Bukan cuma “Avengers: Endgame”, “Pokemon: Detective Pikachu” juga sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Selain merupakan film live action dengan CGI yang apik sehingga membuat film “Sonic the Hedgehog” tampak culun, pemeran utama Deadpool juga ikut mengisi suara salah satu karakternya.

Tapi, cukupkan dulu kekaguman kita terhadap kualitas CGI di film sci-fi yang menggemaskan itu. Sejumlah kritik(us) menilai plot yang diusung film tersebut masih lemah dan nanggung.

Dari segi kualitas CGI dan desain tampilan, Detective Pikachu mungkin patut diapresiasi. Namun, keberhasilannya mencuri perhatian di awal rilis bakalan sedikit terganggu dengan serial terbaru dari salah satu franchise tersukses besutan Pixar. Ya, Toy Story 4 yang rencananya bakal muncul ke permukaan pertengahan Juni mendatang.

Toy Story 4 bisa menjadi contoh sebuah kedigdayaan sebuah judul yang berhasil menampung fanbase besar. Atau, kalau boleh kita berspekulasi sedikit jahat; Pixar (Walt Disney) tidak ingin memberikan ruang nyaman bagi si Pikachu yang menggemaskan itu untuk bernapas lapang.

Seri Toy Story berangkat lewat plot cerita yang kuat dengan orisinalitasnya yang begitu unik. Menghidupkan mainan yang selama ini: hanyalah benda mati—dalam ruang-ruang realitas kita—adalah modal besar yang menjadi keutamaannya.

Berbeda dengan Detective Pikachu, film yang mungkin saja akan menjelma mengikuti jejak Sheriff Woody dkk menjadi waralaba ini punya satu kelemahan yang dianggap mendasar. Kelemahan itu ada pada latar belakang penciptaannya yang merupakan sebuah film adaptasi dari sebuah gim. Perlu kehati-hatian untuk memodifikasi dan memain-mainkan pembaruan, bukan?

Walaupun Detective Pikachu bisa dikatakan sukses menampilkan kekuasaan CGI (Computer Generated Imagery) dalam sajiannya, kelemahan plotnya adalah lubang besar jika nantinya benar-benar ingin menguji dirinya menyaingi kesuksesan Toy Story sebagai waralaba, atau mungkin membangun koloni yang mirip-mirip dengan ‘mahakarya’ Marvel Studios dengan seri Avengers yang berjilid-jilid itu.

Kekaguman terhadap sajian visual Detective Pikachu adalah kewajaran yang pantas. Tapi, untuk benar-benar melangkah lebih jauh tampaknya perlu pertimbangan di luar perkara teknis, seperti CGI ataupun daya magnet aktor kenamaan saja.

Mengambil contoh, Toy Story memilih fokus pada penempatan plot cerita sebelum akhirnya terus memperkuat sektor-sektor teknis mereka untuk seri-seri lanjutannya. Dan, Toy Story 4, sebagaimana dijanjikan pihaknya, akan tiba dengan penyegaran-penyegaran itu berkat ‘teknologi’ baru yang mereka usung.

Membanding-bandingkan kedua film ini mungkin terkesan tidak apple to apple: Detective Pikachu dengan CGI surealisme dan Toy Story bersama animasi penuhnya. Tapi, itu kan kalau dilihat dari sektor visual saja. Beda genre, ya beda gaya.

Toy Story bisa jadi salah satu cerminan sebuah judul waralaba yang eksis berkat kekuatan dan kualitas pondasi naratifnya—berupa plot cerita. Detective Pikachu, justru bergerak berlawanan dengan mengedepankan visual tanpa mematangkan hal yang dasar terlebih dahulu.

Pokemon: Detective Pikachu memilih main aman dengan plot cerita yang gampang ditebak. Ini yang membuat sisi cerita detektifnya sedikit hilang. Belum lagi, mendengarkan suara Pikachu yang lebih mirip suara sinis anak-anak akil baligh khas Ryan Reynolds, bikin si karakter imut ini, kalau dilihat-lihat malah jadi lebih mirip siluman bola kasti kuning yang bisa ‘bicara’ ketimbang Edogawa Conan.

Tapi, perlu diakui kalau film Pokemon ini cukup berhasil mengaktifkan imajinasi penonton—meskipun nggak sampai juga bikin kita keseleo lidah bilang kalau kitab suci itu fiksi, kok. Manusia dan para pokemon yang ceritanya hidup berdampingan, kan memberikan pemandangan yang paling nggak, bikin kita sok manis senyum-senyum dikit.

Kalaupun mau bicara soal kualitas cerita, boleh aja kok kita bertanya-tanya: sebenarnya mana yang lebih bagus, kartun Doraemon atau sinetron Azab? Hayolo… Paling-paling, kelemahan Doraemon itu ada pada kesenjangan tokoh utama dan tokoh ‘wakil’ utama (Nobita) yang timpang abis.

Itu kan, yang kelean mau bilang? Gincu kan, Ferguso? Iya, kan? Jangan gitu, ah! Karena plot cerita punya derajat yang sama-rata di mata tuhannya. Asek!

Mungkin para tim penyusun naskah Detective Conan Pikachu harus belajar dari sinetron Ganteng-Ganteng Serigala (GGS) yang sangat layak dibandingkan dengan film Twilight.

Lah, tadi katanya nggak apple to apple. Terus yang ini apanya yang bisa disamakan? Ya, plot ceritanya yang 11-12lah!