Selintas, band-band-an atau latihan ngeband di studio terdengar simpel. Cukup mengajak rekan merapat, booking studio langganan, dan kita sudah bisa menjadi rockstar dadakan tanpa tendensi apapun untuk merekam album atau bermain di panggung pensi. Just for fun. Hanya senang-senang.

Tapi saat mulai memasuki ruang ber-AC 20 derajat di studio—ditambah bau-bau karat cymbal dan kadang apeknya karpet studio yang dihiasi bebauan kaus kaki—kamu dan rekan-rekan band akan bingung dan menghabiskan beberapa menit dari waktu shift untuk berdebat soal lagu apa yang akan dibawakan.

Drummer otomatis akan mulai bermain random—bisa meniru hyperblast atau triplets ala Bonzo. Gitaris akan pamer kemampuan setelah sebelumnya menjajal semua efek, mulai distorsi sampai delay. Sementara basis akan membetot senar sesuka hati; dengan jempol atau dua jari; telunjuk dan jari tengah. Vokalis tentu saja adalah frontman yang membentak-bentak rekan satu band untuk segera menentukan lagu.

Nah, sesudah pertengkaran kecil inilah band akan menemukan pola, yang saya yakin pasti dialami semua anak band yang pernah berlatih di studio. Semacam lagu-lagu pengantar sebelum memainkan lagu utama. Berikut beberapa lagu yang jamak dimainkan—berdasarkan pengalaman nostalgik saya sebagai anak band kurang skill, cupu, dan tentu saja gagal sejak dalam nada.

Peterpan – “Semua Tentang Kita”

Lagu ini selalu jadi semacam opening fardhu ‘ain bagi kebanyakan gitaris di negeri ini. Berfungsi sebagai penyetem senar gitar sekaligus pemecah kebuntuan. Chord intro yang berkutat pada C-G-Am-Em- F-C-Am akan selalu diingat pakar stem nusantara.

Tentu saja bukan hanya sekadar genjrang-genjreng, tapi dimainkan versi melodi yang mirip dengan lagu aslinya. Kalau sudah pas, berarti gitar sudah stem. Lagu yang simpel tapi begitu penting untuk keberhasilan lagu selanjutnya. Saya tentu tak pernah berhasil menirukannya. Entah karena gitar yang senarnya bobrok, saya yang nggak bisa nyetem, atau memang bodoh saja.

J-Rocks – “Fallin’ In Love”

Kalau yang ini seringnya dipakai buat check drum dan bass. Intro lagu ini berisi ketukan drum yang lumayan mudah, tapi bass yang rada rumit. Biasanya bassis sudah belajar tab-nya sebelumnya, hanya tinggal diasah di studio.

Membuka band-band-an dengan “Fallin In Love” biasanya dipakai band-band kelas moderat—atau punya satu personil basis dengan skill yang lebih tinggi dari rekan-rekannya yang punya skill kelas kambing. Progresinya juga lumayan bagus. Lembut di awal, rancak di refrain.

Dewa – “Kangen”

Dari semua lagu Dewa 19—yang akhirnya berubah nama menjadi Dewa kemudian kembali jadi Dewa 19 lagi—hanya “Kangen” yang selalu digarap saat iseng jamming. Bisa versi Ari Lasso yang lebih selaw, atau versi Once dan Tyo Nugros yang lebih menghentak.

Apapun itu, lagu ini selalu punya kenang tersendiri bagi anak-anak yang pernah main band di zaman SMP-SMA. Dibuka dengan kunci D kalau tidak salah, dengan genjrang-genjreng sepele dan skill ngawur pun semua sudah bisa senang-senang menghabiskan dua jam shift studio.

Bondan & Fade2Black – “Rhyme In Peace (RIP)”

Hanya dengan Am, Em, F, C, orang yang baru belajar gitar pun sudah bisa band-band-an. Tanpa efek yang muluk-muluk, drum simpel yang nggak butuh skill khusus kayak Neil Peart, dan vokal yang nggak perlu enak-enak banget, “RIP” bisa jadi lagu universal yang mampu dimainkan kalangan berkemampuan menengah ke bawah.

Hanya mungkin sedikit butuh skill ngerap dan hafalan dikit untuk vokalis—selebihnya hanya kemonotonan chord dan rasa sedih karena memang lagu yang diciptakan untuk mengenang sobat yang telah tiada ini kadang terasa begitu sentimentil.

Betrayer – “Bendera Kuning”

Larangan bermain musik keras alias no underground di studio sudah terbilang kuno. Kebanyakan malah sudah open-minded dengan underground, dan menerima band-band bawah tanah—yang berkaus hitam-hitam dengan harakat gundul yang agak susah diterjemahkan.

Band-band ini mungkin punya semangat underground tinggi, tapi kadang skill kurang mencukupi. Lagu “Bendera Kuning” ini lumayan simpel dan tak jarang dimainkan saat pemanasan. Apalagi di sesi intro, ada solo bass beberapa menit yang kalau didengar lagi mirip lagu “Pok Ami Ami Belalang Kupu-kupu.”