mau dimana pun dan sedang apa pun, harus tetap ingat shalat lima waktu! Celetukan yang dilontarkan pun terasa begitu asli nggatelinya. Nggarai ngakak terus pengen misuhi!

Yowis Ben berhasil membawakan bahasa Arek yang banyak digunakan di Surabaya-Malang begitu natural di telinga. Membuat saya merasa tidak sedang menonton film, tapi melihat teman sendiri di kehidupan sehari-hari yang sedang bercanda ataupun bertengkar. Yah, memang ada beberapa yang terasa agak wagu, tapi masih bisa dibilang sangat minor.

Banyak ejek-ejekan ala Arek yang disuguhkan dan mampu mengundang riuh tawa yang luar biasa. Ada juga lelucon lokal Arek yang disisipkan dalam beberapa kesempatan. Sayangnya, hal tersebut tidak menjadi lucu dan menarik lagi ketika dihadirkan dalam bentuk teks terjemahan bahasa Indonesia. Besar kemungkinan akan membuat berbagai celetukan yang seharusnya mampu mengundang riuh tawa menjadi terasa biasa saja bagi mereka yang tidak paham bahasa Arek.

Bagi saya, salah seorang pengusung bahasa Arek, yoiki film’e Arek Jawa Timur Rek!