Syukur adalah konsep orang beriman dan bertuhan. Prinsipnya, segala sesuatu diciptakan dan diatur oleh Tuhan. Jadi, apapun yang diterima oleh seseorang, adalah karunia Tuhan. Syukur adalah rasa terima kasih kepada Tuhan.

Dengan berterima kasih, seseorang akan merasa nyaman. Itu akan membawa kedamaian pikiran dan perasaan. Rasa syukur adalah salah satu mekanisme untuk mencapai kebahagiaan.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak bertuhan atau ateis? Apakah mereka juga bersyukur? Kalau mereka bersyukur, kepada siapa? Kalau mereka tidak bersyukur, apakah mereka juga bisa bahagia seperti orang-orang beriman?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita sebaiknya mengkaji dulu bentuk-bentuk rasa syukur dalam praktiknya. Prinsipnya, seperti dijelaskan tadi, syukur adalah rasa terima kasih pada Tuhan atas apa yang didapat. Tapi variannya ada banyak. Ketika seseorang menghendaki sesuatu dan ia tidak mendapatkannya, ia tetap harus bersyukur. Lho, gimana sih?

Orang beriman diajari bahwa nikmat Tuhan ada sangat banyak. Diminta atau tidak, nikmat itu sudah ada dan selalu ada. Misalnya, udara yang kita hirup setiap saat secara gratis. Juga kesehatan.

Jadi, kalau kebetulan sedang tidak mendapat suatu nikmat, bukan berarti seseorang tidak mendapat nikmat sama sekali. Ia sudah mendapat banyak nikmat. Karena itu, kalau dia tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan, ia tidak boleh marah. Ia tetap harus berterima kasih pada Tuhan.

Kalau seseorang mendapat kemalangan bertubi-tubi pun, ia tetap harus berterima kasih pada Tuhan, karena tetap saja nikmat yang ia dapat jauh lebih banyak dari kemalangan. Lagipula, masih ada orang yang jauh lebih malang dari dia. Jadi secara relatif, yang ia dapat sebenarnya masih jauh lebih baik dari orang-orang yang lain.

Tentu saja pada saat yang sama ada pula banyak orang yang mendapat lebih banyak nikmat. Tapi orang beriman diajari untuk tidak selalu melihat ke atas. Lihatlah ke bawah, masih banyak orang yang lebih menderita. Karena itu tidak ada ruang untuk tidak bersyukur. Setiap saat, setiap keadaan, adalah waktu untuk bersyukur.

Kembali ke pertanyaan semula, bagaimana dengan orang yang tidak bertuhan? Orang yang tidak bertuhan, tentu tidak menganggap segala hal yang ia nikmati bersumber dari Tuhan. Jadi tidak ada rasa syukur dalam arti rasa terima kasih kepada pemberi nikmat. Ia hanya menikmati saja.

Menikmati sesuatu artinya merasa senang dengan apapun yang didapatkan, dimiliki, dan dipakai. Senang saja, tidak merasakan terima kasih kepada suatu pihak yang gaib. Kalau nikmat itu didapat dengan melibatkan pihak/orang lain, tentu saja ia berterima kasih kepada pihak tersebut.

Kalau ia tak mendapatkan yang ia inginkan, ia akan menganggapnya sebagai kurangnya usaha, atau secara kebetulan belum dapat saja. Kebetulan terjadi karena faktor-faktor yang rumit, yang tak semuanya bisa dijelaskan oleh manusia.

Mungkin agak sulit bagi orang beriman untuk membayangkan, orang senang merasakan suatu nikmat, tanpa menganggap ada yang memberi nikmat itu. Tapi itu sebenarnya cuma soal pola pikir. Orang yang sudah terbiasa dengan pola pikir itu, tidak menganggap ada masalah.

Inti dari rasa syukur adalah menerima kenyataan. Kenyataan bahwa kita mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.

Orang beriman menganggap itu diatur oleh Tuhan. Orang tak bertuhan tidak berpikir soal siapa yang mengatur.

Dalam hal yang ia usahakan, ia anggap itu sebagai akibat dari yang ia usahakan. Dalam hal yang di luar kendali dia, dia anggap sebagai sesuatu yang memang tak bisa dia kendalikan. Prinsipnya sebenarnya sama, yaitu sama-sama menerima kenyataan.

Demikian pula, ketika sesuatu tidak didapatkan, orang ateis tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang diatur oleh suatu kekuatan gaib. Mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang belum berhasil mereka usahakan saja. Biasanya mereka melakukan evaluasi rasional, mencari penyebab kegagalan, dan mengusahakan tindakan penanganan saat mencoba kembali.

Sebaliknya, bila terjadi kemalangan, mereka juga tidak mengaitkannya dengan murka Tuhan. Mereka fokus memeriksa kenapa kemalangan itu terjadi, dan tindakan-tindakan untuk mencegah terulangnya.

Apakah orang ateis menjadi tidak tenang dengan tidak punya Tuhan? Tidak demikian. Tenang atau tidak adalah soal pengaturan pola pikir. Yang percaya pada Tuhan punya cara mengatur pola pikir. Demikian pula, yang tidak percaya juga punya cara mengatur pola pikir. Ketenangan dan kebahagiaan tergantung dari pola pikir itu.

Anggapan bahwa orang ateis hidupnya tak tenang adalah anggapan salah kaprah orang beriman. Mereka menakar hidup orang lain dengan pola pikir mereka sendiri.