Tanggal 19 Juli bisa dibilang sebagai Ario Bayu’s Day. Gimana enggak, dalam sehari, dua film yang dia perankan rilis. Dua-duanya bisa dibilang bergenre action andalan pulak! Buffalo Boys yang mengusung setting tahun 1890 dan 22 Menit yang mengacu pada tragedi bom sarinah pada 2016.

Berhubung rilisnya bareng, jadi kepikir deh buat movie marathon. Sehari langsung nonton dua film.

Sayang, bioskop XXI di Surabaya cuma menyediakan satu teater untuk Ario Bayu. Kalo gak nayangin film Buffalo Boys, ya film 22 menit. Gak ada yang keduanya.

Satu-satunya bioskop yang nayangin keduanya cuma CGV di Marvel City. Tapi jeda waktu kedua film masih kejauhan. Buffalo Boys yang jam tayangnya siang ngentang-ngentang pasti selesainya sore. Sedangkan jam tayang 22 menit itu malem.

Dari sore ampe malem mau ngapain di Marvel City? Mal sepi, pilihan makanan pun terbatas. Masa ya mau tawaf muterin Lotte Mart sambil hafalan harga produk promo?

Trailer Buffalo Boys cukup menggambarkan film macam apa yang akan dihadirkan. Tanpa meninggikan ekspektasi, film ini bisa dikatakan sangat menghibur.

 

Untung Surabaya punya Tunjungan Plaza dengan enam malnya yang disambung-sambungin. Dari enam mal tersebut, ada tiga bioskop dan dua di antaranya menayangkan Buffalo Boys dan 22 menit. Lumayan, abis nonton Buffalo Boys di TP 1 bisa ngesot ke TP 3 buat lanjut nonton 22 menit. Jadi hemat duit parkir!

Movie marathon pertama dibuka dengan Buffalo Boys. Trailernya cukup menggambarkan film macam apa yang akan dihadirkan. Tanpa meninggikan ekspektasi, film ini bisa dikatakan sangat menghibur.

Secara garis besar, penggarapannya cukup apik. Properti dan set film tidak disiapkan secara asal-asalan, tapi memang dengan pertimbangan matang akan karakter dan jalan cerita yang dihadirkan. Hanya sebagian kecil dari film tersebut yang diambil di luar set. Misalnya, adegan di sungai, hutan, dan Prambanan.

Script-nya yang berbahasa Inggris pun sangat memuaskan. Semua pemain lanyah bener, tidak ada kecanggungan atau kekakuan yang kadang masih terasa bagi non-native speaker.

Sayang, script bahasa Indonesianya justru kaku. Banyak kata yang.. mbuh, rada nganu pokoknya di telinga. Contohnya, waktu kakak adik Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) melihat penunggang kerbau. Subtitlenya kurang lebih begini,

She really know how to ride

Like an Apache!”

Secara tekstual sih tidak ada yang aneh. Hanya percakapan mengagumi kemampuan seseorang yang mengingatkan pada salah satu suku asli di Amerika. Tapi bayangkan saja jika ada gerakan slow motion njut-njutan nunggang kerbau, ditambah dua pria yang melongo sambil ngomong..

“Dia tahu benar cara menunggang”

Meski sudah berusaha berpikir sepolos dan senetral apapun, tetap aja yang terlintas ya referensi mesum! Ya Allah, maafkanlah hambamu satu ini.

Jadi kalo mau menikmati film ini seutuhnya, disarankan mendengarkan percakapan dan subtitle berbahasa Inggris saja. Kalo merhatiin bahasa Indonesia yang digunakan berasa pengen ngaploki pemainnya satu-satu. Kecuali Alex Abbad sih, bahasa dia gak sekaku yang lainnya.

Adegan action yang dihadirkan pun tidak sekedar dar-dor tembak sana-sini. Ada beberapa pertarungan tangan kosong yang menghasilkan banyak bagian tubuh yang beterbangan. Sayang, pertarungan yang dihadirkan terasa lambat. Seakan-akan musuhnya iki ngenteni diantemi. Gak bisa luwes seperti gelut di film-film arahan Yayan Ruhiyan.

Yang paling memuaskan cuma adegan berantem lawan kroco kumpeni cewek yang diperankan Hannah Al-Rasyid. Yha mungkin karena levelnya berantem ama mantan atlet pencak silat juga kali ya. Jadi berasa bedaaa.

Terus ceritanya gimana? Gak wagu apa kok ada cowboy nyasar ke Indonesia? Mana di sinopsisnya dibilang mereka anak Sultan kan? Kok mblesete adoh.

Jadi ceritanya, pas era kumpeni, Sultan Hamzah –bapaknya Jamar dan Suwo– termasuk penentang kumpeni. Kumpeni yang berkuasa di era itu bernama Val Trach. Mungkin bisa dibilang, teganya Val Trach ini sekelas Daendels kali ya. Banyak bikin kerja rodi dan ngerugiin warga.

