Podcast sebenarnya bukan hal yang baru. Beberapa jaringan
media di luar negeri seperti BBC, sudah merekam dan menyebarluaskan podcast
bertahun-tahun lalu. Tapi di Indonesia, fenomena ini baru meledak beberapa
bulan terakhir.

Berawal dari Adriano Qalbi dengan Podcast Awal Minggu-nya,
yang menurut klaimnya, “dibuat karena gue nggak bisa tampil depan kamera, ribet
bikin vlog karena butuh biaya yang banyak,” podcast kemudian menjadi sarana
baru bagi seseorang untuk mengekspresikan dirinya.

Podcast, bisa dikatakan adalah episode program yang tersedia
di Internet. Biasanya merupakan rekaman asli audio atau video, tetapi bisa juga
merupakan rekaman siaran televisi atau program radio, kuliah, pertunjukan, atau
acara lain.

Itu adalah definisi resmi saat kamu mencari dengan Google.
Tapi menurut saya mah, definisi terbaik podcast bisa didapat saat kamu
mendengarkannya sendiri. Banyak aplikasi atau situs streaming yang memudahkanmu
mengakses podcast. Lewat Spotify, SoundCloud, iPhone Podcast, atau Deezer.

Kalau musik tampaknya sudah mboseni dan gitu-gitu aja, kamu
bisa lah njajal dengerin podcast. Bisa sebagai teman saat rebahan di kasur,
nyetir, atau nyapu-nyapu—yo sembarang lapo ae sak karepmu cok. Berikut
rekomendasinya.

AMWave by AMVibe

Rio Tantomo, dedengkot AMVibe sempat berbincang dengan saya
beberapa minggu yang lalu dalam satu meja bir. AM Wave yang sedri awal terbit punya
konten podcast wawancara bernas dengan band/musisi gaek Indonesia, harus vakum beberapa
saat. Tapi kata Rio, “akan segera dimulai lagi lah, secepetnya!”

Dan akhirnya, janji Rio terlunasi. Dua podcast yang menurut
saya lebih berbobot dan padat dari sebelumnya, sudah terbit di layanan musik
streaming. Kalau dulu lebih pada pembahasan soal band dan sejenisnya, kali
lebih pada wawancara pada sosok di luar musisi tapi punya peran pada musik itu
sendiri.

Edisi pertama podcast membahas lanskap kritik musik bersama
Wendi Putranto, manajer Seringai yang juga dikenal sebagai editor kenamaan Rolling
Stone Indonesia sebelum tutup. Sementara edisi kedua, Taufiq Rahman, pendiri
situs hipster JakartaBeat, berkenan membahas soal fenomena snob musik dan
poser.

Tunggu apalagi, segera putar play!

Behind That Scene by
Agordi Club

Digawangi Pramedya Nataprawira—yang dulunya sempat bekerja
di Rolling Stone Indonesia—Agordi Club sebagai website musik punya seksi
podcast sendiri bernama Behind That
Scene.
Selain bisa diakses via layanan musik streaming macam Spotify,
Agordi Club juga tersedia di YouTube dan websitenya.

Obrolan yang ringan dan kadang menyentil—selain pengetahuan
luas Pramedya sebagai geek music—menjadi daya tarik utama podcast ini. Episode
yang bisa kamu coba dengarkan, di antaranya: sesi inspiratif bersama Adrian Yunan,
Akbar Yunan Faisal, John Paul Patton, sampai Fadhila Jayamahendra.

Intinya, semua sosok-sosok dibalik skena musik kesayanganmu,
bisa kamu jumpai di sini. Penting didengar, biar kamu nggak kemeroh dan sok
indie!

Kota Musik by Robin
Malau

Jujur saya baru mendengarkan podcast Kota Musik dari Robin
hanya pada bagian introduction.
Selebihnya belum. Tapi tak ada yang bakal menolak kalau podcast satu ini begitu
penting. Membahas pengalaman Robin,sebagai
rockstar now geek,
dalam perjalannya memelajari dan memetakan industri musik
dunia.

Robin, yang juga mantan personil band hardcore legendaris
Puppen ini, memang aktif membagikan segala hal soal bisnis musik. Didukung
data-data, teori, dan argumen yang valid, Kota Musik by Robin Malau akan
membawamu setingkat lebih geek.

Ben rodok memahami carut-marut industri musyiek.

Podluck Podcast

Podluck sebenarnya adalah podcast yang menampilkan banyak
sekali pembahasan seru. Mulai dari seni rupa, sastra, film, sampai lifestyle
urban. Kalau kata inspiratif dan motivasional terlalu njembeki, maka Podluck
ini juga bisa disebut podcast yang berorientasi pada wawasan, ilmu, dan
perspektif baru.

Beberapa di antara podcast menarik yang sempat saya
dengarkan di Podluck sebelum bobok di antaranya interview bersama Kendra
Paramita, ilustrator cover Tempo, dan juga Martin Aleida, penulis yang selalu
menyuarakan renik ’65 dalam banyak karyanya.

Patut dicoba saat kebuntuan melanda!

Podcast Awal Minggu

Menyinggung podcast tanpa menyebut Podcast Awal Minggu (PAM)
dari Adriano Qalbi bisa dibilang kurang afdol. Qalbi punya potensi untuk
menceroskan apa saja, apapun, mengalir seenak udelnya—termasuk diiringi
selipan-selipan selera atau yang hal apapun ditontonnya di Netflix.

Qalbi yang juga stand up comedian yang mulai menanjak
namanya—setelah bertahun-tahun menyinggung dirinya sendiri sebagai komika yang
kurang terkenal, nanggung, dan kalah dengan Panji—berusaha jujur dengan PAM
yang agak ala kadarnya. Tak ada opening, dan mungkin tak ada editing
berlebihan.

Bahkan kamu bisa mendengar selipan suara korek dan tarikan
rokok yang dihembus, suara jeda yang agak lama, dan keheningan yang disusul
suara kemresek saat Qalbi menyampaikan apa saja yang menyumbat pikiranya.

Tapi dalam hal argumen dan perspektif, Qalbi dijamin bisa
membuatmu misuh-misuh—karena hal yang dilempar Qalbi begitu masuk akal dan tak
pernah terpikirkan sebelumnya.

Sebaiknya dengarkan PAM yang muncul rutin tiap awal Minggu.
Kamu harus bersiap karena Qalbi menamakan para penggemarnya sebagai kolam tai, dengan semboyan ikonik: tai lo semua!

Ada rekomendasi podcast lain?