“Wong-wong luar Jatim nggak ngarah ngerti derbi klasik
ngene iki, maine klemar-klemer,” ujar Dwi sambil terus mengasap
Marlboronya, tegang. Wajahnya berminyak, agak keruh, mirip seperti iklan Ponds
atau apalah itu yang merendahkan minyak di wajah sama seperti minyak oli atau
jelantah penggorengan.

Dwi masih kesal, sepulang kerja, kehujanan, kehabisan tiket
Persebaya lawan Arema, dan akhirnya mbelan-mbelani menonton Bajul Ijo di salah
satu warkop pinggiran Surabaya—sekitar sepuluh kilometer jauhnya dari Gelora
Bung Tomo.

Harusnya Dwi tak sekesal itu kalau tim jagoannya bisa
memanfaatkan serangan dan menghasilkan gol. Eksekusi tanpa berbelit-belit dari
Irfan Jaya di awal-awal laga memang membuatnya seketika bahagia. Tapi saat
Hendro Siswanto menembus gawang tim kesayangannya, Dwi seketika muntab.

“Haruse seng main yo arek-arek kene ae, ben lebih paham
rivalitas, lebih menjiwai, jadi mental kudu menang iso kuat,” ujarnya.
Bacotannya kalah keras dengan suara televisi yang memadukan chants Bonek Mania
ditambah bengokan Rendra dan si komentator laga Piala Presiden.

Babak pertama usai, satu sama. Dwi dan bonek layar kaca lain
yang kebetulan tak kebagian tiket—atau terlalu bokek di awal bulan untuk
membelinya, hanya bisa berharap-harap cemas menanti babak kedua.

Saya memesan Indomie demi meredam hawa sumuk tapi mendung
yang mulai sengak ini—mungkin ini karena energi, emosi yang memengaruhi vibe
warung kopi tempat saya duduk. Dwi tak menjaminnya. Di tengah badan yang didera
flu, menonton Persebaya sambil mendengarkan pisuhan adalah sensasi yang membuat
badan cepat gerah, umbel cepet meler, dan badan tampaknya akan lekas sembuh.

“Jancok, ayo sayaaang!”

“Jegalen gak popo cok!”

“Woi, nang endi kon iku, lhoalah, lhoalah, lhoalah,
asuu!”

Begitulah yang terekam dalam telinga saya—yang kadang juga
ikut geram sendiri mengapa umpan bagus tak berujung gol. Dwi mengasbak lagi.
Saya berendam dalam kaldu Indomie. Babak kedua segera dimulai.

“Ayo boy! Mlayu boy! Tendang boy!” Dwi terus
kelonjotan, menaiki kursi warung kopi saat gelandang Persebaya mulai meringsek
masuk pertahanan singa. Belum beruntung, selalu saja ada hambatan. Selalu saja
oper meleset, tendangan tak terkendali, atau gandol-gandolan dengan lawan yang
menyulitkan.

Ruangan tepi jalan tempat saya menonton ini riuh, bau kaus
kaki orang-orang yang kebetulan mampir, mementelengi televisi seperti hanya itu
fokus hidupnya saat ini. Krusial. Terus menderu, televisi antena brengsek yang
kadang goyang-goyang tak membuat mata kehilangan fokus bola.

50 ribu bonek di GBT, dan kami bonek layar kaca yang
bertebaran seantero Surabaya. Seluruh umat dalam kondisi panik, tertekan,
termasuk Dwi yang terus-terusan menahan busuk keringatnya sendiri.

Flu yang kambuh, kepala pening, badan yang mulai apak tak
mandi dua hari, batuk yang perlahan menggila; saya perlahan turut larut. Chaotic sana-sini sampai akhirnya peluit
berbunyi. Tendangan penalti untuk Persebaya. Empat sore tak pernah sepanas ini.

Damian Lizio memulainya perlahan tapi pasti, dan akhirnya jala itu
robek. Gol kedua Persebaya. Bersorak-sorai semuanya diiringi chants, keringat emosi, dan orgasme fanatisme.

Suasana landai sampai beberapa menit sampai Makan Konate melakukan
three point, tendangan yang gila di
72. Membuat kami kembali gusar. Bisakah Bajol Ijo mengkremus Singo Edan yang
mulai tunjukkan taring?

“Jancooooookkk!” umpatan panjang hampir serempak
saat skor berubah jadi dua sama. Dada ini sesak, rivalitas ini adrenalin. Tak
pernah usai, tak akan berhenti sampai menit berapapun.

Dwi yang naik tensinya tampak semakin stress—kopinya sama
sekali tak tersentuh. Dua sama sampai akhir laga berarti menyulitkan Persebaya
yang akan dijamu Arema di Kanjuruhan dua hari lagi.

Entek-entekan, mau tak mau harus dilakukan pasukan Bajol,
kalau tak mau terhempas dan mengecewakan puluhan ribu manusia yang sekarang ini
tampak kompak melepas jerseynya, menggelorakan anthem seolah tak mengenal kata
lelah, tak ada capek, tak kenal lembek.

Hanya ada satu kata: babat habis meski waktu hanya kurang
dari lima belas menit!

Menjadi bonek layar kaca mungkin tak sepenuhnya bisa merasa
hawa panas stadion, tapi percayalah, emosi ini merambat ke udara. Tinggal
beberapa menit lagi dan wasit tampaknya terus meniup peluit, entah pelanggaran
atau apalah.

“Jancok prat prit tuwerus!” ujar salah seorang
dalam warkop yang sama. Kami tak bisa lagi terus-terusan begini. Segalanya
harus diakhiri. Tambahan lima menit setidaknya bisa jadi harapan menambah skor
barang satu atau dua. Tapi tidak, belum saatnya.

Mungkin inilah derbi klasik paling epik sepanjang sejarah
persepakbolaan nasional. Dan untuk sekarang, dalam riuh Gelora Bung Tomo, Persebaya
dan Arema tampaknya sama kuatnya, sama tambengnya.

Jumat besok adalah pembuktian penuh. Kanjuruhan. Siapa yang
akan memberi kejutan?