2006, saya masih bekerja sebagai peneliti di Tohoku University, Sendai, Jepang. Anak pertama saya waktu itu berusia 4 tahun, sedang yang kedua masih 1 tahun. Saya membayangkan hidup saya di masa depan. Saya bukan lagi orang miskin, meski tidak kaya raya. Ada sedikit kekhawatiran, akankah anak-anak saya tumbuh jadi anak-anak yang manja karena terbiasa hidup enak?

Saya sempat berpikir untuk mendidik mereka hidup prihatin. Kata profesor saya, “Percuma, tidak akan berhasil. Kamu sendiri menikmati hidup enak. Tak mungkin kamu kembali hidup sebagai orang kere. Berpikirlah lebih kreatif. Doktor kok nggak kreatif.”

Kini, 13 tahun kemudian, si Sulung sudah hampir 18 tahun, dan si Bungsu 15 tahun. Anak sulung saya biasa naik angkot ke sekolah. Dia memaksa saya untuk membolehkan dia ke Jakarta naik KRL. Dia tidak pegang HP. Hanya pinjam tablet Samsung Galaxy yang saya beli 5 tahun yang lalu, layarnya sudah retak.

Dia baru minta ganti sepatu kalau sudah sobek, sepatu kets miliknya selalu dipakai dalam setiap kesempatan. Dia tidak tertarik untuk membeli sepatu cantik seperti umumnya anak gadis.

Adiknya juga begitu. Setiap saya tawari uang jajan, dia selalu menolak. HP juga tidak pegang. Untuk mempermudah komunikasi, dia bawa HP bekas kalau sedang bepergian, hanya untuk selama pergi itu saja. Saya tawari beli kacamata renang, dia bilang, yang ada sudah cukup. Saya tawari oleh-oleh saat saya akan ke Jepang, dia bilang tidak butuh apapun.

Yang saya bayangkan dulu tidak terjadi. Meski hidup tidak kekurangan, anak-anak saya tidak terikat pada benda. Kenapa? Karena saya ajarkan bahwa benda hanyalah fasilitas.

Saya punya HP karena butuh untuk komunikasi. Saya punya iPad, karena saya butuh untuk menulis. Harus selalu ada alasan kenapa saya membeli sebuah benda. Kalau tidak ada alasan, saya tidak akan beli. Jam tangan yang saya pakai sudah 16 tahun usianya, tidak saya ganti karena tidak rusak.

Nah, apa dasar untuk memutuskan membelikan barang untuk anak? Kebutuhan. Kebutuhan siapa? Kebutuhan anak, bukan kebutuhan emaknya. Ada banyak belanja rumah tangga, juga belanja untuk anak yang basisnya adalah untuk memenuhi kebutuhan hiburan emak, yaitu belanja.

Ketika seseorang punya bayi, ia membeli setiap pakaian bayi yang dia anggap cantik, menggemaskan. Ia beli melebihi kebutuhan bayinya. Pakaian bayi hanya bisa dipakai beberapa bulan. Tapi para ibu membeli begitu banyak pakaian. Lalu pakaian itu hanya dikenakan satu dua kali, bahkan ada yang tak terpakai sama sekali, karena bayi sudah keburu besar.

Putuskan untuk membeli barang karena ada kebutuhan. Kita mengenal berbagai jenis kebutuhan. Ada kebutuhan dasar, yaitu makan dan pakaian. Dalam kedua hal itu, tetapkan batasan, bahwa kita membeli karena butuh.

Kalau kita takar dengan kebutuhan, kita akan segera menyadari bahwa kebutuhan kita sebenarnya tak banyak. Coba hitung dengan benar, berapa lembar baju yang sebenarnya kita atau anak kita butuhkan? Lalu periksa lemari kita, ada berapa lembar baju di situ? Coba cek pula, ada berapa banyak baju yang nyaris tak pernah kita pakai?

Demikian pula halnya dengan makan. Berapa banyak kebutuhan makan kita? Berapa porsi yang dibutuhkan untuk makan 3 kali sehari? Coba periksa isi kulkas dan lemari. Cek ulang, apakah barang-barang itu dibeli karena kebutuhan, atau sekadar menuruti keinginan?

Lalu, ada kebutuhan yang bukan kebutuhan pokok, misalnya mainan. Menurut pengalaman saya, anak-anak sebenarnya tak begitu butuh mainan. Kalau ada setumpuk mainan, mereka hanya akan main dengan dua atau tiga mainan. Selebihnya teronggok saja. Anak-anak lebih banyak bermain dengan imajinasi ketimbang dengan mainan.

Ketika anak-anak berimajinasi, maka semua bisa jadi mainan. Mainan yang meniru bentuk nyata, seperti obeng-obengan, atau dapur-dapuran malah tidak menarik untuk anak-anak, karena tak lagi imajinatif. Ketimbang membelikan banyak mainan, lebih baik Anda banyak-banyak mengembangkan ruang imajinasi untuk anak-anak, dengan banyak-banyak berinteraksi dengan mereka.

Apapun yang kita periksa soal kebutuhan anak, kesimpulan kita akan sama, yaitu kebutuhan mereka tak banyak. Anak hanya butuh selembar selimut, yang mungkin akan dia bawa ke mana pun ia pergi. Jadi ia tak butuh 5 selimut. Anak selalu punya barang favorit, dia akan pakai barang itu terus, dan tidak begitu menghiraukan barang lain, karena tidak dia butuhkan.

Perlukah anak diberi HP? Silakan pertimbangkan sendiri. Untuk apa HP? Untuk komunikasi. Dengan siapa? Dengan siapa anak kita perlu berkomunikasi?

Berbagai platform media sosial menetapkan batas umur untuk punya akun. Artinya, ada anak yang memang belum layak punya akun media sosial. Mereka belum layak untuk berkomunikasi secara luas tanpa batasan. Jangan biarkan mereka main media sosial sebelum waktunya. Jangan berikan HP sebelum waktunya.

Lebih penting lagi, barang-barang itu sebagian besar adalah barang yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan fisik-biologis anak. Pastikan bahwa Anda menyediakannya untuk memenuhi kebutuhan itu, bukan kebutuhan yang lain.

Maksudnya bagaimana? Contohnya pakaian. Itu adalah benda untuk memenuhi kebutuhan fisik, menutupi tubuh. Jangan jadikan pakaian itu untuk memenuhi kebutuhan psikis, misalnya agar mendapat pengakuan. Pakai baju tertentu agar dianggap keren.

Itu semua harus dimulai dari Anda sendiri. Sadarilah bahwa barang-barang yang Anda pakai adalah alat untuk membantu kehidupan Anda, bukan untuk memuaskan ego Anda. Perlakukan barang-barang itu sebagai alat, bukan tujuan.

Alat memudahkan hidup Anda, bukan justru membuat Anda memaksakan diri untuk membelinya. Juga bukan sesuatu yang meninggikan derajat Anda di hadapan orang lain.

Anak akan terikat pada materi sebagaimana Anda terikat pada materi. Seperti kata profesor saya tadi, anak tidak mungkin diajak prihatin kalau orang tua mereka tidak prihatin. Sama halnya, kalau orang tuanya diperbudak materi, anak juga akan begitu. Kalau orang tua hidup dengan menjadikan HP, pakaian, kendaraan, sebagai alat untuk menunjukkan status sosialnya, anak pun akan demikian.

Sesederhana itu.