Namanya juga kumpeni, kalo ada yang nentang diapain? Ya dibinasakan dong. Jadilah Sultan Hamzah dan adiknya –Arana (Tio Pakusodewo)– dikejer-kejer kumpeni. Karena Jamar dan Suwo masih bayek, mereka dimasukin ke ransel rotan gitu dan digendong ke sana-sini.

Layaknya film (sok) ksatria lainnya, Sultan Hamzah nyuruh adiknya pergi duluan buat nyelametin anak-anaknya. Arana juga disuruh pergi sejauh mungkin.

Nggathelinya, pesan Sultan Hamzah ini diartikan secara literal sama Arana. Dia minggat naik getek ke Ameriki, tepatnya ke California. Era itu sih bertepatan dengan California Gold Rush. Jadi bisa dibilang, Arana punya niat minggat sambil kumpulin modal buat bales dendam. Cakep!

Setelah cukup terkumpul, mereka balik ke tanah Jawi naik kapal. Dandanannya tentu ala cowboy tadi lah ya. Gimana lagi, tumbuh dan besar di Ameriki sih. Mereka jadi keliatan nyentrik juga. Muka lokal tapi dandanan cowboy.

Meski digaris bawahi menceritakan usaha bales dendam, sebenarnya Buffalo Boys lebih bisa dibilang sebagai cerita kelakuan pria-pria el-homblo kesepian. Mulai bagaimana mereka bisa lupa akan tujuan utama gara-gara perempuan sampai gedabrusan janji manis yang palsuuuu!

Gimana enggak, Suwo malah sibuk mepetin Kiona (Pevita Pearce). Bahkan saat Arana shock dan limbung, Suwo yang seharusnya ke toko obat Cina malah ngapeli Kiona di kios bunga, ngerusuh di bar, dan akhirnya ketangkep kumpeni.

Obatnya gimana? Wah ya sudah lupa. Untung Arana cukup sakti dan bisa pulih dengan sendirinya.

Tapi tetep aja, Arana shock gara-gara perempuan. Tepatnya kaget ngeliat istrinya, Seruni (Happy Salma), yang masih hidup. Dan sama aja kayak Suwo, Arana akhirnya lupa ama tujuan utamanya untuk bales dendam dan banting stir buat balikan ama Seruni wae.

Bales dendam, makanan apa tuh? Yang penting aku wes ketemu yhangku! Sisanya urusan kalian wae!

Setidaknya, meski akhir jalan ceritanya banting stir demikian, Buffalo Boys masih memiliki cerita yang cukup bisa dinikmati. Mengalir begitu saja dari awal sampai akhir dan sesekali dihiasi tawa kecil untuk merespons wagunya bahasa Indonesia yang digunakan.

22 Menit layak disimak sebagai salah satu konten promosi kepolisian yang apik.

 

Lain cerita dengan 22 menit yang lebih mirip propaganda kepolisian. Namun, perlu diakui bahwa pengemasannya cukup apik.

Di sepertiga awal film, kita disuguhi berbagai aktivitas pagi orang-orang yang akan terlibat dalam kejadian nahas tersebut dan sudut pandang mereka saat ledakan.

Yang paling menarik dan sungguh apik adalah becandaan ala polisi di pos jaga. Gojlokan yang dilontarkan terasa familier bagi yang pernah duduk manis di pos polisi nungguin surat tilang.

Awal yang begitu apik tersebut tidak diimbangi dengan pembangunan karakter pihak teroris dalam mengeksekusi niatnya. Mak mbendunduk, ada orang yang muncul di cafe sambil bawa ransel terus meledakkan diri.

Ujug-ujug ada juga yang jedar-jedor di atap gedung. Ditambah lagi orang yang asal tembak di deket lokasi pengeboman. Sama sekali gak disebutin cara mereka berkoordinasi. Mana akting penjahatnya kaku banget pulak! Seakan dipasang asal seadanya!

Yang menjadi sorot utama sebagai penutup film cuma keberhasilan pihak kepolisian meringkus jaringan yang tersisa. Padahal, kalo ditambahkan beberapa adegan dramatis dari orang-orang yang diceritakan di awal itu, pasti bisa memberikan sentuhan yang lebih apik lagi.

Bukan sekedar humblebrag kepolisian yang menyelesaikan kasus dalam waktu 22 menit aja.

Kalo kalian mencari satu cerita yang utuh, gak disarankan untuk menonton 22 menit, mendingan Buffalo Boys. Tapi kalo pengen melihat salah satu konten promosi kepolisian yang apik, 22 menit beneran layak disimak. Apalagi ada pesan untuk menangkal seruan kebencian di situ.