The Darkest Minds (2018) merupakan film adaptasi dari seri pertama seri novel fantasi remaja, The Darkest Mind. Seperti film adaptasi novel kebanyakan, tentunya akan susah mengangkat cerita yang dituangkan dalam ratusan halaman novel menjadi satu film berdurasi antara 2-3 jam saja. Begitupun dengan film yang baru saja rilis pada 15 Agustus 2018 kemarin ini.

Secara garis besar sih The Darkest Minds menggambarkan tentang satu masa dimana semua anak di bawah umur 18 tahun yang biasa-biasa aja akan mati satu per satu. Yang tersisa hanya mereka yang memiliki kemampuan khusus. Kemampuan mereka pun beragam dan ditandai dengan warna: hijau, biru, emas, merah, dan oranye. 

Hijau untuk kemampuan otak yang luar biasa, bahkan lebih dari sekadar genius dengan eidetic memory. Biru untuk telekinesis, emas untuk electrokinesis, merah untuk pyrokinesis dan oranye untuk pengendalian pikiran.

Karena khawatir dengan kemampuan yang kaya gitu, maka pemerintah mengumpulkan mereka dalam satu lokasi khusus agar bisa diawasi. 

Sekilas sih kesannya pemerintah ini jahat ya. Masa ya merenggut masa kecil dan malah mulosoro mereka gitu. Ditaruh di kamp dan diperbudak, atau malah dijadiin tentara super.

Tapi sakjane kalo dipikir ulang, ketakutan pemerintah sebagai orang biasa yang engga punya kemampuan super gitu ya masuk akal. Di film aja ada adegan yang menunjukan bagaimana Liam (Harris Dickinson) yang punya kemampuan telekinesis bisa lolos pengejaran cuma dengan nahan kecepatan mobil pengejarnya dan ngerobohin pohon untuk menghambat mereka.

Belum ditambah pas ngelawan anak-anak berkode merah yang bisa pyrokinesis. Pas tentara super pyrokinesis ini mau ngabab api kaya naga, sama Liam malah langsung disampluk pake kontainer. Blar, langsung ambyar kabeh itu superheroes abab api. 

Di sekitar 30 menit awal memang masih terasa menariknya, meski sedikit terkesan terburu-buru juga. Kirain sih keburu-buru gitu karena ngejar supaya tetep bisa nampilin semua cerita di novelnya dengan utuh. Njekethek ternyata karena sekedar mau fokes ke adegan cinta-cintaan remaja.

 

Itu baru yang telekinesis ya. Bayangin kalo bisa ngontrol pikiran orang lain. Ruby Daly (Amandla Stenberg), tokoh utama dalam Darkest Minds yang juga bisa kontrol pikiran orang ini malah bikin helikopter nyungsep dengan ngontrol pikiran pilotnya.

Semua itu padahal mereka bertindak sendiri-sendiri lho, tapi ngerinya udah malesin gitu. Bayangin gimana kalo semuanya saling bekerjasama? Dunia bisa lebih semburat daripada isi hatimu yang diacak-acak sinyal tarik-ulur gebetanmu, jeh!

Dengan latar belakang cerita yang menarik dan didukung dengan akting tiap pemerannya yang ciamik, seharusnya sih The Darkest Minds bisa menjadi salah satu film yang memuaskan banget. Apalagi kalo merhatiin trailernya, kan WUIH banget itu.

Ya, tapi namanya juga “seharusnya” ya. Kenyataan malah berkata lain. Di sekitar 30 menit awal memang masih terasa menariknya, meski sedikit terkesan terburu-buru juga. Kirain sih keburu-buru gitu karena ngejar supaya tetep bisa nampilin semua cerita di novelnya dengan utuh. Njekethek ternyata karena sekedar mau fokes ke adegan cinta-cintaan remaja.

Padahal ya, daripada kebanyakan nampilin cinta-cintaan bedes remaja yang prekethek gitu, mending ditambah bagian yang menjelaskan posisi pemerintah, pembagian golongan bocah-bocah kekuatan super ini, dan tentunya tentang The League yang mbuh apaan sebenernya posisi dan bentuknya dalam cerita di film ini. 

Divergent, sebagai film fantasi serupa yang juga tentang pelarian tokoh utamanya dari golongan mereka itu kan intinya juga di cinta-cintaannya Tris sama Four. Tapi, bagusnya Divergent bisa menggambarkan tiap faksi dan posisinya dengan cukup baik. Penonton jadinya ngga ngerasa ceritanya cheesy dan klise modelan Twilight yang isinya love melulu. 

Yang hidupnya wes kakean drama pun jadi ngga ngerasa tambah enek dan jadi bisa menikmati ceritanya secara utuh. Filmnya pun jadi tetep di jalur fantasi dengan sedikit bumbu drama, bukan malah drama dikasi bumbu fantasi ben ketok cinta-cintaan ala hipster klenik kekinian.

Yang jelas sih kegagalan mengangkat potensi The Darkest Minds di seri pertamanya ini bakal jadi pe-er berat kalo misal Never Fade, novel kedua dari seri The Darkest Minds, mau digarap juga. Kalo ampe gagal ya brarti seri The Darkest Minds ini palingan jadi senasib kaya serinya Percy Jackson. Cuma naik layar di dua novel pertama, meski benernya ceritanya ada sampai 5 novel.