Tanpa sedikitpun pengetahuan soal hair metal—kecuali mungkin
Guns N’ Roses dan sedikit Bon Jovi—kamu semua tetap bisa menikmati The Dirt. Meskipun berlatar di era 80an,
tapi film spesial Netflix ini tak mewajibkanmu memahami referensi khazanah glam
rock secara mendalam.

Berfokus pada kisah nyata Motley Crue, band hair metal yang
pernah besar di era kejayaan rock cantik, nyaris tak ada yang bisa didapat dari
The Dirt selain bersenang-senang
belaka. Only sex, drugs, and Motley Crue!

Kamu akan langsung diajak memahami duduk perkara dari sudut
pandang personel band: Nikki Sixx (bassist), Tomy Lee (drummer), Mick Mars
(gitaris) dan Vince Neil (vokalis). Semuanya bergantian bercerita, tarik-ulur, di
sudut pandang aku-nya masing-masing.

Tak seperti Bohemian
Rhapsody
yang memang lebih fokus pada sosok Freddy Mercury, The Dirt berusaha menceritakan keseluruhan
personel—meski porsi terbanyak didapat Nikki Sixx tentu saja; sosok yang dalam
film ini, digambarkan punya beban hidup nan abot dan menjadikannya wong ngawur.

Nikki dan koleganya benar-benar wild, tanpa aturan. Sex,
drugs, sex again, drugs again, and rock and roll!
Film ini rupanya adalah
pesta pora kebinatangan itu—bahkan tanpa menyinggung sedikitpun proses kreatif
atau karya Motley Crue sebagai band yang sempat agung.

Mungkin petingkah kebinatangan itulah yang lebih diingat
publik dibanding karya mereka. Seperti kata Doc McGhee, road manager Motley
Crue dalam salah satu adegan The Dirt:

“They weren’t like
other bands who raised hell because they thought that’s what rock stars were
supposed to do
. Motley Crue melakukan hal bodoh ya karena mereka Motley
Crue,” ujarnya. What the fuck. Istilah
rockstar mungkin tak berlaku bagi Crue karena mungkin, mereka jauh lebih dugal.

Karena sejak awal hanya berfokus pada rockstar dan
kegelimangannya, sulit mendapat kesan atau makna apapun dari The Dirt selain betapa menyenangkan dan
ugal-ugalannya film ini.

Bayangkan, momen seperti Sixx yang bercinta dengan tunangan
Lee di ruang ganti personel, ditampilkan tanpa tedeng aling-aling. Atau
bagaimana Neil bermain seks dengan kekasih manajernya sendiri. Skandal seks
yang harusnya ditutupi, kini bisa disimak jutaan umat manusia.

Tak hanya dibumbui betapa kacaunya kehidupan seks mereka—Neil
bahkan punya semboyan ngeband untuk bercinta dan sampai tak bisa menghitung
berapa perempuan yang sudah ditidurinya sewaktu tour—tapi juga tingginya
intensitas pemakaian obat-obatan terlarang dengan dosis tak beraturan.

Tapi sekali lagi, mengutip McGhee, ini bisa jadi karena Crue
mungkin adalah band paling liar yang pernah kamu jumpai di muka bumi.

“Saya telah memanajeri Scorpions, Bon Jovi, Skid Row, KISS.
Saya sudah melewati berbagai hal dengan rockstar yang sakit mental. Tapi saya
belum pernah mengalami apa yang dilakukan Motley Crue,” ujar McGhee dengan
mimik melas sekaligus bengong di salah satu adegan.

Bagi saya yang mungkin lebih akrab dengan musik 70an, yang
paling terasa berkesan adalah saat Ozzy Ousborne, vokalis Black Sabbath yang
dijuluki Raja Kegelapan, hadir dalam momen di mana Motley Crue bersantai kala
tour.

Personel Crue nyatanya menganggap Osbourne layaknya nabi,
yang bahkan sampai dalam level menyembah-nyembah. “You’re a god, dude,”
kata Lee saat Osbourne tanpa diduga melakukan aktivitas meminum pipis sendiri
di kolam renang—adegan yang juancok get.

Di akhir film, ada momen di mana Crue bangkit setelah sekian
waktu hancur di kisaran tahun 90an—ada poster besar album Pearl Jam Ten di
sana—dan gaya rambut personelnya mulai berganti; dari gondrong jadi ala-ala emo
Kangen Band. Tapi toh ada makna mendalam di akhir cerita. Ya buyar, gitu aja,

Berbeda dengan Bohemian
Rhapsody
yang memicu saya memutar koleksi album Queen pasca melihat filmnya,
tak ada sedikitpun ketertarikan saya untuk mendengarkan Motley Crue setelah
nonton The Dirt.

Mungkin hair metal memang hanya ditakdirkan jaya di 80an,
dan di zaman sekarang, hanya jadi renik usang di mana rock bukan lagi melulu sex, drugs, and rock and roll. Apalagi,
mendengarkan rock cantik di zaman sekarang rasanya seperti orang cengeng dan
bahkan cenderung norak.

Pesan terakhir saya: segera tonton The Dirt di Netflix atau situs bajakan kesayanganmu, niscaya kamu
akan tahu kenapa rock and roll sering disebut sebagai salah satu tanda akhir
zaman.