Bagi kamu-kamu yang suka nonton bola dan kebetulan tinggal di Provinsi Jawa Timur, tentu bisa belajar hidup dari Pemilihan Dunia dan Piala Gubernur eh Pemilihan Gubernur dan Piala Dunia maksud saya.

Belajar apa? Tentu belajar tentang berani menerima kekalahan.  

Kalah merupakan kata yang paling tidak menyenangkan dalam hidup. Entah itu kalah dalam dukung-mendukung klub favorit, dukung-mendukung cagub, atau tikung-menikung gebetan. Kalah adalah sesuatu yang, kalau bisa, jangan sampai dirasakan. 

Bahkan penyair Chairil Anwar punya bait yang terus menerus dikutip para penulis: hidup hanyalah menunda kekalahan.

Tapi, terlepas dari siapa yang harus merasakan, kekalahan dalam hidup memang harus ada. Sebab, di dunia ini tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Termasuk kekalahan. Kalah itu diperlukan, my lurs.

Untuk apa? Yo untuk dirasakan, Rek! Bukankah sejarah kemerdekaan juga lahir dari rahim kekalahan? 

Kekalahan dekat dengan permenungan sedangkan kemenangan dekat dengan keriuhan.

Dengan merasakan kekalahan, kita mampu memicu dan memunculkan evaluasi dalam diri. Barangkali, ada strategi yang harus diubah. Atau mungkin, melalui kekalahan, kita jadi lebih bijak menghadapi kehidupan. Sebab, kalah itu dekat dengan permenungan meski jauh lebih dekat dengan alasan-alasan.

Sebaliknya, kemenangan dekat dengan lupa dan keriuhan. Barangkali lho ya. Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Hehe 

Berjualan nisan nenek moyang itu perbuatan yang kurang baik.

Kekalahan Gus Ipul-Mbak Puti pada Pilgub Jatim 2018 ini, misalnya. Itu bisa dijadikan pelajaran moral. Meski didukung tiga partai besar dan satu partai enggak besar di Jatim (PKB, PDIP, Gerindra, dan PKS), toh tetap saja kalah kalau memang sudah waktunya kalah. 

Terlepas dari kebosanan masyarakat akan rezim lama dan ingin merasakan rezim baru yang lebih energik, Gus Ipul memang harus melakukan banyak evaluasi  di berbagai lini strategi.

Terutama poin penting bahwa berjualan nisan nenek moyang itu perbuatan yang kurang baik. Sebab, selain kurang sopan, setiap zaman memiliki tantangan dan cara penyelesaian masalah yang berbeda-beda. Apalagi, jangankan media sosial, zaman perjuangan kakek nenek kita dulu malah belum ada Tik Tok!

Lagi pula, hanya karena kamu punya mbah yang merupakan orang besar di negeri ini, bukan berarti kamu juga katut besar.

Wong putranya nabi, wali, bahkan para sahabat saja tidak menjamin mewarisi nilai-nilai orang tuanya. Justru karena setiap kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan dilahirkan, maka nasab menjadi tak relevan sebagai baik buruknya seseorang. Gitu lho!

Syukurnya, pihak yang kalah sudah legowo. Mampu menerima apapun hasil perhitungan setelah pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim. Coba bayangkan, andai tidak ada yang mau kalah. Bukan mendapat tambahan waktu dan babak adu kiper dari wasit, yang ada malah adu jotos antar supporter. Huftness level lanjut. 

Masih ingat laga krusial antara Portugal vs Uruguay? Coba perhatikan dengan saksama, ada nggak yang berbeda dari Ronaldo? Ada kan, ya. 

Semacam berfirasat akan mudik lebih cepat, pemain yang terkenal sombong dan egois dan manja dan angkuh dengan gaya rambut anti-ketombe itu tiba-tiba memperkalem penampilannya saat melawan Uruguay. Apalagi menjelang peluit panjang ditiup, kekalemannya kian mendalam. Semacam slow motion dengan 1000 frame per second.

Selain mengubah gaya rambut, keberadaan jenggot tipis ala ustad-ustad Jekardah di janggut Ronaldo seolah menunjukkan bahwa pemain yang saat merayakan gol memiliki otot leher sebesar tiang listrik itu sudah berubah. Sudah hijrah. Dia tidak lagi sombong dan angkuh. 

Tidak hanya mengubah tampilan, laku hijrah Ronaldo semakin kaffah dengan adegan membantu Edison Cavani berjalan menuju lapangan saat kaki lawannya itu cedera.

Selain mampu menerima kekalahan dengan baik dan sopan, Ronaldo mengajarkan kita bahwa sepak bola hanya permainan (peran) belaka. Harus tahu kapan tampil angkuh dan kapan harus tampil sopan. Sebab, jika tidak mampu meletakkan peran sesuai kebutuhan, kata Ustadz Ronaldo, itu namanya zalim. 

Jadi, buat kamu-kamu yang sempat merasa kalah dalam mendukung cagub dan klub favorit di Piala Dunia, sudah saatnya belajar legowo seperti Gus Ipul dan belajar sopan seperti Ustadz Ronaldo. Kalah menang itu ilusi, yang ada adalah kebesaran hati. Begitu kata Ust. Ronaldo. 

Lagi pula, Gus Ipul masih bisa ikut pilgub lima tahun lagi. Dan mereproduksi cerita bahwa kekalahan dia saat ini adalah juga karena kecurangan. Sama seperti Khofifah pada 2013 meski nggak sukses. 

Begitu juga Ronaldo yang, kalau masih aktif bermain, juga bisa ikut Piala Dunia lagi. Tinggal nanti para suporter timnas Portugal bikin spanduk di stadion-stadion Qatar, tuan rumah Piala Dunia 2022, yang berbunyi: Wes Wayahe