Bumi Manusia adalah produk paling sederhana dari Pramoedya Ananta Toer. Konon katanya, novel lainnya yang jadi lanjutan Tetralogi Buru jauh lebih kompleks dan teknikal—atau bahasa sastranya, lebih matang. Bumi Manusia memang sebagus itu, tapi karya selanjutnya katanya lebih ciamik.

Saya memang baru sedikit sekali membaca karya-karya Pram—meskipun di perpustakaan pribadi saya, koleksi buku Pram baik yang ori ataupun bajakan tebalnya sudah hampir melebihi koleksi komik Detektif Conan saya.

Bukan apa-apa, saya cuman ingin waktu yang benar-benar longgar untuk menuntaskannya. Bebas dari riuh kerjaan dan hal keduniawian lainnya. Pikiran saya kudu tenang, fokus, dan kayaknya itu hanya bakalan terjadi kalau saya sudah resmi pensiun di usia 60 tahun ke atas.

Tapi Bumi Manusia dan novel-novel tipis Pram kayak Larasati udah saya babat duluan. Ini dipicu petuah yang saya dapat dari beberapa anak-anak sastra yang merekomendasikan buku ini supaya dibaca dulu sebagai pembuka, sebelum membaca karya-karya Pram lebih jauh.

Maka dari itu, maaf seribu maaf, saya nggak bisa terlalu ndakik-ndakik membahas Pram. Karena selain saya belum membaca habis semua bukunya, saya juga mentok membaca biografi dan pandangan Pram dari wawancara terakhirnya yang dimuat di Playboy Indonesia dengan cover merah Andhara Early, kisaran April 2006.

Saya pun juga bisa dibilang anak bau kencur yang sempat jadi poser. Saat semua membaca Pram dan menganggapnya kece, saya ikut-ikutan mborong—dan ya, beberapa di antaranya dapat dari buku bajakan Jl. Semarang. Tapi untuk semangat membaca, sorry, saya masih belum nyampai situ.

Karena itu saya juga nggak bisa sembarangan menjudge atau mendamprat Iqbal Coboy Junior yang setelah mentereng jadi Dilan, dipilih Hanung Bramantyo memainkan Minke untuk film Bumi Manusia. Saya juga nggak bisa ngawur mendakwa Hanung—yang konon kabarnya dari gosip kesusasteraan yang beredar—bertindak ngawur dengan nekat membuat film yang Pram sendiri pun nggak setuju kalau sutradaranya Hanung.

Inilah yang membuat saya menyimak trailer terbaru Bumi Manusia besutan Hanung yang bakal dirilis Agustus lalu, tanpa perasaan snobisme berlebihan. Kecuali mungkin kumis si Minke atau Iqbal yang kelihatannya kurang proporsional dan pemeran Annelies yang saya rasa jauh dari bayangan personal saya tentang sosok ini.

Trailer dibuka dengan kumis Iqbal (saat melihatnya, saya berteriak jancok sambil ngakak dalam hati), dilanjutkan dengan adegan Nyai Ontosoroh dan Annelies yang awalnya membuat saya kebingungan: mana yang Nyai, mana yang putrinya. Lah wong kayak sama-sama mudanya.

Perasaan saya sedikit terhibur waktu ada adegan kereta di atas persawahan yang luas. Mengingatkan saya pada ladang jagung di Interstellar-nya Nolan. Tapi toh adegan epik ini harus lekas beralih karena kemudian trailer menampilkan konflik-konflik dengan Iqbal yang misah-misuh (asu, kalau saya nggak saya dengar). Dan kesan pertama saya saat melihatnya murni cringe, rodok emboh, dan.. kumis Iqbal Ya Tuhan mbok yo dicukur ae ta dipermak seng serius.

Selanjutnya adalah omong kosong belaka karena saya lupa adegan berikutnya bagaimana. Iqbal saya kasih dua jempol waktu membikin saya mbribik di Dilan 2, tapi di Bumi Manusia ini, saya nggak tahu gimana jadinya.

Di tengah gempuran nyinyiran dan perasaan pesimis dari orang-orang, toh trailer sudah tayang dan film bakalan segera rilis. Meskipun tentu saja nyinyiran dan dendam kesumat lebih banyak dilemparkan penggemar novel berat avant garde saat film ini baru pengumuman produksi—dengan sutradara Hanung.

Saya ingat betul, lingkungan warung kopi snob dan segumbulan saya saat itu pada bete saat cangkruk. Meletakkan hape yang biasanya dipakai war Mobile Legends, dan memilih menyumpah serapah pada kabar produksi film Bumi Manusia. Tapi saat trailernya nongol, ndilalah podo nggak ngurus, adem ayem, dan malah main PUBG.

Intinya ocehan ini nggak berguna sama sekali karena nggak ada poinnya. Bahkan saya pun juga nggak tahu harus menyarankan apa pada kalian. Nonton filmnya boleh, nggak juga boleh. Habisnya nonton nyinyiri sak pedote boleh, bodo amat juga boleh.

Hanung sudah bekerja keras membuat Bumi Manusia, dan kita akan segera berusaha keras mencari kejelekannya. Asal jangan seperti salah satu warganet geblek yang sempat-sempatnya komentar: “Pram siapa sih? Untung aja Iqbal mau mainin film yang diangkat dari novelnya!”