Mengasuh anak itu melelahkan. Itu pasti. Sejak dia lahir sampai jadi remaja menjelang dewasa, selalu ada hal yang bisa membuat kita marah. Saat kita lelah ingin istirahat, anak menangis berisik. Anak bayi menangis tidak kenal waktu. Makin besar anak, makin besar masalah yang bisa dibuatnya. Saat sudah berumur 1-2 tahun dia mulai jarang menangis, tapi ia akan membuat jenis keributan baru. Tidak hanya ribut, anak-anak membuat berbagai hal yang mengesalkan.

Hampir semua orang tua ingin mengendalikan anak-anak mereka. Anak-anak jangan ribut, jangan nakal, jangan bertengkar, jangan lari-lari, jangan ini, jangan itu, semua jangan. Kalau bisa, orang tua ingin punya remot kontrol yang bisa mengendalikan anaknya. Sayangnya tidak bisa. Apa yang dilakukan oleh orang tua saat tidak bisa mengendalikan anak? Marah.

Orang tua marah setidaknya karena 2 hal: Pertama, mereka mengira kalau marah anak-anak akan berhenti melakukan hal-hal yang mereka sukai. Kedua, karena sudah frustrasi.

Anak-anak akan takut, lalu berhenti setelah melihat orang tua mereka marah. Tapi biasanya hanya sementara. Tak lama kemudian mereka akan mulai lagi. Ini yang membuat orang tua makin marah.

Kenapa anak-anak tak begitu peduli pada kemarahan orang tua? Karena mereka anak-anak. Dorongan untuk melakukan tindakan anak-anak begitu besar. Itu adalah dorongan alami akibat pertumbuhan mereka. Sealami keinginan mereka untuk makan. Atau, sealami keinginan orang dewasa untuk bersenggama.

Bergerak, berlari, melompat, berteriak, adalah dorongan alami dalam tubuh anak-anak. Tidak ada yang bisa disalahkan soal itu. Yang salah adalah yang mencoba menghentikannya. Orang tua sebenarnya harus terlibat dalam kegiatan itu, bukan menghentikan. Marah terhadap anak-anak yang bermain atau ribut, sama seperti marah terhadap debur ombak. Itu sebuah kebodohan.

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan oleh orang tua? Berpikir dengan waras bahwa itu semua adalah konsekuensi punya anak.

Ketika baru punya bayi pertama, saya sedang dalam puncak krisis dalam studi doktoral saya. Saya sedang menulis disertasi. Saya harus menyelesaikan dalam tenggat waktu yang sudah ditentukan. Kalau gagal, masa studi saya harus diperpanjang satu semester. Atau, bahkan bisa gagal lulus sama sekali.

Setiap malam anak saya rewel, saya tidak bisa tidur. Istri saya juga sudah kelelahan mengurus bayi dan rumah sepanjang siang. Dia butuh istirahat. Tapi anak saya tidak mau tidur. Dia rewel. Kalau digendong dia diam. Begitu dibaringkan di tempat tidur, dia rewel. Begitu terus sampai menjelang pagi. Saya butuh tidur, karena besoknya saya harus bekerja menulis disertasi, yang memerlukan konsentrasi tinggi.

Dalam keadaan frustrasi karena kelelahan, saya berteriak marah. Anak saya terkejut, sempat merengek sebentar. Tapi kemudian dia menatap saya. Wajahnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Lalu saya sadar betapa bodohnya saya. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Dia tidak sengaja hendak mengganggu saya. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai bayi, menjalani hidupnya secara alami. Tidak ada yang bisa saya lakukan, selain menerima kenyataan.

Tapi apakah itu berarti bahwa tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikan anak? Ada, dan banyak. Orang yang punya anak harus tahu caranya. Kalau tahu caranya, mengendalikan anak bisa jadi menyenangkan. Hal mendasar yang harus diingat adalah bahwa emosi dan kemarahan sama sekali bukan solusi. Keduanya buruk untuk anak, juga untuk kita sendiri.

Bagaimana mengendalikan anak? Dengan mengenali kebutuhan mereka. Bayi menangis bukan tanpa sebab. Itu adalah bahasa komunikasi mereka. Mereka memberi tahu bahwa ada kebutuhan mereka yang tidak terpenuhi. Apapun yang terjadi mereka akan terus menangis sampai kebutuhan itu terpenuhi.

Kita harus mencari tahu apa kebutuhan itu. Ada yang berupa hal sederhana seperti kebutuhan ganti popok, minum susu, atau sekadar sebuah dekapan hangat. Ada yang lebih serius, seperti kebutuhan pengobatan.

Orang yang marah adalah orang yang tidak bisa menemukan kebutuhan anaknya. Mereka tak mencoba menyelami lebih dalam. Mereka ingin mencari jalan pintas dengan marah.

Makin besar anak, makin besar pula masalahnya. Makin besar anak, makin tak efektif upaya mengendalikan mereka dengan kemarahan. Alih-alih terkendali, kemarahan hanya membuat anak mengambil jarak dari orang tua. Pada level tertentu anak-anak bahkan bisa berbalik marah, melawan. Itu adalah awal dari hancurnya hubungan orang tua dengan anak.

Makin besar anak makin kompleks kebutuhannya. Artinya, makin perlu energi besar bagi orang tua untuk memahaminya. Prinsipnya tetap sama, bahwa orang tua harus terus berupaya memahami kebutuhan anak, sampai mereka dewasa. Sebab kebutuhan anak adalah tanggung jawab orang tua untuk memenuhinya.

Saya cukup banyak mendapat pengaduan dari para ibu tentang suami-suami yang tak bisa mengendalikan emosi pada anak-anak. Mereka sampai tega memukuli anak. Bahkan tak jarang anak dijadikan pelampiasan atas masalah yang sedang dia hadapi. Saya dimintai nasihat, bagaimana memperbaiki orang seperti ini. Sebenarnya ini bukan tipikal masalah laki-laki. Perempuan pun banyak yang begitu.

Bagaimana mengatasinya? Suami istri harus merenung ulang tentang bagaimana harus bersikap sebagai orang tua. Masalahnya banyak orang yang masuk ke pernikahan tanpa tahu cara menjadi orang tua. Mereka tidak menyiapkan diri.

Bagi mereka punya anak adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari dari kegiatan senggama, sama seperti orang harus berak sebagai konsekuensi makan. Padahal punya anak tentu memerlukan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar berak.

Saran saya, kalau tidak atau belum tahu cara mengasuh anak, pakailah kondom saat senggama.